Nayla membentangkan kertas kalkir besar di lantai teras, memberatinya dengan pot dan gelas di tiap sudut, dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, ia merasa berada di wilayah yang ia kuasai: garis, titik, dan pola.
"Oke," katanya, pensil di telinga, satu lagi di tangan. "Pak Karyo, Bapak ceritain semua pojok yang dinginnya salah. Ki Lawu, Bapak rasain mana yang tabirnya tipis. Saya gambar. Kita lihat ada apa."
Pak Karyo, yang duduk bersila dengan secangkir kopi item pemberian Bu Sari, mulai menyebut. Tiga puluh tahun menyapu kota membuat kepalanya jadi peta yang lebih akurat dari aplikasi mana pun. "Lahan kosong deket gedung kembar yang kebakar—itu yang sampeyan datengin, Ki. Terus kolong jembatan layang sebelah selatan, yang dulu ada sungai kecilnya sebelum dibeton. Bekas pasar lama yang sekarang jadi mal, tempat pohon asam ditebang. Bekas pemakaman tua di belakang stasiun yang dipindah buat parkiran. Sumur tua di kampung nelayan utara yang ditimbun. Embung yang dikeringin buat ruko."
Nayla menandai tiap tempat dengan silang kecil, menulis nama di sampingnya dengan huruf rapi. Ki Lawu menambahkan dari firasatnya sendiri—dua titik lagi yang ia rasakan saat berjalan jauh dari kost, tempat di mana dadanya tertarik tali tak kasat mata. Titik-titik bertambah. Sepuluh. Dua belas. Lima belas.
Dan ketika silang kelima belas digambar, Nayla berhenti.
Ia duduk diam menatap kertasnya. Lalu, pelan, ia mengambil pensil keduanya, dan mulai menarik garis tipis—menghubungkan titik-titik itu, mencari bentuk, kebiasaan lama otak yang dilatih untuk melihat pola di mana orang lain hanya melihat kekacauan. Ki Lawu dan Pak Karyo menatapnya dalam diam, tak mengerti apa yang ia lakukan.
"Ini bukan acak," gumam Nayla, lebih pada dirinya sendiri. Suaranya berubah—dingin, tajam, suara orang yang baru saja melihat sesuatu yang tak ingin ia lihat. "Lihat. Semua titik ini—lahan kosong, kolong jembatan, pasar lama, pemakaman, sumur, embung—semua bekas tanah yang diuruk paksa. Bapak sendiri bilang, kan? Tiap tanah dirobek, tabir disobek. Tapi yang bikin saya merinding bukan itu." Ia mengetuk kertas dengan ujung pensil. "Yang bikin saya merinding adalah pola sebarannya."
Ia menarik satu garis lengkung besar, menyambung titik-titik terluar, dan saat garis itu tertutup membentuk lingkaran kasar, Ki Lawu merasakan sesuatu yang dingin merayap di tengkuknya bahkan tanpa indera dhanyang.
"Titik-titiknya melingkar," kata Nayla pelan. "Mengelilingi sesuatu. Lihat tengahnya—kosong. Nggak ada titik tabir bocor di tengah. Tapi semua robekan ini ngelingkarin satu kawasan yang sama persis." Ia menelan ludah. "Saya kenal kawasan itu, Pak. Saya lewat tiap minggu naik bus. Itu kawasan proyek paling gede di kota ini sekarang. Lahan bekas perkampungan yang digusur tahun lalu, lagi disiapin buat superblok. Hotel, apartemen, mal, semua jadi satu."
Ki Lawu menatap lingkaran di kertas itu, dan firasat yang selama ini menari samar di dadanya mengeras jadi bentuk. "Robekan-robekan ini bukan kebetulan yang tersebar," katanya pelan. "Mereka mengelilingi satu titik. Seperti—" ia mencari kata, "—seperti pagar yang dibangun terbalik. Bukan untuk menahan sesuatu di luar. Untuk memusatkan sesuatu di dalam."
Pak Karyo bergidik dan menyeruput kopinya dengan tangan yang sedikit gemetar. "Saya nyapu kota ini tiga puluh tahun," gumamnya, "dan saya nggak pernah lihat dingin nyebar dengan bentuk. Dingin itu acak. Datang, pergi. Tapi yang ini—" ia menatap lingkaran di kertas, "—yang ini kayak ada yang ngatur."
Nayla bersandar ke dinding, kertas kalkir di pangkuannya, dan untuk pertama kalinya ia melihat seluruh gambar—bukan sebagai mahasiswi yang membantu om-om aneh bertahan hidup, tapi sebagai seseorang yang baru saja menyadari bahwa ada tangan yang jauh lebih besar di balik semua ini. "Pak," katanya, suaranya berbeda sekarang, dewasa dan ngeri, "ini bukan cuma soal Bapak nyasar ke kota. Bukan cuma soal makhluk yang ngincer saya. Robekan tabir ini—mereka direncanain. Atau paling nggak, mereka terjadi karena ada yang dengan sengaja ngeuruk tanah-tanah ini, satu per satu, sampai kebentuk lingkaran ini." Ia menatap Ki Lawu. "Pertanyaannya bukan lagi 'gimana Bapak pulang'. Pertanyaannya: siapa yang lagi ngebangun pagar terbalik dari robekan tabir di tengah kota, dan buat apa."
Misteri yang dimulai dari satu pohon tumbang di desa kecil, malam itu, membesar—dari personal jadi geografis, dari satu kamar kost jadi seluruh peta Jakarta. Dan di tengah lingkaran kosong di kertas kalkir Nayla, di kawasan yang akan jadi superblok, sesuatu menunggu untuk diberi nama.