Masalahnya, Ki Lawu menjelaskan pada Nayla malam itu sambil mereka menyusun rencana di meja kost yang penuh kertas kalkir, adalah bahwa roh-roh kolong melemah bukan karena tak ada yang mengusir mereka, melainkan karena tak ada yang mengingat mereka. "Dulu," katanya, "orang menaruh secangkir kopi di akar pohon besar. Sebutir telur di sudut sumur. Bukan karena takut—karena hormat. Karena tahu tanah punya penunggu, dan penunggu yang dihormati akan menjaga. Itu yang memberi mereka makan. Bukan kopinya. Rasa diingatnya."
"Sekarang nggak ada yang naruh kopi di akar pohon, Dhe," kata Nayla. "Sekarang orang naruh kopi di Instagram."
Ki Lawu mengernyit. "Apa itu Instalgram."
"Lupakan." Nayla mengetuk pensil ke dagunya, otak arsiteknya berputar. "Tapi Bapak benar soal satu hal. Masalahnya bukan dupanya. Masalahnya rasa diingat. Rasa dirawat." Ia berhenti, dan sesuatu mulai membentuk di kepalanya. "Dhe, gimana kalau kita nggak usah pakai cara lama? Nggak usah dupa, nggak usah sesaji. Kita pakai cara yang orang sekarang mau—tapi efeknya sama."
Maka lahirlah gerakan yang sepanjang sisa hidupnya akan disebut warga gang sebagai "Gang Hijau," dan yang tak satu pun dari mereka tahu sebenarnya adalah ritual.
Idenya sederhana sampai memalukan: bersihkan got, tanam apa pun di sudut yang kosong, rawat pohon yang sudah ada. Nayla yang membungkusnya dengan bahasa kekinian—ia bikin selebaran, ia gandeng karang taruna, ia bilang ke ibu-ibu PKK bahwa gang teladan bisa dapat penghargaan dari kelurahan, ia bilang ke anak-anak muda bahwa gang yang hijau lebih estetik untuk konten. Semua alasan dunia modern. Tak satu pun menyebut tabir, dhanyang, atau makhluk lapar. Dan diam-diam, di balik semua itu, Ki Lawu mengajari mereka hal yang sebenarnya.
"Jangan tanam asal," katanya pada Pak Darto yang antusias mau menanam cabai di pot bekas cat. "Ajak ngomong dulu. Bilang, aku menanam kau di sini, tolong tumbuh ya. Bukan karena tanamannya dengar—" ia menambahkan cepat, melihat wajah Pak Darto, "—tapi karena yang ngomong jadi ingat untuk merawat. Yang diajak bicara, dirawat. Yang dirawat, hidup."
Pak Darto mengangguk-angguk seolah mengerti, lalu berbisik ke tetangganya, "Pakdhe Lawu emang nyentrik tapi tanemannya selalu subur. Ikut aja."
Dan tanaman Pak Darto memang subur. Begitu pula pot kangkung Bu Sari, begitu pula sirih gading yang dirambatkan Mbak Yuni di tembok kamarnya. Karena Ki Lawu, diam-diam, di subuh-subuh ketika tubuhnya masih punya sisa tenaga, menyentuh tiap tanah baru itu dengan ujung jari dan membisikkan satu kata, dan tanah itu mulai menapas. Bukan keajaiban besar yang membuatnya tumbang—ia belajar menakar sekarang, setetes-setetes—tapi cukup untuk membuat tiap petak hijau di gang itu jadi tanah hidup setipis kertas, dan tiap tanah hidup itu mengembus rasa dirawat ke udara.
Dan rasa dirawat itu, yang mengalir tipis dari gang ke kolong jembatan dua perempatan jauhnya, memberi makan roh-roh yang kelaparan.
Ki Lawu pertama kali menyadarinya tiga hari setelah Gang Hijau dimulai, ketika penunggu sumur datang ke pagar kost di subuh buta—jarak yang sebelumnya terlalu jauh untuk roh selemah dia—dan berdiri di luar pot-pot pagar, tak masuk, hanya menghirup udara. "Ada yang berubah," katanya. "Ada yang mengingat. Aku merasa lebih... ada." Bentuknya, yang minggu lalu setipis kabut, kini punya garis yang lebih jelas. Ia masih lupa namanya. Tapi ia tak lagi sekarat secepat dulu.
"Bukan aku yang memberimu makan," kata Ki Lawu. "Mereka." Ia menunjuk gang yang masih gelap, jajaran pot yang baru disiram tadi sore, tembok yang dirambati sirih. "Orang-orang yang merawat tanah tanpa tahu kau ada. Rasa syukur mereka. Rasa rumah mereka. Itu yang sampai padamu."
Penunggu sumur menatap pot-pot itu lama. "Mereka tak tahu mereka memberiku makan."
"Tidak," kata Ki Lawu. "Dan itu lebih baik. Penghormatan yang dipaksa karena takut—itu busuk, tak mengenyangkan. Tapi rasa sayang yang tulus pada tanah, walau pemiliknya tak percaya penunggu—itu manis. Itu mengenyangkan." Ia tersenyum, lelah dan hangat. "Kota ini lupa caranya. Tapi tubuhnya masih ingat. Kau cuma perlu mengajari tangannya, dan hatinya akan ikut."
Komedi datang seminggu kemudian, ketika kelurahan benar-benar mengirim petugas untuk menilai "Gang Teladan," dan petugas itu mendapati seorang pakdhe nyentrik sedang berjongkok di depan pot mawar, berbicara serius pada tanahnya seolah memberi nasihat pada cucu. "Bapak ngapain?" tanya petugas itu. Ki Lawu mendongak dengan wibawa penuh dan menjawab, "Mengajari mawar ini supaya tidak rewel," lalu kembali berbicara pada pot itu. Petugas itu menulis di formulirnya: "Warga sangat berdedikasi terhadap penghijauan. Direkomendasikan sebagai percontohan." Lalu ia pergi, tak tahu bahwa ia baru saja mengesahkan, atas nama negara, sebuah ritual berusia ribuan tahun yang menjaga tabir kota tetap utuh.