Ki Lawu menepati janjinya. Tiga hari setelah buku ingatan dimulai, ketika tenaganya cukup untuk berjalan jauh, ia kembali ke lahan kosong di antara dua gedung mati—membawa satu pot kecil tanah hidup dari pekarangan Bu Sari, ditimang di kedua tangan seperti orang menggendong bayi.
Nayla memaksa ikut. "Bapak masih lemah. Kalau pingsan di jalan, saya yang seret." Tapi Ki Lawu tahu alasan sebenarnya: gadis itu tak mau melepasnya keluar sendirian setelah pagi ia lupa nama Bu Sari.
Pagar seng yang miring itu masih ada, lebih berkarat. Rumput liar setinggi dada. Di balik puing tembok yang dipeluk akar beringin liar, di pojok paling gelap, makhluk asam tua itu meringkuk—dan Ki Lawu hampir tak mengenalinya.
Ketika ia datang dulu, makhluk itu masih bergeser-geser antara wujud monyet tua dan orang bungkuk berbulu. Kini ia nyaris tak berbentuk. Wujudnya larut di tepi, seperti tinta yang menetes ke air keruh, dan di tengahnya hanya ada bayang yang berdenyut redup, semakin lama semakin tipis. Bau yang menguar darinya—Ki Lawu mengenalinya dengan ngeri—mulai bercampur dengan dingin yang familiar. Bukan dingin sepenuhnya. Tapi mulai. Awal dari lapar.
"Penjaga," makhluk itu mendesis, suaranya kini hampir hilang di antara gemerisik daun kering. "Kau... datang... Kupikir kau bohong... seperti semua... yang berjanji..."
"Aku tak bohong." Ki Lawu berlutut, mengabaikan rumput yang mengiris kulit tangannya, dan meletakkan pot kecil itu di hadapan makhluk yang memudar. "Aku belum punya tanah utuh untuk diriku sendiri. Tapi ini—ini hidup. Ada cacing di dalamnya, ada napas. Sentuhlah. Kenalkan dirimu padanya, sedikit saja."
Makhluk itu menjulurkan sesuatu yang dulu mungkin tangan—kini hanya bayang yang berusaha mengeras—dan menyentuh tanah di dalam pot.
Untuk sesaat, sesuatu terjadi. Bayang yang berdenyut redup itu mengeras sedikit di tepinya. Wujud monyet tua kembali, samar, lalu wujud orang bungkuk berbulu, dan matanya—yang tadi seperti lampu mau mati—berkedip dengan secercah kejernihan yang nyaris memilukan. Makhluk itu menarik napas yang tak ia butuhkan, dan dari mulutnya keluar satu kata, pelan, gemetar, seolah ia menemukannya kembali di dasar sumur yang sudah lama ia kira kering:
"...Jombang." Ia mengulanginya, lebih kuat. "Jombang. Itu... itu namaku. Aku Ki Jombang. Penunggu pohon asam Pasar Lama." Ada air yang bukan air menggenang di matanya. "Aku ingat. Sebentar... aku ingat siapa aku."
Nayla, yang berdiri di belakang Ki Lawu dengan tangan menutup mulut, merasakan tengkuknya meremang—bukan dari takut, tapi dari menyaksikan sesuatu yang tak seharusnya bisa ia lihat: sesuatu yang nyaris padam, menyala kembali sejenak karena segenggam tanah dan satu janji yang ditepati.
Tapi cahaya itu tak bertahan lama. Setitik tanah hidup hanya bisa berbuat sebanyak itu. Bayang Ki Jombang mulai melarut lagi di tepi, perlahan, dan ia tahu. "Tak cukup," bisiknya, tapi kali ini tanpa keputusasaan—dengan syukur. "Tak cukup untuk menyembuhkan. Tapi cukup untuk mengingat. Kau memberiku namaku kembali, Lawu dari Sumberwangi. Untuk sesaat, aku jadi diriku lagi. Itu... lebih dari yang kuminta."
Ki Lawu mencengkeram pot itu. "Aku akan kembali. Aku akan membawa lebih banyak. Kalau aku berhasil menumbuhkan tanah hidup yang besar, akan ada tempat untukmu. Kau tak harus jadi lapar."
Ki Jombang menatapnya lama. Lalu wajahnya berubah—kejernihan yang tersisa dipakainya untuk satu hal terakhir, satu peringatan, dan suaranya menajam jadi bisikan ngeri. "Dengar dulu, sebelum aku lupa lagi. Yang mengincar gadismu—" matanya bergeser ke Nayla, dan Nayla membeku, "—aku merasakannya lewat di sini lagi tiga malam lalu. Lebih kuat dari sebelumnya. Lebih kenyang. Kau tahu kenapa ia lebih kuat sekarang?"
"Kenapa?" Ki Lawu menahan napas.
"Karena ia memakan salah satu dari kami." Suara Ki Jombang gemetar. "Penjaga lain. Yang tersesat seperti kita, tapi sudah jadi lapar, sudah lupa namanya, sudah tak bisa diselamatkan. Makhluk itu menemukannya, dan menelannya, dan dengan tiap yang ia telan ia tumbuh. Ia memakai bau kami. Wujud kami. Ingatan kami yang dicuri." Bayang itu menggigil. "Ia tidak lahir besar, Lawu. Ia jadi besar dengan memakan penjaga yang lemah. Dan gadismu—" matanya kembali ke Nayla, penuh duka, "—gadismu bukan penjaga. Tapi ia berbau seperti tanah yang direnggut. Bagi makhluk itu, itu bukan sekadar mangsa. Itu hidangan paling matang yang pernah ia endus."
Matahari mulai turun, dan bayang-bayang di lahan kosong itu memanjang dengan cara yang salah. Ki Lawu berdiri, membungkuk hormat pada Ki Jombang yang sudah mulai melarut kembali ke bayang, dan menarik Nayla keluar dari pagar seng yang miring. Sepanjang jalan pulang, gadis itu tak bicara. Dan Ki Lawu, untuk pertama kalinya, merasa firasat yang menarik dadanya sejak banjir bukan lagi sekadar firasat. Itu sudah hitungan mundur.