Kabar buruk selalu datang lewat Pak Karyo, dan selalu di subuh, ketika ia menyapu dan menemukan sesuatu yang salah dengan dunia.
Pagi itu ia tak mengetuk pagar. Ia menggedornya, keras, tongkat sapunya membentur besi sampai Bu Sari terbangun dan menyangka maling. Ki Lawu sudah di pintu sebelum gedoran kedua, karena ia juga merasakannya—jauh sebelum Pak Karyo bicara, ada lubang kecil di udara, seperti gigi yang tiba-tiba copot, kekosongan di tempat yang seharusnya ada sesuatu.
"Penjaga kenari," kata Pak Karyo, napasnya tersengal, wajahnya pucat di bawah lampu pagar. "Yang di kolong. Yang berkulit kayu. Dia—Ki, dia nggak ada. Bukan ngilang biasa. Saya ke sana tadi nyapu, dan tempatnya dia biasa duduk... dingin. Dingin banget. Dan kosong, Ki. Kosong kayak nggak pernah ada apa-apa di situ."
Mereka berangkat secepat tubuh tua Ki Lawu mengizinkan, Nayla menyusul dengan sandal jepit dan jaket asal sambar. Di kolong jembatan, pagi belum benar-benar datang, dan yang tersisa di pojok tempat penjaga kenari biasa meringkuk adalah sebuah lingkaran dingin yang tak masuk akal—di Jakarta yang sumuk pun, di kolong yang lembap dan bau, ada satu titik di mana napas mereka mengepul putih, seolah mereka berdiri di lemari es yang dibuka.
Ki Lawu berjongkok di tepi lingkaran dingin itu. Ia tak menyentuhnya. Ia hanya menghirup. Dan baunya membuat perutnya mual: bau dingin yang sama dengan dinding kamar Nayla, bau yang sama dengan jejak di balik parfum Renata—tapi di sini pekat, segar, baru. Makhluk itu baru saja di sini. Berjam-jam lalu, mungkin kurang.
"Dia tidak pergi," kata Ki Lawu pelan, dan suaranya rata dengan cara yang lebih menakutkan daripada kalau ia berteriak. "Dia dimakan."
Penunggu sumur muncul dari balik pilar, gemetar, bentuknya menciut lagi mendekati kabut, ketakutan telah memakan kembali sebagian dari yang baru ia dapat. "Aku mendengarnya," bisiknya. "Tengah malam. Suara seperti tanah longsor, tapi tak ada tanah. Dan dia—penjaga kenari—dia berteriak nama yang ia sudah lupa, satu kali, lalu diam. Aku takut bergerak. Aku takut, Ki Lawu. Aku takut menjadi berikutnya." Ia menatap dhanyang itu dengan mata yang penuh tuduhan dan harapan sekaligus. "Di mana kau tadi malam? Kau tetua kami. Di mana kau ketika dia diteriaki?"
Dan tuduhan itu masuk seperti pisau, karena benar. Ki Lawu tadi malam tidur—atau setengah tidur—di kost yang aman, di balik pagar pot yang ia bantu tegakkan, sementara dua perempatan jauhnya seorang yang memanggilnya tetua dimakan dalam gelap. Ia datang terlambat. Ia selalu datang terlambat, karena tubuhnya lemah, karena kota terlalu luas, karena ia satu dan mereka tersebar.
"Aku tidak tahu," katanya, dan kejujuran itu pahit. "Aku tidak cukup kuat untuk menjaga kalian semua sekaligus. Aku minta maaf." Ia berdiri, lututnya berderak, dan menatap lingkaran dingin itu untuk waktu yang lama. Sesuatu telah berubah di pikirannya, sesuatu yang mengeras seperti tanah liat di matahari. "Tapi sekarang aku tahu satu hal yang belum kutahu kemarin."
"Apa," tanya Nayla, yang berdiri memeluk dirinya sendiri, kedinginan bukan hanya karena udara.
"Makhluk ini tidak menunggu mangsa datang," kata Ki Lawu. "Ia berburu. Aku kira—selama ini aku kira—ia hanya menggaruk dinding, menunggu pintu terbuka, sabar seperti penyakit. Tapi tidak. Ia keluar. Ia mencari penjaga-penjaga lemah dan memakan mereka satu per satu. Tiap yang ia makan membuatnya lebih besar, lebih kuat, lebih mampu menembus pagar yang tadinya menahannya." Ia menatap lingkaran dingin itu, dan dalam dinginnya ia bisa merasakan—samar, tapi tak salah lagi—bahwa makhluk yang pergi dari sini lebih besar daripada yang menggaruk dinding kamar Nayla berbulan lalu. "Penjaga kenari adalah suapan. Penunggu sumur akan jadi suapan berikutnya, atau dhanyang sungai, atau roh mana pun yang sendirian dan lemah. Dan kalau ia sudah cukup besar—"
Ia tak menyelesaikannya. Ia tak perlu. Mereka semua tahu nama hidangan terakhir, yang paling matang, yang paling lama ia incar.
Nayla.
"Kita pindahkan mereka," kata Nayla tiba-tiba, suaranya bergetar tapi keras. "Yang masih ada. Penunggu sumur, dhanyang sungai. Jangan biarkan mereka sendirian di kolong gelap begini. Bawa ke gang. Ke dekat pot-pot. Ke tanah hidup. Bapak sendiri bilang makhluk itu nggak bisa masuk tanah yang dirawat."
Ki Lawu menatapnya, dan untuk sesaat keletihan di matanya digantikan sesuatu yang lain—rasa heran yang hangat pada anak manusia ini, yang dulu mengira ia om-om gila, yang sekarang menyusun strategi melindungi roh-roh yang bahkan tak bisa ia lihat. "Ya," katanya. "Ya. Kita pindahkan mereka." Ia berbalik pada penunggu sumur. "Maukah kau ikut? Ke tempat yang dirawat. Tak akan seluas sungaimu dulu, tak akan sebesar sumurmu. Tapi hidup. Dan tidak sendirian."
Penunggu sumur menatap lingkaran dingin tempat temannya lenyap, lalu menatap arah gang yang tak terlihat, tempat tanah mulai menapas dan manusia mulai merawat tanpa tahu. "Aku tak punya pilihan lain," bisiknya. "Tapi aku akan ingat ini, Ki Lawu. Ketika ia datang untukku, kau datang terlambat. Aku akan ikut—tapi jangan terlambat lagi."
Ki Lawu mengangguk, menerima beban itu juga, satu beban lagi di pundak yang sudah penuh. "Tidak akan," katanya, dan berdoa pada tanah yang jauh agar ia bisa menepatinya.