Surat itu datang dengan cara paling kuno yang masih tersisa di dunia ini: lewat pos, dengan amplop cokelat lecek dan perangko yang tintanya luntur, dialamatkan ke Bu Sari dengan tulisan tangan yang miring dan rapat. Bu Sari membacanya di dapur sambil menanak nasi, dan setengah halaman ke bawah, tangannya berhenti dan wajahnya berubah, dan ia memanggil Ki Lawu dengan suara yang tak biasa lembut.
"Pakdhe," katanya. "Ini dari sepupu saya. Dia di kaki gunung, kampungnya nggak jauh dari—" Ia ragu, lalu menyebut namanya, "—dari Sumberwangi."
Ki Lawu, yang sedang menyiram pot pagar di subuh itu, membeku. Nama itu—nama tempat yang melahirkannya, tempat yang ia rindu setiap detik sejak terlempar ke kota ini, tempat yang ia bayangkan sebagai satu-satunya rumah—nama itu diucapkan di dapur kost Jakarta, dari mulut perempuan yang dulu nyaris memanggil satpam untuknya. Ia masuk dengan kaleng penyiram masih di tangan.
"Apa kabarnya," katanya, dan suaranya tertahan. "Kau bilang—Sumberwangi—"
Bu Sari menyodorkan surat itu, tapi Ki Lawu tak bisa membacanya; tulisan tangan cepat masih sering mengaburkan matanya, dan lagi pula jarinya gemetar. Jadi Bu Sari membacakannya, pelan, dengan suara seorang ibu yang tahu ia membawa kabar yang akan melukai.
Sumberwangi tak hancur total. Itu kalimat pertama, dan untuk sesaat dada Ki Lawu mengembang dengan harapan liar. Tapi kalimat-kalimat berikutnya menariknya turun, satu per satu, seperti batu diikat ke kaki.
Desa itu tak hancur, tapi berubah. Sumber air—mata air yang dulu ia jaga, yang dulu mengalir jernih dari kaki bukit dan memberi minum seluruh desa, yang adalah alasan keberadaannya—mata air itu mati. Bukan kering perlahan. Mati. Sejak tanah di atasnya diuruk untuk proyek, airnya berhenti seolah seseorang menutup keran di perut bumi, dan sawah-sawah di bawahnya menguning, lalu cokelat, lalu retak. Warga yang masih muda pergi—ke kota, ke pabrik, ke mana pun yang masih punya air dan kerja. Yang tinggal hanya beberapa keluarga tua yang terlalu renta untuk pindah dan terlalu cinta tanah untuk meninggalkannya, hidup dari air yang diangkut tangki dua kali seminggu. Proyek yang menggusur mereka sendiri mangkrak—pengembangnya berhenti di tengah jalan, entah kenapa, meninggalkan fondasi setengah jadi yang kini ditumbuhi rumput liar, dan tunggul beringin keramat yang ditebang masih tergeletak di sana, membusuk pelan, tak ada yang berani memindahkannya.
"Sepupu saya nulis," Bu Sari membaca, suaranya makin pelan, "katanya orang-orang tua di Sumberwangi masih cerita soal penunggu beringin mereka. Dhanyang yang dulu jaga mata air. Mereka bilang sejak beringin ditebang dan dhanyangnya pergi, desa kehilangan berkahnya. Mereka masih nyebut namanya kadang-kadang, di selamatan, walau anak-anak muda ketawain. Katanya—" Bu Sari mendongak, dan matanya bertemu mata Ki Lawu, dan ada pengertian di sana yang tak perlu kata, "—katanya, kalau dhanyangnya kembali, mungkin airnya hidup lagi."
Ki Lawu duduk. Bukan memilih duduk—lututnya yang menyerah. Kaleng penyiram terlepas dari tangannya dan berdenting di lantai, airnya tumpah membasahi semen, dan ia menatap genangan kecil itu seolah genangan itu adalah seluruh mata air Sumberwangi yang mati, semua air yang pernah ia jaga, mengalir keluar dari dunia dan tak kembali.
Selama berbulan-bulan, di setiap detik tergelap di kota asing ini, Ki Lawu menahan diri dengan satu gambar di kepalanya: pulang. Pulang ke beringin yang sejuk, ke mata air yang jernih, ke desa yang menghormatinya, ke tempat yang mengakuinya sepenuhnya sehingga ia tak perlu lagi memudar setetes demi setetes. Pulang adalah obat yang ia janjikan pada diri sendiri. Pulang adalah ujung dari penderitaan ini. Ia akan bertahan, ia akan mencari celah kembali, dan ketika ia pulang, semuanya akan utuh lagi.
Dan sekarang surat lecek di tangan Bu Sari memberitahunya: tempat yang ia janjikan untuk pulangi sudah tidak ada.
Bukan karena dirusak musuh. Lebih buruk—karena perlahan mati, kehilangan air, kehilangan warga, kehilangan dirinya sendiri. Bahkan jika ia kembali besok, dengan tubuh sekuat dulu, apa yang akan ia jaga? Mata air yang mati? Tunggul yang membusuk? Beberapa keluarga tua yang menunggu mukjizat? Rumah yang ia rindukan sudah lama menjadi kenangan, dan ia baru tahu sekarang bahwa ia telah merindukan hantu.
Nayla, yang masuk dapur saat sebagian besar surat sudah dibacakan, berdiri diam di ambang pintu. Ia tak tahu harus berkata apa. Apa yang dikatakan pada seseorang yang baru mengetahui rumahnya sudah tak ada? Maka ia melakukan apa yang ia bisa: ia mendekat, jongkok di samping Ki Lawu, dan mengambil kaleng penyiram yang tumpah dari lantai, lalu—pelan, hati-hati—mulai mengelap genangan air itu dengan kain lap, gerakan kecil yang sehari-hari, yang tak punya arti besar, kecuali bahwa ia di sana, dan ia tidak pergi.
"Dhe," katanya akhirnya, sangat pelan. "Kita masih bisa ke sana. Suatu hari. Lihat sendiri. Mungkin nggak seburuk—"
"Aku tahu seburuk apa," kata Ki Lawu, dan suaranya bukan marah, hanya lelah yang tak berdasar, lelah ratusan tahun yang tiba-tiba terasa sekaligus. "Aku merasakan mata air itu mati, Nayla. Dari sini. Sebenarnya aku sudah lama merasakannya, tapi aku tak mau percaya. Aku menyimpan gambar lama di kepalaku karena gambar itu yang membuatku bisa bangun tiap pagi." Ia menutup mata. "Ke mana dhanyang pulang, kalau tanah yang melahirkannya sudah lupa cara hidup?"
Di luar, fajar penuh akhirnya datang, menyentuh pot-pot pagar yang baru disiram, daun-daun muda yang menggeliat ke arah matahari. Tanah hidup yang ditumbuhkan di kota asing, kecil dan tipis tapi bernapas. Ki Lawu membuka matanya dan menatapnya lewat ambang pintu dapur, dan untuk pertama kalinya sebuah pikiran yang belum berani ia ucapkan bergerak di dasar benaknya, samar seperti tunas di bawah tanah: bahwa mungkin rumah bukanlah tempat yang ia tinggalkan. Mungkin rumah adalah sesuatu yang sedang, tanpa ia sadari, ia tumbuhkan.