Yang pertama membangunkannya bukan matahari, melainkan sepatu.
Seseorang lewat tergesa dan menyenggol bahunya, lalu menggumamkan sesuatu yang Ki Lawu tangkap maknanya bukan dari kata—ia memang bisa mengerti bahasa manusia, itu pemberian sejak dulu—melainkan dari nada: jijik bercampur takut. Orang itu mengira ia pemabuk. Atau mayat. Atau sesuatu yang lebih baik tidak disentuh.
Ki Lawu mendorong tubuhnya duduk. Gerakan sederhana itu terasa seperti mengangkat batu candi. Ia menatap kedua tangannya dan tertegun. Tangan tua. Kulit yang mengendur, urat yang menonjol, kuku yang kotor oleh lumpur got. Tangan lelaki yang sudah hidup lima puluh tahun, padahal ia sudah hidup lima belas kali lipat dari itu dan tak pernah punya tangan sama sekali.
Ia meraba wajahnya. Ada janggut tipis. Ada pipi yang cekung. Ada bibir yang pecah-pecah dan kering. Ia membuka mulut dan suara yang keluar membuatnya sendiri kaget—serak, berat, manusiawi.
"Ini ujian," katanya pada lorong yang tak menjawab. "Tentu ini ujian."
Selama berabad-abad ia mengenal hukum dunianya: kadang penjaga diuji. Disuruh menanggalkan wujud, hidup sebentar sebagai yang dijaga, agar paham apa rasanya menjadi kecil dan fana. Ia pernah dengar dhanyang gunung sebelah pernah dipaksa jadi rusa semusim sebagai hukuman karena lalai. Maka Ki Lawu memutuskan: ini ujian, ini sementara, ia hanya perlu bersabar, menjaga adab, dan menunggu sampai yang di atas memanggilnya pulang.
Dengan keyakinan itu ia berdiri. Dunia berputar. Ia mencengkeram dinding berlumut, dan di situ ia mencoba memanggil tanah—kebiasaan lama, seperti orang menarik napas. Ia rentangkan kesadarannya ke bawah, mencari arus air, mencari napas akar, mencari satu saja sapaan dari tanah yang mau mengenalnya.
Tak ada. Di bawah lorong ini bukan tanah. Ada lapisan keras, lalu pipa, lalu lapisan keras lagi, lalu tanah yang sudah lama tidak bernapas—tanah yang dibungkam, ditindih, dilupakan. Tanah yang tak punya lagi tenaga untuk menjawab siapa pun, apalagi seorang asing.
Untuk pertama kalinya, keyakinan Ki Lawu retak. Kalau ini ujian, di mana batas waktunya? Kalau ini hukuman, apa salahnya? Dan kenapa, kenapa ia tak bisa merasakan satu pun benang yang menghubungkannya pulang?
Ia melangkah keluar lorong, dan dunia menamparnya.
Jalan di ujung gang penuh sesak oleh benda-benda yang bergerak sendiri. Kotak-kotak besi mengkilap meluncur cepat sambil mengaum, masing-masing menelan satu atau dua manusia di dalam perutnya. Ada pula benda lebih kecil dan lebih garang, beroda dua, yang menyelip-nyelip di antara yang besar sambil mengeluarkan suara seperti tawon murka. Ki Lawu mundur selangkah, punggungnya menempel di dinding. Ia tidak tahu itu mobil. Ia tidak tahu itu motor. Yang ia tahu, kalau benda-benda itu menabraknya, tubuh daging barunya yang rapuh ini akan hancur.
Di seberang, sebuah tiang menyala merah. Lalu semua benda besi berhenti, patuh, seperti kerbau yang takut pada gembala yang tak kelihatan. Lalu tiang itu menyala hijau, dan mereka melaju lagi. Ki Lawu memandanginya lama, mencari roh apa yang bersemayam di tiang itu hingga ribuan besi mau tunduk. Ia tak menemukan roh apa pun. Hanya cahaya bodoh yang berganti warna. Dan anehnya, justru cahaya bodoh itulah yang ditaati, bukan dia, bukan tanah, bukan leluhur. Itu membuatnya merasa sangat, sangat tua dan sangat tak berguna sekaligus.
Perutnya berbunyi. Ia menunduk, terkejut. Lapar. Ia, yang tak pernah makan selama ratusan tahun kecuali menyesap rasa syukur warga yang menaruh sesaji, kini merasakan lubang nyata di dalam perut daging yang menuntut diisi. Ia tidak punya apa-apa. Tidak ada sesaji. Tidak ada warga yang mengenalnya. Tidak ada nama yang bisa ia sebut untuk meminta tolong.
Seorang anak kecil lewat sambil menggenggam bungkusan yang menguarkan aroma gorengan. Ki Lawu refleks mengangkat tangan, hendak memberkati anak itu—kebiasaan ratusan tahun, memberi untung kecil pada yang lewat. Tapi begitu ia mengalirkan sedikit niat baik, sedikit saja, ia merasakan tubuhnya seperti ditarik dari dalam. Pandangannya menggelap di pinggir, lututnya goyah. Ia cepat-cepat menarik kembali niatnya, dan kegelapan itu surut.
Ia berdiri terengah, menyadari sesuatu yang membuat bulu kuduk tubuh barunya berdiri: di sini, di kota ini, tanpa tanah yang mengakuinya, bahkan berkah sekecil itu pun dibayar dengan potongan dari nyawanya sendiri.
"Ini bukan ujian," bisiknya akhirnya, dan suaranya tenggelam dalam dengung kota. "Ini... aku tersesat."
Ia, Ki Lawu, dhanyang Sumberwangi yang dimuliakan dua belas keturunan, penjaga sumber air dan pengatur rezeki kecil, kini hanyalah seorang lelaki tua kelaparan tanpa nama, tanpa tanah, dan tanpa jalan pulang, berdiri kebingungan di tepi jalan yang tak peduli ia hidup atau mati. Dan jauh di lubuk yang paling dalam, di tempat yang dulu terhubung ke akar beringin, ia merasakan sesuatu yang lain lagi—dingin tipis yang ikut menyeberang bersamanya, yang kini entah di mana, mengintai di kota yang sama. Tapi tubuhnya terlalu lemah untuk memikirkan itu sekarang. Sekarang ia hanya perlu bertahan sampai matahari berikutnya.