Sore itu Ki Lawu duduk di trotoar depan gedung berkaca tempat Nayla magang, di atas sehelai kardus bekas yang ia bawa dari kost karena, katanya, "semen panas tak baik untuk pinggang setua aku." Pak Karyo yang mengantarnya dengan gerobak sudah pamit ke gang lain, meninggalkan dhanyang itu sendirian di antara orang-orang berdasi yang mengalir keluar dari pintu putar, sibuk dengan layar di tangan, tak satu pun menoleh pada lelaki paruh baya yang menatap pohon angsana di pinggir jalan seolah sedang menyimak cerita panjang.
Ki Lawu memang sedang menyimak. Pohon angsana itu tua, ditanam jauh sebelum gedung-gedung ini berdiri, dan akarnya masih ingat rasa tanah yang dulu sawah. "Kau sabar sekali," gumam Ki Lawu pelan. "Dikepung beton begini, kau masih tumbuh." Daun-daun di atasnya bergetar walau tak ada angin, dan Ki Lawu mengangguk, seolah pohon itu menjawab sesuatu yang hanya bisa ia dengar.
Lalu pintu putar berputar lagi, dan Nayla keluar—dan bersamanya, beberapa langkah di belakang, seorang perempuan dengan setelan abu-abu yang rapi seolah disetrika dengan penggaris. Renata. Ki Lawu tahu itu Renata sebelum Nayla sempat memberi tahu, karena ia tak perlu nama. Ia mengenal makhluk dari baunya.
Dan bau yang datang bersama perempuan itu membuat Ki Lawu membeku di atas kardusnya.
Selama berbulan-bulan di kota ini, Ki Lawu telah belajar membaca bau manusia seperti orang membaca buku. Ada bau serakah—asam dan lengket seperti gula gosong. Ada bau takut—tajam, seperti besi basah. Ada bau cinta yang dirawat Bu Sari—hangat, seperti nasi yang baru matang. Bau-bau itu manusiawi, ia kenal semuanya, ia bisa menamainya.
Bau Renata bukan salah satunya.
Di balik parfum mahal dan kopi pahit dan setelan yang baru dicuci kering, ada sesuatu yang dingin. Bukan dingin pendingin udara. Bukan dingin orang yang hatinya keras. Ini dingin yang Ki Lawu kenal dari malam-malam ketika sesuatu menggaruk dinding kamar Nayla—dingin tanah yang tak pernah dihangati matahari, dingin tempat yang sudah lupa pernah hidup. Bau itu tipis, jauh di dasar, hampir tertimbun, tapi ada. Jejak. Seperti sidik telapak kaki di lumpur yang sudah mengering tapi cetakannya tinggal.
Ki Lawu berdiri terlalu cepat dan pinggangnya mengaduh. Renata, yang tadinya berbicara pada Nayla dengan suara terukur tentang jam masuk besok, menoleh pada lelaki tua yang berdiri kaku di trotoar. Tatapannya menyapu Ki Lawu sekilas—menilai, mengarsipkan, membuang—persis seperti yang Nayla ceritakan. Tapi pada detik mata mereka bertemu, Ki Lawu merasakan suhu udara di sekitarnya turun setengah derajat, dan jauh di balik mata cokelat yang tenang itu, sesuatu yang lain bergeser. Mengenali. Seperti binatang yang mendongak di kegelapan karena mencium binatang lain.
"Bapak siapa?" tanya Renata. Suaranya tetap sopan, tetap dingin, tapi ada jeda kecil sebelum kata terakhir, seperti orang yang baru menyadari ada lubang di lantai yang ia kira rata.
"Tetangga," jawab Ki Lawu, dan herannya suaranya tak gemetar. "Menjemput."
Nayla, yang merasakan ketegangan tanpa tahu sumbernya, cepat-cepat menyela. "Pakdhe saya, Bu. Kebetulan lewat." Ia menarik lengan Ki Lawu pelan. "Yuk, Dhe. Keburu hujan."
Renata mengangguk satu kali, datar, lalu berbalik dan masuk lagi ke gedung. Tapi sebelum pintu putar menelannya, ia menoleh sekali lagi—bukan pada Nayla, tapi pada Ki Lawu—dan untuk sepersekian detik bibirnya melengkung, bukan senyum, lebih seperti uji rasa, seperti lidah yang menjilat sesuatu untuk tahu apakah itu bisa dimakan.
Lalu ia hilang.
Mereka berjalan menjauh dari gedung dalam diam sampai dua perempatan. Nayla yang akhirnya bicara. "Bapak kenapa? Mukanya kayak lihat hantu."
"Aku memang sering lihat hantu," kata Ki Lawu. "Itu tidak bikin aku begini." Ia berhenti di bawah halte yang kosong, duduk di bangku besinya yang dingin, dan menarik napas dalam-dalam, seolah mencoba membersihkan sesuatu dari rongga dadanya. "Perempuan itu. Renata."
"Kenapa dia?"
Ki Lawu mencari kata yang tepat dan tak menemukannya, jadi ia memakai yang paling jujur. "Dia berbau seperti dinding kamarmu di malam itu."
Nayla diam. Tengkuknya, yang sepanjang sore tadi terus meremang di dekat Renata, kini terasa beku. "Maksud Bapak... dia yang—dia makhluk itu?"
"Bukan," kata Ki Lawu pelan, dan itu yang paling membuatnya gelisah. "Kalau dia makhluk itu, baunya akan penuh, akan menutup segalanya. Ini bukan. Ini cuma jejak. Seperti orang yang berdiri terlalu lama di kamar berasap, lalu bajunya bau asap walau apinya sudah jauh." Ia menatap telapak tangannya sendiri, telapak tangan tua yang bukan miliknya, yang dipinjamkan dunia ini padanya. "Renata masih manusia. Tapi sesuatu yang dingin itu—pernah lama dekat dengannya. Atau di dalamnya. Aku tidak bisa pastikan yang mana."
Nayla menelan ludah. "Jadi dia bahaya."
"Dia bukan korban," kata Ki Lawu. "Tapi dia juga bukan musuh biasa." Ia menoleh pada Nayla, dan untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, ada sesuatu seperti permohonan di matanya, bukan perintah. "Aku tidak punya bukti, Nayla. Cuma hidung tua yang makin tajam karena tubuhku makin lemah—begitulah, yang sekarat memang mencium lebih jauh. Tapi aku tidak bisa membawa hidungku ke kantor polisi. Tidak ada yang akan percaya."
"Saya percaya," kata Nayla. Dan ia terkejut sendiri betapa cepat kalimat itu keluar, betapa ia tak ragu sedikit pun. Beberapa bulan lalu ia mengira lelaki ini om-om gila yang bicara pada selokan. Sekarang ia mempertaruhkan tengkuknya yang meremang pada satu kalimat tentang bau.
"Maka berhati-hatilah di dekatnya," kata Ki Lawu. "Jangan pernah sendirian dengannya di ruang tertutup. Jangan biarkan dia tahu apa yang kau cari. Dan kalau suatu hari kau merasa udara di dekatnya turun—seperti hari ini—keluar. Cari jendela. Cari orang lain. Cari cahaya." Ia berhenti. "Makhluk seperti itu lebih kuat di tempat yang sepi dan dingin. Selalu cari yang ramai dan hangat."
Hujan mulai turun, tipis, mengetuk atap halte. Mereka duduk berdua menunggu redanya, dua orang asing yang dilemparkan takdir ke satu bangku besi yang dingin, satu dhanyang yang nyasar dan satu mahasiswa yang menyimpan luka, sama-sama menatap jalan yang basah dan sama-sama tahu bahwa sesuatu yang dingin dan sabar kini punya nama, punya setelan abu-abu, dan tahu di mana Nayla bekerja.