Paginya, garis lumpur di dinding masih ada, bau apek banjir masih menempel, tapi ada yang berubah di kost Bu Sari: untuk pertama kalinya, Ki Lawu punya rencana, bukan sekadar bertahan.
Ia duduk di lantai teras dengan Nayla di depannya, dan ia menjelaskan dengan kesabaran orang yang menjelaskan musim pada anak yang belum pernah melihat panen. "Rumah yang dirawat menipiskan jalan makhluk itu. Kita sudah tahu. Tapi cinta Bu Sari sendiri tak cukup—ia satu orang, dan tangannya tak sampai ke setiap sudut. Kita perlu lebih dari satu titik. Kita perlu pagar."
"Pagar gimana?" Nayla sudah memegang buku sketsanya, pensil siap, refleks lama. "Bapak nggak bisa numbuhin beringin di gang sempit."
"Tidak butuh beringin." Ki Lawu mengambil segenggam tanah dari ember eksperimen yang gagal, tanah mati toko bunga itu, dan membiarkannya jatuh dari sela jari. "Butuh tanah yang hidup. Sedikit saja di tiap sudut. Tanah yang bernapas, yang ada cacingnya, yang dirawat tiap hari—di setiap titik itu, ambang menebal. Bukan satu dinding besar. Banyak titik kecil, seperti pasak di sekeliling sawah. Makhluk itu mencari celah. Kalau setiap sudut menolaknya, ia kehabisan celah."
Nayla menggambar denah kost di buku sketsanya—ia hafal tiap sudut bangunan tua itu—dan menandai titik-titik dengan silang kecil. Pojok teras. Bawah tangga. Ambang pintu belakang. Bawah jendela kamar Mbak Yuni. Bawah jendela kamarnya sendiri. "Lima titik," katanya. "Pot-pot kecil. Yang bisa kita rawat."
"Tapi tanahnya harus hidup," Ki Lawu mengingatkan. "Tanah toko mati. Aku tak bisa berkenalan dengan yang sudah lupa caranya hidup."
Di sinilah Bu Sari, yang sejak tadi mendengarkan dari ambang dapur dengan tangan terlipat dan dahi berkerut, akhirnya bersuara. "Saya punya tanah bekas pekarangan belakang. Dulu saya tanami kangkung sebelum males. Itu masih ada cacingnya, masih bau tanah betulan." Ia mendengus. "Tapi saya kasih tahu dulu, ya. Saya ini setengah nggak percaya sama omongan pagar-pagaran gaib. Setengah. Saya cuma—" ia berhenti, rahangnya mengeras, "—saya lihat sendiri anaknya Pak Darto kemarin. Air segede itu, harusnya kebawa. Tapi nggak. Macet di tiang persis di deket Bapak ini berlutut. Saya tua, saya bukan orang pintar, tapi saya nggak buta."
Ki Lawu membungkuk hormat dari posisinya duduk. "Setengah percaya sudah lebih dari yang kuharap, Nyai."
"Jangan panggil saya Nyai," gerutu Bu Sari, tapi telinganya memerah, dan ia berbalik mengambil sekop.
Mereka bekerja sepanjang pagi sampai siang. Bu Sari menggali tanah pekarangan belakangnya, tanah gelap yang lembap dan penuh cacing yang menggeliat protes. Nayla mengangkut pot-pot bekas—kaleng cat, ember pecah, pot tanah liat yang sumbing—dan menempatkannya di lima titik sesuai denah. Pak Darto, yang lewat dengan gerobak buburnya dan mendengar keributan, ikut menyumbang dua pot dan, tanpa banyak tanya, sekantong kompos dari sisa kacang ijonya yang basi. "Buat anak saya selamat kemarin," katanya pada Ki Lawu, suaranya serak. "Saya nggak ngerti Bapak ngapain. Tapi saya bantu."
Ki Lawu mengerjakan bagiannya paling akhir, paling pelan, karena bagiannya paling mahal. Di tiap pot tanah hidup, ia menempelkan dua jari dan menanam 'sapaan'—bukan mempercepat tumbuh, bukan keajaiban besar, hanya memperkenalkan diri pada tanah, sehalus mungkin, seirit mungkin. "Aku Lawu," bisiknya pada setiap pot, dalam bahasa lembut berirama yang Nayla tak kenal. "Aku numpang menjaga di sini. Kenalilah langkahku." Tiap perkenalan menguras setetes. Lima pot, lima tetes. Ia menghitungnya dengan cermat, tak boros, persis aturan kotak kecil yang dulu mereka sepakati. Selesai pot kelima, ia pucat dan berkeringat, tapi tidak tumbang. Ia belajar. Ia mulai belajar berhemat.
Malam itu, mereka menunggu.
Garukan datang lagi, lewat tengah malam, di dinding kamar Nayla. Tapi kali ini berbeda. Ki Lawu, yang duduk berjaga di teras dengan Bu Sari yang ngotot menemani sambil pura-pura mengantuk, merasakan makhluk itu mendekati pot di bawah jendela Nayla—lalu mundur. Mendekati pot di pojok teras—lalu mundur. Hawa dingin itu berputar di sekeliling kost seperti binatang yang mengendus pagar listrik, mencari satu jeruji yang putus, dan tak menemukannya.
Lalu, untuk pertama kalinya, ia mundur sejengkal. Sungguh-sungguh mundur. Hawa dingin menjauh dari dinding, menjauh dari gang, menipis sampai ke ujung lorong, dan untuk semalam itu, garukan berhenti.
Bu Sari, yang merasakan suhu naik kembali normal tanpa tahu kenapa, menghela napas panjang dan menggumam, "Ademan dikit."
Ki Lawu menatap lima pot kecil yang berkilau lembap di bawah lampu gang kuning, lalu menatap dinding tempat dingin itu tadi mengintai, dan untuk pertama kalinya sejak ia tersedot ke kota ini, ia tidak merasa seperti korban yang tergeletak di tepi got. Ia merasa seperti penjaga yang baru saja menancapkan pasak pertama di tanah yang harus ia rebut sejengkal demi sejengkal. "Mundur sejengkal," gumamnya, hampir tersenyum. "Bagus. Sejengkal hari ini. Sejengkal lagi besok."