Bau itu menuntun Ki Lawu seperti benang yang ditarik pelan, dari kelurahan ke kantor pertanahan, dari satu fotokopi ke fotokopi berikutnya, sampai akhirnya ke sebuah jalan protokol di tengah kota tempat ia berdiri menengadah pada papan reklame setinggi gedung tiga lantai—dan membeku.
Ia tak bisa membaca tulisannya. Huruf latin masih kaku di matanya. Tapi ia tak butuh membaca. Bau itu, yang sama persis dengan malam terakhir Sumberwangi, bau dingin orang yang menandatangani sesuatu di tempat jauh lalu lupa ada tanah bernapas di ujungnya—bau itu menguar dari papan ini sepekat got mampet di musim kemarau.
"Nak," katanya pelan, tanpa mengalihkan pandangan dari papan, "apa yang tertulis di situ?"
Nayla mendongak, dan wajahnya berubah. Membaca. Lalu membaca lagi, seolah barisan huruf itu tak masuk akal di percobaan pertama. Papan reklame megah itu menampilkan gambar superblok masa depan—menara kaca yang menjulang, taman digital yang terlalu hijau untuk nyata, manusia-manusia tersenyum berjalan di plaza yang belum ada. Dan di bawahnya, dalam huruf besar berwibawa: PT CAKRA BUMI WIJAYA. Membangun Masa Depan di Atas Tanah Anda.
"Cakra Bumi," Nayla membaca dengan suara yang mendadak datar dan jauh. "Pengembang superblok. Kawasan yang di tengah lingkaran peta kita, Pak. Ini perusahaannya."
Ki Lawu mengamati gadis itu. Sesuatu berubah di wajah Nayla—bukan ketakutan, bukan keterkejutan, tapi sesuatu yang lebih tua dan lebih dingin, sesuatu yang mengeras seperti luka lama yang baru saja disenggol. "Kau mengenal nama itu," kata Ki Lawu pelan. Bukan pertanyaan.
Nayla tidak menjawab langsung. Ia menatap papan itu lama, rahangnya mengeras, dan ketika ia akhirnya bicara, suaranya nyaris berbisik. "Waktu rumah keluarga saya digusur buat proyek tol—saya cerita ke Bapak, kan? Surat-surat yang 'bermasalah', ganti rugi yang kecil, Bapak saya jatuh sakit ngurusin." Ia menelan ludah. "Yang gusur kami bukan pemerintah langsung. Ada perusahaan yang dapet 'penugasan' buat ngeberesin lahan. Anak perusahaan. Saya masih kecil, tapi Bapak saya nyimpen semua dokumennya sampai dia meninggal, dan saya baca semua waktu kuliah, berkali-kali, sampai hafal." Ia menatap Ki Lawu, dan matanya berkaca tapi keras seperti kaca. "Anak perusahaan itu, Pak. Induknya Cakra Bumi Wijaya. Nama yang sama. Tangan yang sama."
Di sekeliling mereka, kota terus mengalir—klakson, ojek online berdengung, pedagang asongan menawarkan air mineral. Tapi di tengah trotoar panas itu, di bawah papan reklame megah, dua orang yang datang dari dua dunia yang sama sekali berbeda berdiri diam, dan untuk pertama kalinya menyadari bahwa luka mereka punya satu akar.
Ki Lawu merasakannya seperti dua sungai yang ternyata berhulu di mata air yang sama. Tanahnya, Sumberwangi, diuruk oleh tangan ini. Tanah keluarga Nayla, rumah tiga generasi yang jadi jalan tol, dirampas oleh tangan ini. Robekan tabir yang melemparkannya ke kota, dan kemarahan yang membuat Nayla berbau seperti pintu setengah terbuka bagi makhluk lapar—keduanya lahir dari nama yang sama di papan ini.
"Ini bukan kebetulan," gumam Ki Lawu, dan ada sesuatu yang dingin dan pasti dalam suaranya. "Makhluk lapar mengincarmu karena lukamu. Lukamu lahir dari tanah yang dirampas Cakra Bumi. Dan tabir yang merobek dan melepaskan makhluk itu—juga karya tangan Cakra Bumi. Kita kira ini dua cerita, Nak. Penggusuran desaku dan luka keluargamu. Ternyata satu."
Nayla mengusap matanya dengan punggung tangan, kasar, marah pada air mata yang berani keluar. Lalu ia menegakkan punggung, dan ketika ia bicara lagi, suaranya sudah berubah—bukan suara gadis yang luka, tapi suara seseorang yang baru saja menemukan musuh yang selama ini hanya bayangan. "Dulu saya nggak punya nama buat ngebenci, Pak. Saya cuma punya marah yang nggak tahu mau ditujuin ke mana. 'Proyek'. 'Perusahaan'. 'Sistem'. Kabur semua." Ia menatap papan reklame itu, lurus, tak berkedip. "Sekarang ada namanya. Cakra Bumi Wijaya."
Ki Lawu menatapnya, dan ia merasakan dua hal sekaligus: lega bahwa kemarahan Nayla kini punya arah, dan ngeri karena ia tahu—dengan indera dhanyang yang menajam tiap kali ia melemah—bahwa kemarahan yang punya arah jauh lebih panas, lebih nyala, dan karena itu lebih berbau bagi sesuatu yang lapar di pojok-pojok kota. Pintu di dalam diri Nayla, alih-alih menutup, baru saja terbuka sedikit lebih lebar.
"Hati-hati dengan apa yang kau nyalakan," katanya pelan. "Makhluk itu memberi makan pada marah yang tak sembuh. Semakin terang nyalamu, semakin jelas kau di kegelapan."
"Saya tahu," kata Nayla, masih menatap papan itu. "Tapi saya capek takut, Pak. Keluarga saya kalah dulu karena kami nggak ngerti apa-apa. Kali ini saya ngerti. Saya mau tahu apa yang sebenernya Cakra Bumi cari di balik semua tanah yang mereka uruk. Dan saya mau tahu kenapa mereka begitu buru-buru." Ia berbalik dari papan reklame, dan untuk pertama kalinya taruhan ini bukan cuma milik Ki Lawu—itu milik mereka berdua. "Dan saya tahu satu cara buat masuk ke dalam."