Malam itu Sumberwangi tidak tidur, dan Ki Lawu tahu apa artinya bila sebuah desa tidak tidur di jam ketika seharusnya hanya jangkrik yang berkuasa.
Dari dalam akar beringin tua di tepi sumber, ia merasakannya lebih dulu dari telinga siapa pun: getar mesin yang berat, asing, lapar. Bukan getar gerobak, bukan langkah kerbau, bukan derit timba yang sudah ia kenal selama dua belas keturunan. Ini getar besi yang tidak punya nyawa. Ia menarik kesadarannya naik dari serabut akar terdalam—tempat ia biasa merawat mata air agar tetap bening untuk pagi—dan menyusup ke pucuk daun, menatap ke arah jalan desa.
Lampu-lampu sorot menyala terlalu putih, terlalu tegak. Di bawahnya, orang-orang berhelm kuning berdiri sambil memegang kertas. Seorang lelaki muda menunjuk-nunjuk ke arah beringin, lalu ke arah sumber, lalu ke arah petak sawah Pak Wirya yang sejak nenek moyangnya tak pernah kekeringan. Ki Lawu mengendus. Bau orang-orang itu bukan bau jahat yang biasa ia kenal—bukan bau dengki tetangga yang iri panen, bukan bau serakah pencuri kelapa. Ini bau yang lebih dingin: bau orang yang menandatangani sesuatu di tempat jauh, lalu lupa bahwa di ujung tanda tangan itu ada tanah yang masih bernapas.
"Sabar," bisik Ki Lawu pada dirinya sendiri, atau mungkin pada beringin yang menaunginya. "Mereka cuma mengukur. Orang kota suka mengukur. Besok mereka pulang."
Tapi besok tidak datang seperti yang ia kira. Yang datang adalah deru, lalu gergaji.
Ketika mata gergaji pertama menggigit kulit beringin, Ki Lawu merasakannya di tulang yang tak ia punya. Bukan sakit seperti manusia merasakan luka—lebih buruk. Seperti seseorang menarik benang dari kain yang sudah dirajut tiga ratus tahun, satu helai, lalu sepuluh, lalu seribu sekaligus. Ia memekik, dan pekiknya hanya terdengar sebagai angin malam yang aneh oleh para pekerja. Salah satu dari mereka menggigil, menoleh, lalu tertawa pada dirinya sendiri dan melanjutkan.
Ki Lawu mencoba bertahan. Ia kerahkan apa yang ia bisa: ia gerakkan akar agar mencengkeram lebih dalam ke tanah, ia panggil rayap dan semut agar bersembunyi, ia bisikkan pada burung-burung untuk pergi sebelum dahan jatuh menimpa sarang. Tapi ia tidak bisa menahan besi. Besi tidak mendengar bisikan. Besi hanya mendengar perintah dari kertas, dan kertas itu ditandatangani di tempat yang tak pernah ia datangi.
Beringin tumbang menjelang subuh. Suaranya seperti gunung kecil yang menyerah.
Dan ketika beringin tumbang, sesuatu di bawah desa—lapisan tipis yang selama ini ia jaga tanpa pernah disebut warga, lapisan tempat dunia kasar dan dunia halus saling bersentuhan dengan sopan—ikut robek. Ki Lawu merasakan tabir itu terkoyak seperti kain tenda tua yang ditarik angin ribut. Lewat robekan itu, untuk sekejap, ia melihat hal-hal yang selama ratusan tahun ia jaga agar tetap di seberang: bayang-bayang panjang, hawa dingin yang lebih tua dari desa, sesuatu yang menggeliat senang karena pintu yang lama tertutup kini menganga.
"Tidak," desisnya. "Jangan lewat sini. Jangan—"
Tapi ia sendiri tak punya pijakan lagi. Tanpa beringin, tanpa akar, ikatan yang menahannya pada tempat ini—ikatan yang membuatnya menjadi dhanyang Sumberwangi dan bukan sekadar arus angin—terlepas seperti perahu yang talinya putus. Ia merasa dirinya disedot. Bukan ke atas, bukan ke bawah. Ke samping. Ke arah yang tidak ada dalam mata angin mana pun.
Di detik terakhir, ia menggapai. Ia mencoba menutup robekan itu dengan sisa kuasanya, seperti orang menekan luka dengan telapak tangan agar darah berhenti. Ia tutup sebagian. Hanya sebagian. Untuk sebuah luka sebesar itu, telapak tangannya terlalu kecil—dan tenaganya sudah hampir habis untuk sekadar bertahan menjadi dirinya.
Ia merasakan ada yang ikut lolos di belakangnya. Hawa dingin itu, yang menggeliat senang tadi, menyelinap lewat celah yang sama. Ki Lawu mencoba menoleh, mencoba menghitung, mencoba menamai—tapi arus sudah menariknya terlalu kuat.
Dunia menjadi gelap, lalu menjadi bising.
Bau tanah dan embun yang ia kenal sejak masih jadi benih gagasan di pikiran leluhur desa, lenyap. Diganti bau yang membuat sesuatu di dalam dirinya mual—bau aspal panas yang belum sempat dingin, bau asap yang manis dan beracun, bau ribuan tubuh manusia yang berdesakan tanpa saling kenal. Suara jangkrik diganti suara yang ia tak punya namanya: dengung tak putus, klakson, musik dari kotak entah di mana, anjing menyalak di kejauhan, dan di atas semua itu, denyut kota yang tak pernah benar-benar diam.
Ki Lawu membuka mata yang sekarang—aneh—terasa seperti mata sungguhan, mata daging, yang perih dan berair. Ia menatap langit. Tapi tak ada langit. Hanya pita sempit warna jingga kotor di antara dua dinding tinggi, dan kabel-kabel yang menyilang seperti jaring laba-laba raksasa yang dibuat oleh laba-laba yang sudah gila.
Ia mencoba bangkit dan gagal. Tubuhnya—ia baru sadar ia punya tubuh, tubuh berat yang asing, dengan kulit yang dingin dan persendian yang nyeri—terkapar di atas sesuatu yang keras dan basah. Got. Ia tergeletak di tepi got, di sebuah lorong sempit di antara bangunan-bangunan yang menjulang tanpa sopan santun, di tempat yang sama sekali tidak mengenalnya.
Untuk pertama kalinya dalam ratusan tahun, Ki Lawu tidak tahu di mana ia berada. Dan untuk pertama kalinya, tak ada satu jengkal tanah pun di bawahnya yang menjawab ketika ia memanggil.
Ia berbaring di sana sampai langit kotor itu memutih, terlalu lemah untuk menangisi pohon yang tak ada lagi.