Kolong jembatan itu punya jam tersendiri, dan jamnya bukan jam kota. Di atas, di jalan layang, mobil-mobil masih bergegas seolah dunia akan kiamat kalau mereka terlambat lima menit. Tapi di bawah, di antara tiang-tiang beton yang basah dan tumpukan kardus tua, waktu mengalir seperti air yang lupa ke mana harus pergi—lambat, dingin, dan sedikit putus asa.
Ki Lawu turun ke kolong itu bersama Pak Karyo, yang berjalan di depannya dengan senter kecil dan sapu lidi yang tak pernah lepas dari tangannya, seolah sapu itu sudah jadi bagian dari tubuhnya. "Mereka nungguin Ki dari semalam," kata Pak Karyo pelan, suaranya serak oleh rokok dan subuh-subuh dingin bertahun-tahun. "Sejak yang penjaga kenari ilang dimakan itu, mereka takut. Takut banget. Tapi mereka nggak mau pergi dari sini, karena—ya, mau ke mana lagi."
Roh-roh itu menunggu di tempat paling dalam, di balik tiang tempat lampu jalan tak sampai. Penunggu sumur tua yang dulu menjaga mata air kampung nelayan, kini meringkuk seperti orang tua yang kedinginan, wujudnya bergeser antara perempuan tua berkebaya basah dan sekadar bayangan yang berbau lumut. Dhanyang sungai kecil yang sungainya sudah dibeton, duduk bersila di atas genangan, tubuhnya seperti air yang lupa cara mengalir. Dan beberapa lagi yang lebih samar, lebih lapuk, roh-roh kecil tanpa nama yang hampir tak bisa lagi Ki Lawu bedakan satu dari yang lain.
Mereka semua menatapnya. Dan dalam tatapan itu, Ki Lawu membaca sesuatu yang membuat dadanya berat: harapan. Harapan yang menyakitkan, karena ia tahu seberapa sedikit yang ia punya untuk diberikan.
"Penjaga dari Sumberwangi," kata penunggu sumur, suaranya gemerisik seperti timba ditarik dari kedalaman. "Kau datang. Kau selalu datang." Ia mengangkat tangan yang lebih mirip kabut. "Yang lain pergi dan tak kembali. Kau pergi, lalu kembali. Kau membawa tanah pot yang membuat kami ingat nama kami sebentar. Kau menengahi ketika kami bertengkar memperebutkan pojok yang tipis." Ia menunduk. "Maka kami sudah sepakat. Kami ingin kau menjadi tetua kami. Pemimpin. Yang memutuskan, yang menjaga, yang kami panggil ketika takut."
Ki Lawu berdiri diam cukup lama sampai tetesan air dari atas jembatan jatuh di bahunya tiga kali. Ia ingin menolak. Ada kata penolakan di ujung lidahnya, sopan dan masuk akal: aku sendiri sekarat, aku lupa lebih banyak tiap hari, aku tak punya tanah untuk diriku sendiri, bagaimana mungkin aku memimpin kalian yang tersesat ketika aku pun tersesat?
Tapi ia menatap wajah-wajah itu, dan kata penolakan itu mati di mulutnya seperti benih yang jatuh di aspal. Ia teringat Sumberwangi—bukan beringinnya, bukan sumber airnya yang namanya sudah ia lupa, tapi rasanya menjadi tempat berlindung. Rasanya menjadi pohon tempat orang berteduh ketika hujan. Ia tak pernah memilih menjadi dhanyang Sumberwangi. Ia dilahirkan jadi itu, oleh cinta warga pada tanah yang mengeras selama dua belas keturunan. Tapi ini—ini ia bisa pilih. Untuk pertama kalinya, menjaga bukan takdir yang ditimpakan padanya. Ini tawaran yang ia terima dengan mata terbuka.
"Aku terima," katanya akhirnya, dan suaranya tergetar bukan karena lemah, tapi karena ada sesuatu yang pecah dengan lembut di dalam dadanya. "Tapi dengan satu syarat. Aku tidak akan memimpin kalian seperti raja memimpin abdi. Aku akan memimpin seperti petani tua mengajari yang muda. Karena aku tidak akan selalu di sini." Ia menelan ludah. "Aku memudar. Kalian tahu itu. Maka kita harus belajar cara agar kalian tak butuh aku untuk bertahan."
Ia berjongkok di tengah lingkaran roh-roh itu, dan dari saku kemejanya—batik almarhum suami Bu Sari, yang sudah penuh tambalan—ia mengeluarkan kantong kecil berisi tanah hidup. Tanah dari pot yang ia rawat di kost, yang sudah mulai bernapas, yang penuh cacing kecil dan akar halus dan napas yang nyaris tak terasa tapi ada. "Yang membuat kalian lapar," katanya, "adalah kelaparan akan diakui. Tanah tak mengenal kalian lagi, manusia tak percaya kalian lagi, maka kalian melayang tanpa pijakan sampai lupa siapa kalian. Tapi dengarkan baik-baik, karena ini yang kupelajari dengan susah payah: kita tak harus menunggu tanah lama mengakui kita. Kita bisa menumbuhkan tanah baru yang belajar mengenal kita."
Ia mengambil sejumput tanah dan menaruhnya di telapak penunggu sumur. "Bagilah," katanya. "Sedikit pada masing-masing. Rawat ia. Jangan minta apa-apa darinya dulu—hanya hadir, hanya jaga, seperti kalian dulu menjaga sumur dan sungai. Tanah ini akan tumbuh, dan tumbuh berarti mengenal. Dan ketika ia mengenal kalian, kalian tak lapar lagi. Kalian punya rumah, sekecil apa pun."
Roh-roh itu menatap segumpal tanah di telapak penunggu sumur seolah menatap api di malam yang sangat dingin. Untuk waktu yang lama tak ada yang berani menyentuhnya, takut ia akan lenyap seperti semua harapan lain yang pernah mereka pegang. Lalu dhanyang sungai mengulurkan tangannya yang seperti air, dan menerima sejumput. Lalu yang lain. Lalu yang lain lagi. Satu per satu, di kolong jembatan yang basah dan dilupakan, roh-roh tersesat membagi segenggam tanah seolah membagi roti terakhir.
Pak Karyo berdiri di pinggir, senternya menyala redup, dan ia menyaksikan dengan mata yang berkaca-kaca. "Saya udah lama lihat yang halus, Ki," bisiknya. "Tapi baru sekarang saya lihat yang halus punya... harapan. Mereka biasanya cuma nunggu. Nunggu lupa, nunggu lapar, nunggu ilang. Sekarang mereka kayak punya kerjaan."
Di perjalanan pulang, Nayla menemui mereka di mulut gang, ponsel di tangan, alis berkerut karena mereka pergi tanpa kabar. Tapi ketika ia melihat wajah Ki Lawu—wajah yang lelah tapi tegak, wajah orang yang baru saja memikul sesuatu yang berat dengan sukarela—ia menelan omelannya. Ia berjalan di samping dhanyang tua itu dalam diam beberapa langkah, lalu berkata pelan, "Bapak nggak ngomongin pulang lagi."
Ki Lawu menoleh, terkejut. "Apa?"
"Dua minggu ini," kata Nayla, menatap lurus ke depan, ke lampu-lampu kota yang mulai menyala. "Dulu tiap hari Bapak nyebut Sumberwangi. Tanah stek, jalan pulang, ongkos ke kampung. Sekarang Bapak ngomongin pot, roh kolong, gang. Bapak lagi bangun sesuatu di sini, Pak. Dan saya nggak yakin Bapak sadar."
Ki Lawu membuka mulut untuk membantah, lalu menutupnya lagi. Karena gadis itu benar, dan ia—yang berusia ratusan tahun, yang membaca niat orang lewat bau—ternyata adalah yang terakhir mengenali niatnya sendiri. Ia menatap gang sempit yang dulu asing itu, lampu kuning kost Bu Sari di ujungnya, dan untuk pertama kalinya ia tak buru-buru menyangkal bahwa tempat itu mulai terasa seperti sesuatu yang layak dijaga sampai habis.