Mereka menggelar semuanya di lantai kamar Nayla malam itu—peta tabir bocor di kertas kalkir, foto-foto dari map Sumberwangi yang Nayla potret diam-diam dengan ponselnya, masterplan superblok yang ia hafal garisnya, dan diagram aturan makhluk lapar dari malam tanpa tidur itu. Ki Lawu duduk bersila di antara semuanya, Pak Karyo berjongkok di pojok dengan secangkir kopi, Bu Sari di kursi dengan benang dan jarum yang lupa ia jahit. Untuk pertama kalinya, semua kepingan ada di satu ruangan.
Nayla yang menyusunnya, karena ia yang paling bisa melihat pola. Ia meletakkan foto beringin Sumberwangi di tengah, lalu peta titik-titik tabir bocor di sekelilingnya, lalu masterplan superblok di tepi. "Coba lihat ini sebagai satu gambar," katanya. "Bukan tiga masalah. Satu."
Dan ketika dilihat sebagai satu gambar, polanya muncul, jelas dan dingin.
"Cakra Bumi nggak menggusur untuk membangun," kata Nayla, jarinya menelusuri garis-garis. "Kalau mereka mau bangun, mereka pilih lahan termurah, terstrategis, paling untung. Tapi lihat yang mereka kejar—" jarinya menyentuh titik demi titik di peta tabir, "—kolong jembatan tak berharga. Sumur tua di kampung nelayan. Lahan sengketa yang ribet hukumnya. Mata air di desa terpencil yang proyeknya malah mangkrak. Tak ada satu pun dari ini yang masuk akal sebagai bisnis properti. Tapi semuanya masuk akal kalau yang mereka cari bukan tanahnya."
"Tapi apa yang ada di bawahnya," Ki Lawu menyelesaikan pelan, menatap catatan margin yang Nayla bacakan: yang di bawah tidak boleh menunggu lebih lama. "Titik-titik tabir tipis. Tempat-tempat yang dilupakan, yang diuruk, tempat dunia kita dan yang seberang bersentuhan. Mereka tidak membeli tanah. Mereka membeli pintu."
Pak Karyo, yang sejak kecil melihat yang halus dan paling lama hidup di pojok-pojok kota, berkata dari sudutnya dengan suara serak, "Tiap kali tanah keramat diuruk, robekannya nggak nutup, Ki. Saya lihat sendiri. Pojok yang dulu cuma dingin biasa, sekarang dinginnya tajam. Yang dulu cuma angker, sekarang lapar. Tiap proyek mereka ninggalin robekan yang makin gede."
Nayla mengambil pensil dan, di atas kertas kalkir baru, mulai menarik garis dari titik tabir ke titik tabir, menghubungkannya seperti ia menghubungkan titik fondasi dalam denah. Dan ketika garis-garis itu selesai, di tengah-tengah seluruh lingkaran, jatuh satu titik—pusat superblok Cakra Bumi, jantung proyek mereka, menara yang akan jadi termegah di kota.
Tangan Nayla berhenti. "Dhe," katanya, suaranya tipis. "Lihat. Semua titik tabir yang mereka robek—mereka mengelilingi ini. Pusat superblok ini." Ia menelan ludah. "Mereka nggak cuma bikin lubang di sana-sini. Mereka bikin pola. Mereka merobek lingkaran tabir yang mengepung satu titik pusat."
Ki Lawu menatap garis-garis itu, dan sesuatu yang sangat tua di dalam dirinya, sesuatu yang lebih dulu ada daripada tubuh manusia ini, terbangun penuh dan dingin. "Bukan pagar untuk menahan yang di luar," katanya pelan. "Pagar untuk membuka yang di dalam. Bayangkan menusuk kulit dengan banyak jarum sekaligus, melingkar, sampai lingkaran kulit di tengahnya bisa diangkat—dibuka—seperti pintu. Mereka tidak menutup tabir. Mereka membukanya. Satu mulut besar, di jantung kota, dibuka pelan-pelan dari banyak titik sekaligus."
Ruangan itu hening. Bu Sari berhenti pura-pura menjahit. Pak Karyo memegang kopinya dengan kedua tangan seolah mencari kehangatan.
"Tapi kenapa," kata Nayla akhirnya, dan inilah pertanyaan yang menggantung di atas mereka semua, lebih besar dari ketakutan. "Kenapa perusahaan properti mau membuka mulut tabir? Apa untungnya buat mereka? Perusahaan butuh uang, bukan—bukan robekan ke dunia gaib. Ini nggak masuk akal buat manusia."
"Ya," kata Ki Lawu, dan suaranya turun jadi nyaris bisikan, karena ia telah sampai pada bagian yang paling membuatnya takut, bagian yang baunya tercium di balik parfum Renata, bagian yang catatan marginnya ditulis dengan tangan marah yang bukan tangan akuntan. "Itu tidak masuk akal untuk manusia. Maka mungkin yang menggerakkan mereka bukan sepenuhnya manusia."
Ia menatap mereka satu per satu—Nayla yang memucat, Bu Sari yang menggenggam jarumnya, Pak Karyo yang menunduk. "Pikirkan," katanya. "Renata membawa jejak dingin makhluk itu di tubuhnya. Catatan di map Sumberwangi terburu-buru, marah, seolah ada yang menuntut, yang di bawah tidak boleh menunggu. Dan tiap penggusuran, tiap robekan, membuat makhluk lapar lebih kuat, lebih besar, lebih mampu menembus pagar." Ia menutup matanya. "Bagaimana kalau perusahaan ini tidak membuka tabir karena keserakahan biasa? Bagaimana kalau ada yang mengendalikan mereka dari balik—sesuatu yang lapar, yang menggunakan tangan manusia, uang manusia, izin proyek manusia, untuk melakukan apa yang ia sendiri tak cukup kuat lakukan: merobek kurungannya sendiri dari dalam dunia kita?"
Nayla menatap peta itu—garis-garis melingkar, pusat yang terkepung, foto beringin yang ditebang di tengah, tiga kata yang ditulis dengan tinta marah. Ia teringat tengkuknya yang meremang di dekat Renata, sosok tinggi tanpa wajah di cermin spion, wajah ibu Ki Lawu yang lenyap demi menariknya menjauh dari mulut yang menganga. Semua kepingan yang berbulan-bulan terasa seperti kebetulan kini bertaut menjadi satu garis yang lurus dan dingin, dari desa kecil di kaki gunung sampai ke menara tertinggi yang akan dibangun di jantung kota.
"Jadi pertanyaannya," kata Nayla pelan, menatap pusat lingkaran di petanya, titik tempat segalanya menuju, "bukan apa yang dicari Cakra Bumi." Ia mengangkat wajahnya, dan untuk pertama kalinya, ia melihat seluruh bentuk dari hal yang mereka lawan—bukan satu makhluk yang menggaruk dinding, bukan satu manajer dingin, tapi sesuatu yang membentang dari tunggul beringin sampai ke gedung pencakar langit, dari luka satu dhanyang sampai ke jantung satu kota. "Pertanyaannya: siapa yang menyuruh mereka mencarinya." Di luar jendela, lampu-lampu kota berkelip sampai ke cakrawala, jutaan rumah, jutaan orang yang tidur tak tahu, dan di suatu tempat di tengah-tengah semua cahaya itu, di jantung yang terkepung garis-garis di peta Nayla, sesuatu yang tua dan lapar sedang menunggu lingkarannya selesai.