Pak Karyo menyapu gang itu tiap subuh, sebelum kota bangun, dan ia sudah memperhatikan lelaki tua aneh di kost Bu Sari jauh lebih lama daripada yang disangka siapa pun.
Ki Lawu bertemu dengannya secara tak sengaja, suatu subuh ketika ia tak bisa tidur dan keluar duduk di teras menatap pot-pot pagar mereka. Pak Karyo lewat dengan gerobak sampahnya, sapu lidi di tangan, dan alih-alih melewati seperti biasa, ia berhenti. Ia menatap pot palem berbunga di samping pintu—pot yang dua pekan lalu adalah kuburan kering—lalu menatap Ki Lawu, lama, dengan mata yang menyipit bukan karena curiga, tapi karena mengenali.
"Sampeyan," kata Pak Karyo pelan, suaranya parau oleh rokok dan subuh, "bukan orang biasa."
Ki Lawu menegang. Sejak banjir, ia waspada pada orang yang menatapnya seperti itu—sebagian warga sudah mulai berbisik 'dukun', 'santet banjir'. Tapi tatapan Pak Karyo berbeda. Tidak ada takut. Tidak ada curiga. Hanya semacam kelegaan tua, seperti orang yang akhirnya bertemu sesama dari kampung halaman di tengah keramaian asing.
"Apa yang sampeyan lihat?" tanya Ki Lawu hati-hati.
Pak Karyo menyandarkan sapunya, menggali saku, mengeluarkan rokok kretek dan menyalakannya dengan tangan yang sudah keriput tapi mantap. "Dari kecil saya bisa lihat yang halus," katanya, mengembuskan asap ke udara subuh. "Nenek saya bilang itu 'mata terbuka'. Bukan berkah, bukan kutukan. Cuma... saya lihat yang orang lain nggak lihat. Penunggu pohon. Penjaga sumur. Yang baik, yang nakal, yang cuma numpang lewat." Ia menatap Ki Lawu. "Dan saya lihat sampeyan. Sejak hari pertama sampeyan nyasar di got ujung gang itu, saya udah lihat. Sampeyan bukan om-om gila. Sampeyan dhanyang. Dhanyang sungguhan, jauh dari tanahnya, sekarat pelan-pelan." Ia menyeringai, gigi kuning oleh tembakau. "Saya cuma nggak ngomong, karena—siapa yang mau dengerin tukang sampah ngomong soal dhanyang?"
Ki Lawu merasakan sesuatu melonggar di dadanya, sesuatu yang ia tak sadar selama ini ketat. Selama berhari-hari ia merasa sendirian di kota yang tak percaya penjaga—hanya Nayla dan Bu Sari yang setengah percaya, hanya makhluk-makhluk sekarat di pojok terlupakan yang mengenalinya. Dan kini, seorang tukang sampah biasa, dengan sapu lidi dan rokok kretek, melihatnya apa adanya tanpa perlu dibuktikan.
"Sampeyan menghormat," kata Ki Lawu, takjub. "Tiap subuh, saat menyapu. Saya dengar. 'Permisi, ya.' Pada gang. Pada got."
Pak Karyo mengangkat bahu, seolah itu hal paling wajar di dunia. "Lha iya. Ini kan tempatnya mereka juga. Saya cuma numpang bersihin. Nenek saya ngajarin: tanah, air, pohon, mereka punya yang jaga. Kalau kita hormat, mereka hormat balik. Kalau kita seenaknya—" ia menunjuk dengan dagunya ke arah genangan sisa banjir yang belum kering, "—ya jadinya kayak gitu." Ia menyedot rokoknya. "Orang kota ketawa kalau saya ngomong gini. Mereka pikir saya bodoh. Padahal mereka yang lupa."
Ki Lawu menatap lelaki tua itu dengan rasa yang nyaris seperti hormat antarsesama penjaga. "Berapa banyak yang masih ingat caramu menghormat, Pak Karyo? Di kota sebesar ini?"
Pak Karyo terdiam, menyedot rokoknya, memikirkan pertanyaan itu lebih serius dari yang Ki Lawu duga. "Nggak banyak," akhirnya ia berkata. "Tapi ada. Lebih banyak dari yang sampeyan kira. Tukang parkir tua di pasar yang masih taruh kopi item buat penunggu pohon mangga. Mbok jamu yang nggak mau jualan lewat depan kuburan tanpa permisi. Penjaga warnet yang ngerti kenapa lampu sering mati di pojok itu. Kami nggak kenal satu sama lain, kebanyakan. Kami tersebar. Diketawain. Dilupain." Ia menatap Ki Lawu. "Tapi kami ada. Orang-orang kecil yang masih inget cara ngehormatin tanah."
Dan di subuh itu, di teras kost yang masih berbau apek banjir, Ki Lawu menyadari sesuatu yang mengubah cara ia memandang kota ini. Selama ini ia mengira Jakarta adalah gurun—tanah yang dibungkam, manusia yang lupa, dunia yang tak punya tempat untuk penjaga. Tapi ia salah. Kota ini punya akar-akar halus yang masih hidup, tersembunyi di antara beton: orang-orang kecil yang tak terlihat, tak terdengar, tak dipercaya—tukang sampah, mbok jamu, tukang parkir—yang diam-diam masih merawat tanah dengan cara mereka, masih menyimpan sopan santun tua pada yang halus.
Mereka tersebar. Mereka terlupakan. Tapi mereka ada. Dan Ki Lawu, untuk pertama kalinya, mulai berpikir bahwa mungkin ia tak perlu menjaga kota ini sendirian.
"Pak Karyo," katanya, dan ada sesuatu yang baru dalam suaranya, sesuatu yang bukan sekadar bertahan hidup, "aku perlu bicara denganmu. Soal pojok-pojok kota yang tipis tabirnya. Soal yang menyeberang lewat sana. Dan soal sesuatu yang lapar, yang memburu yang lemah."
Pak Karyo mematikan rokoknya di sol sandal, lalu menyimpan puntungnya di saku—bahkan puntung pun tak ia buang sembarangan di gang yang ia hormati. "Saya udah ngerasa," katanya pelan, dan untuk pertama kalinya ada cemas di matanya. "Beberapa pojok yang dulu cuma adem, sekarang dingin. Dingin yang salah. Ada yang ilang dari sana." Ia menatap Ki Lawu. "Cerita, Ki. Saya dengerin. Dan kalau sampeyan butuh tahu di mana tabir mulai bocor di kota ini—saya nyapu gang ini tiga puluh tahun. Saya tahu tiap pojok yang dilupain orang."