Pak Karyo datang menjemput sebelum subuh, ketukan tongkat sapunya di pagar kost terdengar seperti kode. Ki Lawu sudah bangun—belakangan ia jarang benar-benar tidur, lebih sering duduk di tepi ranjang mendengarkan kost bernapas—dan ia keluar dengan sarung dan kemeja flanel pemberian Bu Sari, membawa satu pot kecil tanah hidup yang dibungkus kain.
"Mereka mau ketemu Ki," kata Pak Karyo, mendorong gerobaknya yang kosong di jam segini. "Yang di kolong. Saya bilang ada dhanyang sungguhan di gang sebelah, mereka nggak percaya. Tapi semalam ada yang ngilang lagi, jadi sekarang mereka takut, dan kalau takut, mereka mau percaya apa aja."
Mereka berjalan menembus kota yang belum bangun, melewati pasar yang baru menggelar lapak, melewati warung kopi yang lampunya menyala kuning, sampai ke kolong jembatan layang di pinggir kali yang sudah dibeton seluruhnya. Di siang hari tempat ini hanya kolong biasa—gelap, lembap, bau pesing, penuh coretan dan tumpukan kasur bekas tukang parkir. Tapi pagi buta begini, ketika tabir paling tipis, Ki Lawu bisa melihat yang lain.
Mereka berkumpul di antara pilar-pilar beton. Bukan hantu menyeramkan dari cerita anak-anak—lebih seperti orang-orang tua yang kehilangan rumah, duduk meringkuk dengan tatapan kosong. Ki Lawu mengenali jenis mereka sekali pandang, karena ia salah satu dari mereka.
Yang paling dekat seorang perempuan tua bertubuh setipis kabut, duduk di bibir lubang yang dulu sumur. "Penunggu sumur," bisik Pak Karyo. "Sumurnya udah ditutup semen sepuluh tahun lalu, tapi dia nggak bisa pergi. Nggak punya tempat lain." Di sebelahnya, seorang lelaki dengan kulit sekeras kayu, sisa-sisa daun di rambutnya—penjaga pohon kenari yang ditebang waktu trotoar diperlebar. Dan di pojok terjauh, hampir tak terlihat, sesuatu yang dulu mungkin dhanyang sungai kecil, kini cuma riak tipis di udara, marah dan bingung karena sungainya dibeton sampai tak bisa mengalir lagi.
Mereka semua menoleh ketika Ki Lawu masuk. Dan ada sesuatu di tatapan mereka yang membuat dadanya sesak—harapan. Harapan yang ia tak yakin pantas ia terima.
Penunggu sumur bicara pertama, suaranya seperti angin yang melewati celah sempit. "Kau masih punya nama." Bukan pertanyaan. Tuduhan yang penuh iri. "Kami sudah lupa nama kami. Kau masih ingat siapa kau."
"Ki Lawu," kata dhanyang itu. "Dulu penjaga beringin Sumberwangi. Sekarang—" ia mencari kata, dan tak menemukan yang lebih jujur dari, "—sama tersesatnya dengan kalian."
Penjaga kenari yang berkulit kayu mendengus. "Tidak sama. Kau masih bisa menumbuhkan. Kami mencium tanah hidup di kantongmu dari sini. Kami sudah lupa rasa tanah hidup." Suaranya bergetar di akhir, dan Ki Lawu menyadari—dengan ngeri pelan—bahwa kemarahan itu adalah tanda terakhir bahwa makhluk ini masih dirinya. Yang berikutnya, setelah marah habis, adalah lapar. Dan setelah lapar, mereka berhenti jadi penjaga.
Ki Lawu membuka bungkusan kain dan meletakkan pot kecil tanah hidup di tengah-tengah mereka. Tanah itu gelap dan gembur, di permukaannya tumbuh tunas hijau setinggi jari, dan dari pot itu mengembus sesuatu yang tak terlihat tapi terasa: rasa diakui, rasa dirawat, rasa pulang. Roh-roh itu condong ke arahnya seperti orang kedinginan condong ke api.
"Aku tak bisa memberi kalian masing-masing tanah sebesar ini," kata Ki Lawu pelan. "Tubuhku tak kuat membuatnya. Tiap aku menumbuhkan, aku kehilangan sebagian umurku—dan umurku tinggal sedikit." Ia melihat harapan di mata mereka menyusut, dan ia cepat menambahkan, "Tapi tanah bisa ditumbuhkan oleh siapa saja, kalau ada yang merawatnya. Tidak harus dhanyang. Tanah hidup karena dicintai, bukan karena kuasa. Dan di kota ini, masih ada orang-orang yang mau mencintai tanah—kalau diajari."
"Manusia?" Penunggu sumur tertawa, suara seperti pasir tumpah. "Manusia yang menutup sumurku. Manusia yang membeton sungainya. Kau menaruh harapan pada manusia?"
"Manusia juga yang merawat kost tempatku berlindung," kata Ki Lawu, "sampai makhluk lapar tak bisa masuk. Manusia juga yang mendorongku ke sini, di subuh buta, demi kalian." Ia menunjuk Pak Karyo, yang berdiri canggung di antara pilar, memegang sapunya seperti tameng. "Dia melihat kalian. Dia membawa kabar tentang kalian padaku. Tidak semua manusia lupa cara menghormati tanah. Mereka cuma sedikit, dan tersebar, dan terlupakan—seperti kalian."
Hening panjang di bawah kolong itu, hanya diisi gemuruh tumpul kendaraan di jembatan atas. Lalu sesuatu terjadi yang tak Ki Lawu rencanakan, yang membuatnya canggung berhari-hari kemudian. Penunggu sumur turun dari bibir lubangnya dan, dengan gerakan yang lebih mirip menyembah daripada sekadar tunduk, mendekat ke pot tanah hidup itu—dan ke Ki Lawu.
"Tinggallah dekat kami," katanya. "Kau yang masih ingat. Kau yang masih punya tanah. Kalau kau berhenti jadi penjaga, kami semua hilang."
Ki Lawu hendak membantah—aku bukan tetua, aku cuma satu roh nyasar yang sama lemahnya—tapi melihat wajah-wajah itu, melihat penjaga kenari yang menahan tangis dan dhanyang sungai yang riaknya pelan menenang, ia tahu bantahan itu pengecut. Mereka tak butuh ia kuat. Mereka butuh ia tinggal.
"Aku akan datang lagi," katanya akhirnya, dan itu bukan jawaban penuh, tapi cukup. "Dengan tanah. Dan dengan cara agar kalian bisa menumbuhkannya sendiri."
Di perjalanan pulang, ketika langit mulai memerah di timur, Pak Karyo berkata pelan, "Mereka manggil Ki tetua, tadi."
"Aku dengar," kata Ki Lawu.
"Ki nggak nolak."
Dhanyang itu menatap kota yang mulai bangun di sekelilingnya—klakson pertama, pintu warung yang dibuka, anak sekolah pertama yang menyeberang. Dulu ia satu korban tunggal yang nyasar, hanya ingin pulang. Sekarang ada yang memanggilnya tetua, dan beban itu duduk di pundaknya seperti sarung basah, berat dan dingin dan tak bisa ditanggalkan. "Bagaimana aku menolak," katanya pelan, "orang-orang yang lebih tersesat dariku?"