Tabungan untuk ke Sumberwangi masih kurang jauh. Mereka menghitungnya malam itu di teras—uang receh dari toples Nayla, sisa kiriman bulanan, sedikit yang ditolak-tolak diterima Ki Lawu dari Bu Sari—dan jumlahnya tak cukup bahkan untuk ongkos pulang-pergi, apalagi untuk Ki Lawu yang harus berhenti istirahat berkali-kali.
"Saya udah mikir," kata Nayla, dan dari nada hati-hatinya, Ki Lawu langsung tahu ia tak akan suka apa yang menyusul. "Kampus saya ngebuka lowongan magang. Wajib buat semester ini, sebenernya, jadi sekalian. Bayaran kecil, tapi ada. Cukup buat nambahin ongkos kampung dalam dua bulan."
"Itu baik," kata Ki Lawu, menunggu.
"Magangnya di firma arsitektur." Nayla menarik napas. "Firma yang lumayan gede. Saya udah cek profilnya." Ia berhenti. "Mereka rekanan Cakra Bumi, Pak. Yang ngegambarin masterplan superbloknya. Kalau saya keterima, saya bakal kerja di dalem—deket sama dokumen-dokumen proyek yang kita pengin tahu."
Ki Lawu meletakkan gelas tehnya pelan-pelan, dan wajahnya, yang biasanya tenang seperti permukaan sumber, beriak. "Tidak," katanya.
"Pak—"
"Tidak." Suaranya tegas, lebih tegas dari yang pernah Nayla dengar. "Kau mendengar sendiri kata Ki Jombang. Makhluk lapar mengincarmu. Kemarahanmu pada Cakra Bumi baru saja menyala terang sore tadi di depan papan itu. Dan sekarang kau mau berjalan masuk ke jantung Cakra Bumi sendiri—ke tempat di mana bau dingin itu pasti paling pekat? Itu seperti tikus berbau lezat yang dengan sukarela masuk ke sarang ular karena ingin tahu warna dinding sarangnya."
"Saya bukan tikus," balas Nayla, dan suaranya naik. "Dan saya capek dijaga kayak barang pecah belah. Bapak nggak bisa ngelindungin saya dua puluh empat jam, Pak. Bapak sendiri sekarat. Bapak lupa nama Bu Sari minggu lalu. Bapak nggak bisa berdiri sejam tanpa pusing. Gimana Bapak mau jagain saya dari makhluk yang bahkan Bapak nggak bisa lihat wujudnya?" Kata-katanya keras, tapi Ki Lawu mendengar yang sebenarnya di baliknya—bukan pemberontakan, tapi takut yang dibalik jadi marah, kebiasaan yang ia kenal betul karena gadis ini selalu begitu.
"Justru karena aku tak bisa melindungimu sempurna," kata Ki Lawu pelan, "kau jangan menambah bahaya."
"Atau," Nayla balas, dan kali ini suaranya lebih tenang, lebih tajam, suara orang yang sudah memikirkan ini lama, "justru karena Bapak sekarat, kita nggak punya waktu buat main aman. Bapak makin lupa tiap minggu. Tabir makin bocor. Cakra Bumi makin cepet gusur. Kita butuh tahu apa yang mereka rencanain di tengah lingkaran itu, dan kita butuh tahu cepet. Dari luar, kita cuma bisa nebak. Dari dalam—" ia menatap Ki Lawu lurus, "—saya bisa baca dokumen aslinya. Saya anak arsitektur, Pak. Saya ngerti denah, masterplan, dokumen tanah. Hal-hal yang nggak bisa Bapak baca lewat bau. Saya satu-satunya dari kita yang bisa masuk dan ngerti apa yang dilihat."
Ki Lawu terdiam. Karena gadis itu benar, dan ia benci bahwa gadis itu benar.
Selama berabad-abad ia menjadi penjaga—yang melindungi, yang menanggung, yang berdiri di antara warga dan bahaya. Itu hakikatnya. Dhanyang melindungi; yang dilindungi tidak melindungi balik. Tapi malam ini, untuk pertama kalinya, urutan itu terbalik. Gadis berusia dua puluh dua tahun ini, dengan tubuh fana yang bisa hancur oleh satu motor ngebut, dengan luka yang menjadikannya hidangan matang bagi sesuatu yang lapar—gadis ini menawarkan diri masuk ke bahaya untuk melindunginya, untuk mencari jalan yang ia, sang penjaga, terlalu lemah untuk tempuh.
"Aku tak suka ini," kata Ki Lawu akhirnya, dan suaranya serak. "Aku tak suka kau yang berjalan ke bahaya sementara aku menunggu di kost seperti orang tua yang ditinggal anaknya merantau."
"Saya juga nggak suka Bapak sekarat sementara saya nggak bisa ngapa-ngapain selain nyari tanah yang belum tentu ada," balas Nayla, lebih lembut sekarang. "Tapi kita lagi nggak punya pilihan yang enak, Pak. Cuma pilihan yang kurang buruk." Ia menatap pria tua itu, dan tiba-tiba ia menyadari betapa kecil dan rapuhnya Ki Lawu terlihat di kursi plastik itu, betapa jauh dari dhanyang berwibawa yang menumbuhkan bunga dari pot mati. "Saya bikin aturan, oke? Kayak aturan kotak kecil buat Bapak. Saya cuma baca, nggak ngambil apa-apa, nggak ngelawan siapa-siapa. Kalau saya nyium bahaya—nyium beneran, bukan parno—saya keluar. Dan Bapak ajarin saya. Cara baca bau orang. Cara tahu siapa yang busuk niatnya. Bapak nggak bisa masuk, tapi Bapak bisa ngajarin saya jadi hidung Bapak di dalem."
Ki Lawu memandangnya lama dalam keremangan teras. Lalu, perlahan, ia mengangguk—bukan karena ia setuju ini aman, tapi karena ia mulai mengerti bahwa menjaga seseorang bukan berarti mengurungnya, dan bahwa kadang yang paling melindungi justru yang membiarkan pergi sambil mengajari cara bertahan. "Baiklah," katanya pelan. "Aku akan ajarkan. Tapi dengar satu hal, dan ingat ini lebih dari semua yang akan kau pelajari soal bau." Ia mencondongkan tubuh, dan matanya menatap Nayla dengan kesungguhan yang membuat gadis itu terdiam. "Makhluk lapar tak bisa memasukimu dari luar. Hanya dari dalam, lewat luka yang kau buka sendiri. Maka jaga lukamu, Nak. Kalau di sana kau menemukan hal-hal yang membuat marahmu meledak—dan kau akan menemukannya—jangan biarkan marah itu jadi pintu. Tetap dingin. Tetap dirimu. Itu pertahanan terkuatmu, lebih kuat dari pot mana pun."
Nayla mengangguk pelan, dan untuk sekali ini ia tidak membantah, tidak menyindir, tidak menyembunyikan apa pun di balik sinisme. "Saya janji, Pak."
Ia melamar keesokan harinya. Dan tiga hari kemudian, surat penerimaan magang itu datang ke ponselnya, dengan logo firma yang—Ki Lawu tahu tanpa bisa membaca—menguarkan bau dingin yang sama dengan papan reklame, dengan malam terakhir Sumberwangi, dengan dinding yang digaruk pelan oleh sesuatu yang sabar dan lapar.