Firma itu menempati dua lantai gedung perkantoran berkaca yang dinginnya tak wajar, dingin pendingin udara yang dipasang terlalu kuat—tapi Nayla, di hari pertamanya, mengenakan kemeja terbaiknya dan berjalan masuk dengan punggung tegak, mengingat satu hal yang diajarkan Ki Lawu semalam: tetap dingin, tetap dirimu.
Ia diperkenalkan pada belasan nama yang langsung ia lupa, ditunjukkan meja kecil di pojok dekat printer, dan diberi tugas pertama yang membosankan: merapikan arsip gambar kerja. Tapi Nayla tahu, kebosanan adalah kamuflase terbaik. Tak ada yang curiga pada anak magang yang merapikan arsip.
Dua orang menonjol di hari pertama itu, dan Nayla, dengan instingnya sendiri yang diasah oleh pelajaran Ki Lawu, memperhatikan keduanya.
Yang pertama, Pak Hendra. Arsitek senior, mungkin lima puluhan, dengan rambut beruban rapi dan senyum yang tulus pada anak magang—ia satu-satunya yang menanyakan nama Nayla dua kali sampai benar-benar ingat, yang menunjukkan di mana pantry, yang berkata "jangan sungkan tanya kalau bingung". Nayla menyukainya seketika. Tapi ada sesuatu di balik keramahan itu—saat Pak Hendra lewat di depan ruang rapat besar tempat poster masterplan superblok terpampang, senyumnya meredup sepersekian detik, dan ada lelah tua di matanya, lelah orang yang sudah lama menyimpan sesuatu yang tak ia suka tentang dirinya sendiri. Nayla mencatatnya, seperti Ki Lawu mengajarinya: perhatikan bukan cuma yang ditunjukkan orang, tapi yang mereka tahan.
Yang kedua, Bu Renata. Dan tentang Bu Renata, Nayla langsung merasakan sesuatu yang salah, meski ia tak punya indera dhanyang untuk menamainya.
Bu Renata adalah manajer proyek—bukan pegawai firma, tapi utusan dari Cakra Bumi sendiri yang berkantor di sini untuk mengawasi proyek. Ia perempuan elegan, mungkin akhir tiga puluhan, dengan setelan tanpa cela dan suara yang tenang dan terukur. Ia tidak galak. Ia tidak kasar. Justru sebaliknya—ia begitu dingin, begitu rapi, begitu tanpa riak, sampai berada di dekatnya membuat tengkuk Nayla meremang dengan cara yang tak bisa ia jelaskan. Ketika Bu Renata melewati mejanya dan menatapnya sekilas—satu sapuan mata yang menilai, mengarsipkan, lalu membuang—Nayla merasakan suhu di sekitarnya turun, dan ia teringat dinding kamarnya yang digaruk pelan oleh sesuatu yang dingin dan sabar.
Ia menahan diri untuk tidak menggigil. Tetap dingin. Tetap dirimu.
Sepanjang hari Nayla bekerja patuh, merapikan arsip, mengamati. Dan menjelang sore, ketika sebagian besar staf sudah pulang dan ruang rapat besar kosong, ia menemukan kesempatannya. Ia perlu mengembalikan setumpuk gambar kerja ke lemari di ruang itu—alasan yang sah, tak mencurigakan. Di dinding ruang rapat, terpampang masterplan superblok dalam ukuran besar: gambar megah menara dan plaza yang sama dengan papan reklame, tapi kali ini disertai denah teknis, garis kavling, fase pembangunan, dan peta kawasan sekitarnya.
Nayla meletakkan tumpukan gambar dengan tenang, lalu—pura-pura merapikannya—berdiri di depan masterplan itu dan membacanya dengan mata seorang arsitek yang dilatih bertahun-tahun untuk melihat apa yang penting.
Dan jantungnya berhenti.
Di peta kawasan itu, ada area-area yang diarsir berbeda—ditandai sebagai "Fase Pengembangan Lanjutan", kawasan yang akan digusur dan dibangun setelah inti superblok selesai. Nayla menghafal peta tabir bocor mereka. Ia menggambarnya sendiri dengan tangannya sendiri di kertas kalkir. Dan kini, menatap masterplan resmi Cakra Bumi di dinding ruang rapat firma, ia melihatnya dengan jelas, sejelas garis yang ia tarik sendiri malam itu:
Kawasan yang ditandai untuk digusur berikutnya—area arsiran "Fase Lanjutan"—membentuk pola yang sama persis. Melingkar. Mengelilingi inti superblok. Dan tiap petak yang akan mereka gusur, satu per satu, jatuh tepat di atas titik-titik tabir bocor yang sudah ada di peta Nayla. Lahan kosong gedung kembar. Kolong jembatan. Bekas pasar lama. Sumur tua. Embung. Semua masuk ke daftar "Fase Lanjutan" Cakra Bumi.
Mereka tidak menggusur tanah-tanah itu karena nilai propertinya—sebagian tempat itu tak berharga, kolong jembatan, lahan sengketa, sumur tua di kampung nelayan. Mereka menggusurnya karena tanah-tanah itu adalah titik tabir bocor. Cakra Bumi sedang dengan sengaja, terencana, dan berurutan, merobek tabir di tiap titik melingkari pusat kota—membangun pagar terbalik itu, persis seperti yang dilihat Ki Lawu.
Nayla berdiri di depan masterplan itu, di ruang rapat yang dingin dan sepi, dan untuk pertama kalinya seluruh gambar besar terbuka di hadapannya—bukan sebagai firasat, bukan sebagai pola samar di kertas kalkir, tapi sebagai rencana hitam putih yang dicetak resmi dan ditandatangani. Ini bukan kebetulan. Ini bukan keserakahan properti biasa. Penggusuran demi penggusuran ini punya satu desain, satu maksud, dan maksud itu adalah merobek tabir kota secara sistematis dari banyak titik sekaligus.
Tangannya gemetar di atas tumpukan gambar. Ia harus keluar dari ruang ini. Ia harus memberi tahu Ki Lawu. Ia harus—
"Lama amat, Nayla."
Suara itu—tenang, terukur, dingin—datang dari ambang pintu. Nayla berbalik, dan Bu Renata berdiri di sana, menatapnya dengan mata yang tak berkedip, satu sapuan mata yang menilai persis apa yang sedang dilihat anak magang itu di dinding. Dan untuk satu detik panjang, di ruang rapat yang sunyi, Nayla merasakan suhu turun lagi, dan ia bersumpah—meski ia tahu itu mustahil, meski ia tak punya indera dhanyang—bahwa di balik tatapan dingin Bu Renata, sesuatu yang lain, sesuatu yang jauh lebih tua dan lebih lapar, balas menatapnya.