Makhluk itu menampakkan diri pertama kali bukan dengan gemuruh, melainkan dengan keheningan—jenis hening yang salah, yang membuat telinga berdenging karena otak tahu seharusnya ada suara.
Nayla pulang malam itu sendirian, melawan nasihat Ki Lawu, karena ojek yang ia pesan tiba-tiba membatalkan dan kost masih tiga gang jauhnya dan ia lelah dan keras kepala dan baru dua puluh dua tahun, usia ketika kita semua mengira diri kekal. Gang yang ia lewati gang potong, sempit dan gelap, lampu jalannya satu mati satu meredup. Di tengah jalan ada motor yang diparkir, dan saat Nayla lewat di sebelahnya, matanya menangkap kilatan di cermin spion—dan ia berhenti.
Di cermin spion itu, di belakang pantulan dirinya sendiri, ada sosok tinggi.
Nayla berbalik. Gang di belakangnya kosong. Ia menatap cermin lagi. Sosok itu masih di sana—di dalam cermin, bukan di gang—tinggi melampaui apa pun yang manusia, sebuah bentuk gelap tanpa wajah, hanya kekosongan di tempat seharusnya ada muka, dan kekosongan itu menatapnya. Lalu, perlahan, bentuk itu mulai berubah: bahu yang tadinya asing mulai menyerupai sesuatu yang ia kenal, garis yang familiar, seolah makhluk itu sedang mencari di dalam dirinya bentuk yang akan paling menyakitkan untuk dilihat—dan menemukan, di dasar ingatannya, siluet rumah keluarganya yang dulu, gerbang yang dirobohkan buldoser, dan sesuatu di pintu rumah itu yang melambai padanya seperti memanggil pulang.
Nayla tak bisa bergerak. Dingin merayap dari ponselnya, yang layarnya mati hitam dan di permukaan hitam itu sosok yang sama muncul, lebih dekat. Dari genangan air di aspal, sosok itu muncul lagi, dari setiap permukaan yang memantul, dikepung oleh pantulan satu makhluk yang tak ada di gang tapi ada di mana-mana yang bisa memantul. Dan ia merasakan, di dada, di tempat luka lamanya, sesuatu menarik—lembut, hampir manis, seperti undangan: ikutlah. Pulang. Aku tahu jalan ke rumahmu yang dulu. Aku bisa membawamu ke sana. Ke gerbang itu. Ke pintu itu. Ke sesuatu yang melambai itu.
Kakinya bergerak satu langkah ke arah genangan tanpa ia perintah. Bibir gang gelap di ujung sana melebar, dan udara di sana tak lagi seperti udara—seperti air hitam, seperti pintu yang terbuka ke tempat yang tak ada matahari.
"NAYLA."
Suara itu memecah hening salah itu seperti batu memecah kaca. Ki Lawu—yang telah mencarinya sejak ojek itu batal, yang menyusuri gang demi gang dengan pinggang mengaduh, yang menemukannya tepat ketika kaki Nayla mengangkat untuk langkah kedua—mencengkeram lengannya dan menariknya mundur, jauh dari genangan, jauh dari mulut gang yang menganga.
Makhluk di pantulan berbalik padanya. Untuk pertama kalinya Ki Lawu melihatnya dengan mata sendiri, bukan mencium baunya, dan apa yang ia lihat lebih buruk daripada taring atau cakar: ia melihat kekosongan, sebuah ketiadaan berbentuk tinggi yang lapar, dan ia merasakan—dengan ngeri seorang penjaga yang mengenali kebalikan dari dirinya—bahwa makhluk itu adalah segala yang ia bukan. Ia menjaga; ini memakan. Ia menumbuhkan; ini mengosongkan.
Ki Lawu tahu ia tak bisa melawannya. Tubuh tuanya bahkan tak kuat berlari. Tapi ada satu hal yang bisa ia lakukan, satu-satunya hal, dan ia tahu harganya akan mahal.
Ia berdiri di antara Nayla dan genangan, mengangkat kedua tangannya, dan memanggil—bukan tanah, tak ada tanah hidup di gang potong ini—melainkan dirinya sendiri, sisa cahaya yang masih ada di dalamnya, esensi seorang penjaga, dan ia menumpahkannya ke udara sebagai sebuah dinding yang tak terlihat antara mereka dan kekosongan. Tubuhnya menjerit. Sesuatu di dalam jam pasirnya pecah dan tumpah.
Makhluk itu mundur. Bukan karena kalah—karena kenyang belum, karena penjaga tua ini bukan suapan yang ia rencanakan malam ini, terlalu sengit untuk ukurannya. Pantulannya menyusut di setiap permukaan, ponsel Nayla menyala kembali, layarnya cuma layar, genangan cuma air, dan gang gelap cuma gang gelap. Hening yang salah berganti hening biasa, lalu suara kota kembali—motor jauh, televisi tetangga, kucing.
Ki Lawu jatuh berlutut.
"Bapak!" Nayla menangkapnya sebelum kepalanya membentur aspal. "Bapak, jangan—"
"Aku tidak apa-apa," katanya, padahal jelas tidak. Wajahnya pucat seperti kertas, dan ada sesuatu yang baru di matanya, sesuatu yang hilang, sebuah lubang. Ia menatap Nayla dengan kening berkerut, seolah mencoba mengingat sesuatu yang barusan ada. "Aku—" Ia berhenti. "Nayla. Aku barusan kehilangan sesuatu."
"Apa? Kemampuan apa yang—"
"Bukan kemampuan." Suaranya kecil. Ia menatap jauh, ke arah desa yang tak terlihat di kaki gunung berkilometer-kilometer jauhnya, dan mencoba meraih sesuatu di sana, di ingatannya, dan tangannya menggenggam kosong. "Ibuku. Aku—dhanyang tak punya ibu seperti manusia, tapi ada perempuan tua di Sumberwangi, dulu sekali, yang menanam beringinku, yang merawatku ketika aku masih roh kecil. Aku ingat wajahnya tadi pagi. Sekarang—" Ia menutup matanya. "Sekarang aku ingat bahwa ada wajah. Tapi wajahnya sudah tidak ada. Cuma tempat kosong tempat wajah itu dulu."
Nayla memeluknya di tengah gang gelap, dhanyang tua yang menukar wajah ibunya untuk menarik Nayla menjauh dari mulut yang menganga, dan ia menangis—untuk Ki Lawu, untuk wajah yang hilang, untuk harga yang dibayar demi dirinya. "Maaf," bisiknya. "Maaf saya keras kepala. Maaf saya jalan sendirian."
"Jangan," kata Ki Lawu, suaranya parau tapi tegas. "Jangan menyesal hidup. Itu yang ia mau—itu lukamu yang ia tarik tadi, rumahmu yang dulu, yang melambai. Ia tak bisa memaksamu masuk. Ia hanya bisa mengundang lewat lukamu. Maka jaga lukamu, Nayla. Jangan biarkan terbuka di gang gelap." Ia bangkit perlahan, bertumpu pada lengan Nayla, dan mereka berjalan pulang bersama, dua tubuh menopang satu sama lain, satu kehilangan wajah ibunya, satu nyaris kehilangan dirinya, di kota yang tidur dan tak tahu betapa dekat malam ini ia kehilangan keduanya.