Ki Lawu bangun pagi itu, menatap perempuan paruh baya yang berdiri di ambang pintu kamarnya membawa segelas teh, dan tidak tahu siapa dia.
Wajah itu familiar. Sapu di tangannya familiar. Cara perempuan itu memicingkan mata dengan galak-galak penyayang, familiar. Tapi namanya—nama yang seharusnya ada di ujung lidahnya seperti nama tetangga lama—tidak ada. Tempat itu kosong di kepalanya, halus dan rapi, seperti sepetak tanah yang baru disapu hingga tak ada jejak bahwa di situ pernah ada sesuatu.
"Bapak kenapa bengong?" tanya perempuan itu. "Tehnya keburu dingin."
Ki Lawu menerima gelas itu dengan tangan yang gemetar, dan ia mencoba—mencoba sekeras orang menggali sumur kering—menarik nama itu kembali. Tidak bisa. Ia tahu perempuan ini menyumbang baju almarhum suaminya. Ia tahu perempuan ini hampir memanggil satpam di hari pertama. Ia tahu cinta perempuan ini pada kost tua ini yang menebalkan ambang dan menahan makhluk lapar. Semua itu ada. Hanya namanya yang lenyap.
"Bu..." ia mulai, lalu berhenti.
Nayla, yang baru masuk membawa sketsanya, langsung membaca wajahnya. Ia sudah belajar membaca wajah itu seperti membaca cuaca. "Bapak," katanya pelan, hati-hati, "siapa nama Bu Sari?"
Dan ia melihat Ki Lawu tersentak halus—Sari, ya, Sari, begitu nama itu diucapkan orang lain, ia mengenalinya, ia tahu itu benar—tapi ia juga melihat ngeri yang menggenang di mata tua itu, karena Ki Lawu tahu apa artinya. Ia tidak lupa Sari adalah Sari. Ia lupa cara menariknya keluar sendiri. Nama itu masih ada di suatu tempat di kepalanya, tapi jalan menujunya sudah tertimbun.
"Banjir itu," bisik Ki Lawu setelah Bu Sari pergi, suaranya nyaris tak terdengar. "Aku bilang jam pasirku mengalir lebih cepat. Aku tak tahu secepat ini. Kemarin aku lupa nama sumber air yang kujaga ratusan tahun. Hari ini aku lupa nama perempuan yang memberiku makan tiga kali sehari." Ia menatap kedua tangannya. "Besok apa? Lusa siapa?"
Nayla duduk di lantai di depannya. Ia tidak mengatakan hal-hal kosong yang menenangkan—'pasti baik-baik aja, Pak', 'Bapak cuma capek'. Ia tidak begitu. Otak arsitekturnya menolak kebohongan yang tak bisa ia hitung. Sebaliknya, ia membuka buku sketsanya ke halaman kosong, mengambil pensil, dan menulis di paling atas dengan huruf tegak: LAWU.
"Apa yang kau lakukan?" Ki Lawu menatap.
"Kita bikin buku ingatan," kata Nayla, dan suaranya datar agar tak gemetar. "Bapak lupa nama sumber air? Sebut sekarang, mumpung masih inget kalau Bapak lupa. Sebut semua yang Bapak tahu tentang diri Bapak. Nama desa. Nama warga. Berapa keturunan Bapak jaga. Warna mata orang-orang yang Bapak sayang. Semua. Saya tulis."
"Untuk apa?" Ki Lawu mengerutkan kening. "Kalau aku lupa, kertas tak bisa mengembalikannya. Itu hilang dari dalamku."
"Hilang dari Bapak. Tapi nggak hilang dari dunia." Nayla menatapnya lurus. "Bapak bilang dhanyang itu dilahirin dari cinta warga ke tanah, kan? Dari yang diinget. Selama ada yang inget, Bapak nggak bener-bener hilang. Kalau Bapak lupa siapa Bapak, saya yang nyimpen. Saya bacain. Saya bilang: Bapak Ki Lawu, dhanyang Sumberwangi, Bapak jaga sumber air dua belas keturunan, Bapak benci besi yang nggak punya nyawa, Bapak nunduk ke nasi sebelum makan. Saya jadi tanah Bapak. Buat nyimpen."
Ki Lawu menatap gadis itu lama, dan sesuatu yang besar dan terharu dan ngeri sekaligus bergerak di dadanya. Karena ia mengerti apa yang baru saja ditawarkan Nayla, dan ia mengerti pula keganjilannya. Di Sumberwangi, ingatannya disimpan oleh tanah, oleh akar beringin, oleh cerita yang dibisikkan nenek pada cucu di malam panen. Itu cara lama, cara hidup, cara tumbuh. Dan kini, di kota tanpa tanah, ingatannya akan disimpan di kertas—dalam huruf tegak seorang mahasiswi arsitektur, ditata seperti dokumen kelurahan, seperti surat tanah, seperti KTP. Hal-hal yang dulu ia kira hanya kertas mati yang menentukan siapa yang nyata.
"Jadi begini caranya kalian bertahan," gumamnya, antara haru dan getir. "Kalian tak punya tanah yang mengingat, jadi kalian mengukir ingatan di kertas. Kalian sebut itu 'arsip', 'dokumen', 'catatan'. Dan kau menawariku jadi salah satunya."
"Iya," kata Nayla, pensil menunggu di atas kertas. "Bapak keberatan?"
Ki Lawu menarik napas panjang. Lalu, pelan-pelan, ia mulai berbicara. Ia menyebut nama desa, kaki gunung, jumlah keturunan. Ia menyebut warga yang panennya ia lebihkan, sengketa air yang ia damaikan. Ia menyebut hal-hal kecil—rasa embun subuh di akar, suara timba yang ia kenal, cara cahaya jatuh di sumber pada bulan tertentu. Dan setiap kali ia menyebut sesuatu, Nayla menulisnya, tegak dan rapi, dan Ki Lawu memperhatikan dengan campuran lega dan ngeri bahwa beberapa hal yang ia sebut, ia sebut dengan ragu—seolah ia membacanya dari kabut, tidak yakin lagi mana yang masih utuh dan mana yang sudah mulai larut.
Di tengah-tengah, ia berhenti. "Tulis ini juga," katanya, suaranya pecah sedikit. "Tulis bahwa aku tak boleh lupa Nayla. Apa pun yang terjadi. Kalau aku mulai lupa nama-nama lain, tak apa. Tapi nama itu—garis bawahi. Itu nama yang kugenggam dari banjir. Itu yang kupilih untuk tidak hilang."
Nayla menunduk lama ke kertasnya agar Ki Lawu tak melihat matanya berkaca. Lalu ia menggarisbawahi satu kata, dua kali, tebal, dan tidak berkata apa-apa, karena kalau ia berkata sesuatu sekarang suaranya pasti akan pecah, dan ia sudah cukup lama berpura-pura marah supaya tak menangis.