Mereka punya cukup uang akhirnya. Itu terjadi pada hari yang seharusnya cerah—gaji magang pertama Nayla cair, ditambah sisa tabungan, ditambah amplop yang diam-diam diselipkan Bu Sari ("buat ongkos Pakdhe, jangan nolak, ini bukan utang"). Cukup untuk dua tiket bus malam ke kaki gunung dan beberapa hari di sana—cukup untuk Ki Lawu pergi mengambil yang ia sebut "stek tanah," segenggam tanah dari dekat tunggul beringin yang mungkin masih mengenalnya, yang bisa jadi inti dari pagar tanah hidup yang lebih kuat di kota.
"Bukan untuk pulang," Ki Lawu menegaskan, sambil Nayla mengepak ransel kecil. "Aku sudah tahu Sumberwangi tak bisa kupulangi lagi. Tapi tanah di sana—dekat tunggul—mungkin masih ingat aku. Kalau ya, segenggam saja bisa jadi ragi, seperti ragi tempe. Sedikit tanah yang mengenalku bisa membuat banyak tanah baru lebih cepat menapas. Itu yang kita butuhkan untuk pagar yang sesungguhnya."
Mereka berencana berangkat malam itu. Bus pukul sembilan dari terminal. Pukul tujuh, langit mulai mendung—bukan badai, hanya gerimis tipis Jakarta yang malas, jenis hujan yang turun setengah hati. Tapi Ki Lawu, yang sedang memeriksa pot-pot pagar untuk terakhir kali sebelum pergi, merasakan tengkuknya meremang, dan ia tahu gerimis tipis ini bukan sekadar gerimis.
Hujan, betapapun kecil, menipiskan tabir. Air adalah pintu. Dan makhluk lapar tahu mereka akan pergi—entah bagaimana ia tahu, mungkin lewat jejak di firma, lewat Renata, lewat pantulan-pantulan kecil yang ia gunakan untuk mengintai—dan ia memilih malam ini, malam hujan, malam ketika benteng pertamanya akan ditinggalkan penjaganya.
Dinginnya datang pukul delapan, merayap dari ujung gang seperti kabut yang salah arah. Pot-pot pagar di sisi terjauh kost mulai berdesir, daun-daunnya menggigil bukan karena angin. Penunggu sumur, yang sekarang tinggal di pojok pekarangan dekat pot terbesar, muncul dengan bentuk yang menciut ketakutan. "Dia datang," bisiknya. "Dia tahu kau mau pergi. Dia menunggu pagar ini melemah."
Ki Lawu berdiri di tengah pekarangan, ransel masih tersampir di bahu, tiket bus di kantong dadanya, dan ia menatap ke arah dingin yang datang. Di balik gerimis, di mulut gang, udara mengental jadi sesuatu yang lebih gelap dari malam, dan dari sana ia merasakan makhluk itu menguji pagar—bukan satu titik, tapi seluruh keliling, menggaruk di sana-sini, mencari pot yang paling lemah, daun yang paling layu, sudut yang paling kurang dirawat.
"Bapak," kata Nayla dari ambang pintu, ransel di tangannya, wajahnya pucat. "Busnya jam sembilan. Kalau kita nggak berangkat sekarang—"
Ki Lawu tak menjawab langsung. Ia berlutut di samping pot pagar yang paling layu—pot di sudut utara, yang tanahnya paling tipis, yang akan jebol pertama—dan menyentuhnya dengan kedua tangan. Ia mencurahkan sedikit dirinya ke tanah itu, menebalkannya, dan pot itu menapas lebih kuat, daunnya tegak lagi, dan di mulut gang dingin itu mundur sejengkal. Tapi Ki Lawu merasakan butir di jam pasirnya turun, dan ia tahu—dengan kepastian yang dingin seperti makhluk itu sendiri—bahwa jika ia pergi malam ini, jika ia naik bus itu dan meninggalkan pagar tanpa penjaga yang bisa menebalkannya saat hujan menipiskan tabir, makhluk itu akan menemukan titik lemahnya, dan akan masuk, dan kost ini—Bu Sari, Nayla yang tertinggal jika ia ikut, penunggu sumur, dhanyang sungai, seluruh tanah hidup yang mereka tumbuhkan dengan susah payah—semuanya akan jadi suapan.
Ia berdiri perlahan. Hujan membasahi rambut tuanya. Tiket bus terasa berat di kantong dadanya, dua lembar kertas yang adalah satu-satunya celah menuju tanah yang mengenalnya.
"Nayla," katanya, dan suaranya tenang dengan ketenangan orang yang baru membuat keputusan besar tanpa drama, hampir tanpa sadar bahwa ia membuatnya. "Kita tidak berangkat malam ini."
"Apa? Tapi—Bapak butuh tanah itu, Bapak sendiri yang—"
"Tanah itu masih akan ada di sana besok," kata Ki Lawu. "Tunggul itu sudah membusuk bertahun-tahun, satu malam lagi tak ada bedanya untuknya. Tapi rumah ini—" ia menunjuk kost yang lampunya kuning hangat di balik gerimis, Bu Sari yang mengintip cemas dari jendela dapur, pot-pot pagar yang bernapas, "—rumah ini butuh penjaganya malam ini. Kalau aku pergi sekarang, mungkin tak ada lagi rumah untuk kembali nanti."
Ia menanggalkan ransel dari bahunya dan meletakkannya di teras, di bawah atap, kering. Lalu ia berbalik menghadap mulut gang, menghadap dingin, dan berdiri di sana—penjaga tua yang lelah, di tanah kota yang baru mulai mengakuinya, di antara makhluk lapar dan orang-orang yang ia lindungi.
Nayla berdiri di sampingnya tanpa diminta, dan mereka menjaga sepanjang malam itu—menebalkan pot yang lemah, menyalakan setiap lampu di gang agar tak ada gelap untuk makhluk itu bersembunyi, membangunkan beberapa warga untuk menyiram tanaman "karena layu kena angin," tak satu pun tahu bahwa siraman tengah malam mereka adalah benteng. Dan menjelang fajar, ketika hujan reda dan tabir menebal kembali, dingin itu mundur, kalah bukan oleh kekuatan tapi oleh tanah yang tetap dirawat dan penjaga yang tetap tinggal.
Mereka melewatkan bus. Tiketnya hangus, dua lembar kertas basah kena gerimis di kantong dada Ki Lawu. Tapi ketika Nayla memandangnya di teras saat fajar, lelah dan basah dan masih hidup, ia menyadari sesuatu yang membuat dadanya sesak: Ki Lawu tidak terlihat menyesal. Tiap kali ia hampir pergi mengejar tanahnya, sesuatu di kota ini menahannya—dan tiap kali ia memilih tinggal, sedikit lebih mudah daripada sebelumnya. "Bapak," kata Nayla pelan, "Bapak sadar nggak, Bapak udah berhenti bicara soal pulang?" Ki Lawu menatap matahari yang naik di balik gedung-gedung kota, lama, dan tak menjawab—karena untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa pilihan yang ia takutkan harus ia buat suatu hari, ternyata telah ia buat malam ini, tanpa satu kata pun, hanya dengan tinggal.