Surat keterangan domisili itu akhirnya keluar pada hari Selasa yang panas, lewat penjaminan Bu Sari, setumpuk fotokopi, tiga kali bolak-balik ke kelurahan, dan kesabaran yang nyaris habis—dan Ki Lawu memandangi kertas berstempel itu seolah ia memegang jimat dari dunia lain.
"Sekarang Bapak resmi ada," kata Nayla, melambai-lambaikan map. "Lawu Sumarwa. Itu nama Bapak di mata negara. Saya yang ngarang marganya, soalnya 'Ki Lawu, dhanyang Sumberwangi sejak sebelum Kompeni' nggak muat di formulir."
"Sumarwa," Ki Lawu mengucapkannya pelan, mencicipinya. "Dari mana?"
"Singkatan Sumberwangi. Biar Bapak nggak lupa asal. Walaupun—" Nayla berhenti, lalu melanjutkan lebih pelan, "—walaupun Bapak udah mulai lupa."
Ki Lawu menerima nama itu seperti orang menerima hadiah dari tetangga yang tahu betul apa yang ia butuhkan. Lawu Sumarwa. Dua kata yang menjahitkannya, sedikit, pada kota yang tak punya tanah untuknya.
Urusan foto KTP berlangsung di kelurahan keesokan harinya, dan menjadi tontonan kecil yang akan diceritakan ulang petugas selama berminggu-minggu. Ki Lawu duduk di kursi di depan latar merah, dan petugas muda berhati baik—yang dulu menunjukkan jalur domisili—mengarahkan kamera. "Pak, dagu dikit ke kiri. Bahu tegak. Nah. Senyum tipis, Pak."
Ki Lawu tidak tersenyum.
"Pak? Senyum dikit."
"Saya tidak berpose," kata Ki Lawu, dengan wibawa pendapa yang aneh untuk seseorang yang sedang difoto untuk kartu plastik. "Dhanyang tidak berpose. Wajah harus jujur. Kalau saya tersenyum padahal hati saya sedang berat, maka kartu itu berbohong, dan kalian sendiri yang bilang kartu ini menentukan siapa yang nyata. Saya tak mau jadi nyata lewat kebohongan."
Petugas itu menatap Nayla, bingung. Nayla mengusap wajah. "Pak, ini cuma foto. Nggak usah filosofis. Senyum dikit aja biar nggak kayak buronan."
"Apakah Pak Wirya tersenyum saat memandang sawahnya?" Ki Lawu bertanya, entah pada siapa. "Tidak. Ia memandangnya dengan hormat. Begitu saya memandang kamera ini." Dan ia memandang lensa itu dengan kesungguhan seorang penjaga yang menatap tanah keramat, sampai petugas itu menyerah, menekan tombol, dan menghasilkan foto KTP paling berwibawa dan paling menyeramkan yang pernah keluar dari kelurahan itu—seorang lelaki tua dengan tatapan yang seolah bisa membaca dosa-dosamu lewat bau.
Nayla melihat hasilnya dan tertawa sampai harus pegangan meja. "Bapak kelihatan kayak sesepuh yang siap nyantet kepala desa. Ya udahlah. Setidaknya ini jujur."
Tapi di balik kekonyolan itu, Ki Lawu merasakan sesuatu bergeser di dalam dirinya. Bukan tanah yang mengakuinya—kartu plastik tak bisa menggantikan itu. Tapi sesuatu yang lain: pijakan. Sebelum ini, ia hantu di mata kota—tak bisa apa-apa, tak bisa ke mana-mana, tak punya jalan masuk ke tatanan manusia. Kini ia, Lawu Sumarwa, ada dalam catatan negara. Dan dengan keberadaan resmi itu, datang sesuatu yang lebih berharga dari yang ia sangka: jalan.
"Nak," katanya pelan, saat mereka berjalan pulang dari kelurahan melewati pohon-pohon yang ia sapa satu per satu seperti biasa, "kau bilang kita perlu tahu siapa yang membangun pagar terbalik dari robekan tabir. Siapa yang menggusur Sumberwangi, dan kenapa."
"Iya," Nayla menoleh. "Tapi Bapak nggak bisa masuk ke kantor proyek atau ngintip dokumen. Bapak makhluk halus yang—"
"Yang sekarang punya kartu," potong Ki Lawu, dan ada secercah sesuatu yang baru di matanya, sesuatu yang strategis. "Kau sendiri bilang: di kota, kalau negara bilang kau ada, kau bisa apa-apa. Sewa, daftar, gugat, tanya. Aku tak bisa membaca dokumen lewat bau. Tapi seorang warga negara bernama Lawu Sumarwa bisa datang ke kelurahan, ke pertanahan, ke kantor mana pun, dan bertanya secara resmi: tanah Sumberwangi itu diuruk atas nama siapa? Surat-suratnya ke mana? Siapa yang menandatangani?"
Nayla berhenti berjalan. Ia menatap pria tua di sampingnya—yang sejam lalu menolak tersenyum untuk foto, yang seminggu lalu keok oleh mesin antrean, yang sebulan lalu tergeletak di got tanpa nama—dan menyadari bahwa di balik kesopanan kuno dan kegagapan teknologinya, ada kecerdikan tua seorang penjaga yang dulu menengahi sengketa antaralam dan tahu betul bahwa setiap tatanan, betapapun asing, punya celah bagi yang sabar membacanya.
"Bapak mau nelusurin proyek penggusuran lewat jalur resmi," kata Nayla pelan. "Pakai KTP."
"Aku menjaga sengketa tanah selama ratusan tahun," kata Ki Lawu, dan untuk pertama kalinya sejak ia tersesat, ada sesuatu yang menyerupai pendapa kembali dalam suaranya, ruang sidang tempat ia dulu mengadili. "Hanya bentuknya yang berubah. Dulu warga datang padaku membawa kesaksian. Sekarang aku yang datang pada kelurahan membawa fotokopi. Tapi pertanyaannya sama, Nak. Selalu sama. Tanah ini milik siapa, dan siapa yang merampasnya dari yang merawatnya?"