Garukan itu tidak berhenti. Pelan, sabar, sebutir demi sebutir, seperti kuku panjang yang dijalankan di sepanjang plester dinding tanpa terburu-buru, karena yang menggaruk tahu tak ada yang akan datang menolong.
Ki Lawu memaksa tubuhnya bangkit. Nayla mencoba menahannya—"Bapak nggak kuat berdiri, jangan—"—tapi ia menepis tangan gadis itu dengan lembut dan menumpukan berat pada dinding kamar. Setiap persendian daging tuanya berteriak. Pandangannya berputar. Tapi ia berdiri, karena ia tahu satu hal yang Nayla belum tahu: yang di balik dinding itu sedang menimbang. Menghitung. Dan kalau ia, satu-satunya penjaga di rumah ini, terbaring tak berdaya, makhluk itu akan menyimpulkan bahwa pintu sudah boleh didorong.
Ia tidak punya tenaga untuk melawan. Ia tahu itu. Maka ia tidak akan melawan. Ia akan membaca.
Ki Lawu menempelkan telapak tangannya yang gemetar ke dinding yang dingin—dingin yang bukan dari banjir, dingin dari seberang—dan ia menghirup. Bukan dengan hidung daging. Dengan hidung yang lebih tua, yang justru menajam tiap kali tubuhnya melemah, seolah semakin redup ia, semakin tipis pula kain yang memisahkannya dari dunia halus. Bau itu menampar masuk: bau yang tak punya bau, kekosongan yang berbentuk, seperti lubang di tengah ruangan yang menyedot udara. Ada lapis-lapis di dalamnya. Ia mengendus lebih dalam, dan apa yang ia temukan membuat tengkuknya meremang.
"Ia memakai bau yang dicurinya," gumam Ki Lawu, hampir tak terdengar. "Di bawah dinginnya, ada bau lain. Bau lumpur sungai yang dibeton. Bau pohon kenari yang ditebang. Bau sumur tua yang ditimbun." Ia menelan ludah. "Ia tidak punya wujud sendiri, Nak. Ia memakai potongan-potongan dari yang sudah ia makan. Penjaga-penjaga lain. Yang lemah. Yang lupa lalu lapar lalu lenyap."
Nayla berdiri di belakangnya, kedua tangan menggenggam erat lengan kursi sampai buku-buku jarinya memutih. "Bapak bisa lihat dia?"
"Tidak perlu melihat untuk tahu." Ki Lawu memejamkan mata, membaca seperti orang membaca air sungai dari riaknya. "Ia belum bisa masuk. Dengar baik-baik—ia belum bisa masuk." Suaranya, meski lemah, menyimpan sesuatu yang membuat Nayla mengangkat kepala. "Garukan itu bukan tanda ia kuat. Itu tanda ia terhalang. Kalau ia bisa menembus, ia tidak akan menggaruk. Ia akan langsung di dalam."
Garukan berhenti sejenak, seolah yang di seberang mendengar, lalu mulai lagi, lebih marah, lebih cepat.
Ki Lawu menelusuri dinding dengan tangannya, dari sudut ke sudut, dan ia mulai mengerti. Ia membaca ambang rumah ini seperti membaca pagar desa. Kost Bu Sari bukan bangunan mati. Dindingnya disapu tiap pagi. Lantainya dipel dengan air yang dicampur sedikit cuka oleh tangan yang peduli. Pot palem di depan—yang ia tumbuhkan—sekarang berbunga, dan ada tangan yang menyiramnya. Di setiap retak, ada doa kecil Bu Sari yang menggumam saat ia membersihkan, kebiasaan tua perempuan kampung yang bahkan tak ia sadari masih ia lakukan: "Permisi, ya. Permisi."
"Rumah ini dirawat," kata Ki Lawu, dan ada keheranan dalam suaranya, keheranan yang nyaris seperti syukur. "Bu Sari merawatnya dengan sepenuh hati. Bukan karena tahu ada makhluk yang harus ditolak. Hanya karena ia mencintai tempat ini, karena tempat ini satu-satunya yang ia punya sejak suaminya pergi. Dan cinta itu—" ia mengetuk dinding pelan, "—mengeras jadi ambang. Tanah yang dirawat tulus menipiskan jalan makhluk lapar. Ia tak bisa masuk ke tempat yang masih dihuni, masih dicintai. Ia hanya bisa menggaruk dari luar."
Nayla menatapnya, dan untuk pertama kalinya sejak dingin itu merayap masuk, ada sesuatu selain teror di wajahnya. "Jadi kita aman?"
"Tidak." Ki Lawu jujur, seperti selalu, menyakitkan. "Kita terhalang. Itu berbeda. Garukan akan terus. Ia akan mencari celah. Setiap kali cinta yang merawat rumah ini menipis—setiap kali Bu Sari terlalu lelah menyapu, setiap kali salah satu dari kita membawa pulang luka yang membuka pintu di dalam diri—garukan itu akan jadi gigitan." Ia menatap ke arah dinding, ke seberang yang tak terlihat, dan untuk pertama kalinya sejak banjir, suaranya tidak gemetar. "Tapi malam ini, ia tak akan masuk. Dan aku tak akan pergi."
Nayla mengernyit. "Pergi ke mana?"
Ki Lawu berpaling padanya. Sejak siuman, ada perang dalam dadanya—tanah Sumberwangi yang memanggil, celah pulang yang mungkin tertutup, satu-satunya cara ia berhenti memudar di satu sisi; dan gadis ini, yang diendus oleh sesuatu yang ia sendiri lepaskan, di sisi lain. Sepanjang dua hari ia terbaring, ia memutar-mutar pilihan itu sampai kepalanya sakit. Dan baru sekarang, berdiri di depan dinding yang menggaruk, ia menyadari pilihan itu sudah dibuat tanpa ia ucapkan.
"Tanah Sumberwangi bisa menunggu," katanya pelan. "Mungkin tertutup, mungkin tidak. Aku akan kehilangan lebih banyak diriku karena menunda. Aku tahu itu." Ia menatap mata Nayla, mata yang dua hari lalu nyaris ia lupa warnanya, yang ia genggam mati-matian dari arus banjir. "Tapi tanah tak bisa diburu makhluk yang menggaruk dinding. Kau bisa. Maka aku tinggal."
"Bapak—" Nayla menelan kata-katanya. "Itu konyol. Bapak butuh tanah itu buat hidup. Kalau Bapak nunggu, Bapak bisa lupa sampai nggak ingat siapa Bapak."
"Mungkin." Ki Lawu duduk kembali ke tepi kasur, kehabisan tenaga, tapi punggungnya tegak dengan wibawa yang aneh, wibawa pendapa yang tak hilang meski tubuhnya rapuh. "Tapi dhanyang yang membiarkan yang dijaganya dimakan agar dirinya sendiri bisa pulang—itu bukan dhanyang. Itu hanya keserakahan yang memakai topeng penjaga. Persis seperti makhluk di balik dinding itu." Ia tersenyum tipis, lelah, mantap. "Aku tak mau jadi seperti dia."
Di balik dinding, garukan berhenti. Bukan menyerah. Hanya menimbang ulang. Hawa dingin itu bergeser perlahan, menjauh sejengkal, seolah penasaran dengan apa yang baru saja diputuskan oleh penjaga lemah yang seharusnya sudah menyerah.
Ki Lawu menatap dinding tempat dingin itu tadi merayap, lalu menatap kamar sempit seluas tiga langkah ini, lalu menatap Nayla yang masih menggenggam lengan kursi. Dan untuk pertama kalinya sejak beringinnya tumbang, ia tidak melihat tempat persinggahan sementara. Ia melihat sesuatu yang harus dijaga.
"Mulai malam ini," katanya, suaranya pelan tapi tak bisa dibantah, "kost ini benteng pertama kita."