Di firma, Nayla telah belajar menjadi tak terlihat. Anak magang yang merapikan arsip, mengambilkan kopi, mencetak gambar—latar belakang yang berguna, kamuflase yang sempurna. Dan dari balik kamuflase itu, hari demi hari, ia menyusup lebih dalam ke lemari-lemari dokumen yang seharusnya tak ia sentuh.
Ia mencari satu hal: bukti yang menghubungkan Cakra Bumi dengan titik-titik tabir di petanya. Tapi siang itu, ketika ia ditugaskan memindahkan map-map lama dari ruang arsip lantai bawah—gudang berdebu yang jarang dimasuki orang—ia menemukan sesuatu yang membuat napasnya tercekat di tenggorokan.
Map itu tebal, sudutnya sobek, labelnya diketik dengan mesin tik tua: PROYEK SUMBERWANGI — FASE AKUISISI LAHAN. Nama itu—nama desa Ki Lawu, nama yang berbulan-bulan ini ia dengar diucapkan dengan rindu dan duka—di sini, di gudang arsip firma Jakarta, sebagai satu map proyek di antara ratusan, dingin dan birokratis seperti urusan apa pun.
Nayla menengok kanan-kiri. Gudang sepi. Ia menarik map itu dan membukanya di atas tumpukan kardus, jari-jarinya gemetar membalik halaman.
Isinya, sebagian besar, adalah dokumen yang ia harapkan: peta lahan, daftar sertifikat, surat ganti rugi, foto-foto desa sebelum penggusuran. Ia melihat foto beringin keramat itu—masih berdiri, rimbun, megah, sebuah pohon yang seukuran rumah, dengan akar gantung seperti tirai dan tanah lapang di bawahnya tempat warga jelas pernah berkumpul. Melihatnya, Nayla merasa aneh, hampir bersalah, seperti melihat foto seseorang sehat sebelum kabar kematiannya. Inilah rumah Ki Lawu. Inilah yang ditebang.
Tapi yang membuat Nayla berhenti, yang membuat seluruh tubuhnya dingin, bukan foto beringin. Itu adalah catatan-catatan di margin dokumen akuisisi, ditulis tangan dengan tinta yang masih cukup baru, perintah-perintah internal yang tak masuk akal untuk proyek properti biasa.
"Percepat akuisisi lahan inti (titik mata air) — prioritas mutlak, abaikan nilai pasar." Mengapa abaikan nilai pasar? Tak ada pengembang waras yang membayar lebih dari nilai sebuah lahan kecuali ada yang lebih berharga di sana daripada tanahnya.
"Urukan harus mencapai kedalaman X meter — bukan untuk fondasi, untuk menutup [coretan]." Kata di belakang "menutup" dicoret tebal sampai robek, tapi Nayla, dengan mata seorang arsitek yang terbiasa membaca gambar yang sengaja dikaburkan, bisa menebak bentuk huruf di baliknya. Bukan "sumur." Bukan "gua." Sesuatu dengan huruf-huruf yang lebih asing.
Dan yang terakhir, yang ditulis dengan tangan berbeda, lebih tegas, hampir marah: "Jangan tunda. Yang di bawah tidak boleh menunggu lebih lama."
Yang di bawah. Nayla membaca tiga kata itu berulang kali. Bukan air. Bukan mineral. Bukan apa pun yang dikejar perusahaan properti. Penggusuran Sumberwangi bukan tentang membangun apa-apa di atasnya—proyeknya bahkan mangkrak. Penggusuran itu tentang membuka sesuatu di bawah. Mereka menebang beringin, mengeringkan mata air, menguruk tanah keramat—bukan untuk properti, tapi untuk merobek lapisan yang menutup sesuatu, dan terburu-buru melakukannya, seolah mengejar.
Luka Ki Lawu dan tabir yang bocor di kota bukan hanya satu akar. Mereka satu rencana, satu desain, dan desa kecil di kaki gunung itu mungkin tempat semuanya bermula.
"Itu bukan map untuk anak magang."
Nayla membeku. Ia berbalik, dan Pak Hendra berdiri di ambang pintu gudang, tangan di kusen, menatapnya. Tapi tatapan itu bukan tatapan orang yang memergoki pencuri. Lebih lelah dari itu. Lebih sedih.
Nayla membuka mulut untuk mengarang alasan—saya cuma merapikan, Pak, salah ambil—tapi Pak Hendra mengangkat tangan, pelan, dan ia menutup mulutnya.
Arsitek tua itu masuk ke gudang, menutup pintu di belakangnya, dan untuk waktu yang lama ia hanya menatap map terbuka di atas kardus, foto beringin yang sudah tak ada. Ketika ia bicara, suaranya rendah, seperti orang yang menyimpan kalimat ini bertahun-tahun dan baru sekarang menemukan seseorang yang akan mendengarnya.
"Saya yang menggambar masterplan Sumberwangi," katanya. "Dua belas tahun lalu. Anak buah saya yang menghitung kedalaman urukannya." Ia menelan ludah. "Saya tidak tahu untuk apa kedalaman itu. Saya bertanya, dan dijawab: bukan urusanmu. Gambar saja. Maka saya gambar. Saya punya istri, anak, cicilan. Saya gambar." Ia menatap Nayla. "Itu bukan terakhir kalinya saya menggambar sesuatu yang saya tahu salah, dan diam."
"Pak," kata Nayla pelan. "Apa yang ada di bawah Sumberwangi?"
"Saya tidak tahu," kata Pak Hendra, dan kejujurannya terdengar lebih menakutkan daripada kebohongan. "Saya tidak mau tahu. Tapi saya tahu satu hal—proyek-proyek yang dikejar dengan cara begini, yang abaikan untung-rugi, yang diburu-buru seolah ada tenggat yang tak tertulis—itu selalu datang dari satu perintah, dari atas, dari orang yang tak pernah saya temui." Ia mendekat, menurunkan suaranya hingga nyaris bisikan. "Saya tidak tahu siapa kamu sebenarnya, Nak. Tapi saya tahu kamu mencari sesuatu yang benar, dan kamu mengingatkan saya pada diri saya yang dulu, sebelum saya belajar diam." Ia menutup map itu dan mendorongnya ke arah Nayla. "Ada yang tidak beres dengan proyek ini. Dengan semua proyek mereka. Saya tidak bisa membuktikannya—belum—tapi saya merasakannya tiap hari, di gedung dingin ini, dekat orang-orang dingin itu." Ia menatap Nayla lurus. "Hati-hati. Terutama dengan Bu Renata. Jangan pernah sendirian dengannya. Dan kalau kamu menemukan jalan untuk menghentikan ini—jalan yang benar—" ia berhenti, dan untuk sesaat lelah di matanya digantikan sesuatu yang lebih muda, sesuatu seperti harapan yang lama terkubur, "—datanglah ke saya. Saya sudah terlalu lama diam. Saya tua, tapi belum mati."
Lalu ia membuka pintu, melihat ke koridor, dan keluar, meninggalkan Nayla berdiri di gudang berdebu dengan map Sumberwangi di tangan, jantung berdebar, dan kesadaran baru yang dingin merayap di tulang punggungnya—bahwa ia tak lagi sendirian di sarang serigala, dan bahwa sesuatu yang dikubur di bawah desa Ki Lawu jauh lebih besar daripada yang berani mereka bayangkan.