Selasa pagi, Tara datang lebih awal dan membawa ponselnya langsung ke ruang kerja Arka. Surti kembali dirawat sejak akhir pekan, sesudah kondisinya memburuk di rumah baru. Perpindahan ke Kemang tidak menghilangkan kebutuhan perawatannya. Pesan dari nomor tak dikenal masih tersimpan: jangan datang ke rumah besar. Ia meletakkan ponsel di meja, layar menghadap Arka.
'Sabtu malam. Itu ancaman yang saya terima setelah undangan Aryo,' katanya. 'Saya tetap berniat datang, tapi saya tidak mau berangkat dengan informasi setengah-setengah.'
Arka membaca pesan itu sekali. Rahangnya mengeras. 'Kamu tidak akan datang.'
'Itu keputusan saya, Pak. Bukan keputusan Bapak.'
Tatapan Arka berpindah dari layar ke wajah Tara. 'Kalau pesan itu benar, mereka mungkin menunggumu.'
'Kalau saya tidak datang, mereka tetap bisa mencari saya. Saya ingin tahu apa yang membuat mereka mengirim pesan itu. Tapi saya tidak akan jadi umpan tanpa tahu risikonya.' Tara menunjuk ponselnya. 'Saya minta Bapak jelaskan apa yang diketahui, apa yang cuma dugaan, dan bagaimana saya bisa pulang kalau keadaan berubah.'
Arka diam. Tara menyadari tangannya sendiri gemetar, tetapi ia tidak menarik ponsel kembali.
'Aku belum tahu siapa yang mengirimnya,' kata Arka akhirnya. 'Aku juga tidak tahu apakah acara itu dirancang untuk menjebakmu. Aku tidak akan mengatakan aku bisa menjamin semuanya aman.'
Pengakuan itu tidak membuat situasi lebih aman, tetapi setidaknya tidak menambah kebohongan. Tara bertanya apakah undangan Aryo benar-benar mencantumkan namanya atau hanya disampaikan lewat telepon. Arka menjawab ia belum melihat undangan tertulis. Ia meminta Tara mengirim pesan kepada Aryo untuk meminta detail acara secara langsung.
'Saya bisa melakukannya sendiri,' kata Tara. 'Saya tidak mau Bapak membalas atas nama saya.'
Arka mengangguk. 'Benar.'
Tara menanyakan pulpen perekam yang diberikan Arka. Ia masih memilikinya, tetapi belum yakin ingin menggunakannya. Arka berkata alat itu bukan izin untuk merekam diam-diam tanpa memikirkan akibatnya. Rekaman belum tentu sah atau cukup sebagai bukti, dan bisa membuat keadaan memburuk bila diketahui. Tara meminta keputusan itu tetap di tangannya.
'Aku tidak akan mengambil pulpenmu atau memaksamu membawanya,' kata Arka. 'Kalau kamu memilih memakainya, kita sepakati fungsinya hanya untuk catatanmu dan file tidak dibagikan sembarangan. Kalau kamu tidak mau, kita cari cara lain untuk mencatat kejadian.'
Tara belum memutuskan. Ia berkata kehadirannya bukan untuk memancing pengakuan siapa pun. Ia ingin mendengar dan mengamati, lalu pergi jika ada tekanan atau ancaman langsung. Arka menyetujui bahwa keputusan itu harus menjadi batas utama.
Mereka menulis beberapa hal di kertas: Tara datang dengan kendaraan sendiri; ponsel tetap padanya; Arka tidak akan menyuruhnya masuk ke ruangan tertutup atau memisahkannya dari jalan keluar; Tara boleh mengirim satu kata kepada Arka jika ingin pulang; dan ia tidak perlu menjelaskan alasan di depan keluarga. Bila ponsel kehilangan sinyal atau rencana berubah, mereka tidak melanjutkan masuk.
'Kata keluarnya apa?' tanya Arka.
Tara memilih 'pulang'. Tidak ada sandi rumit yang harus ia ingat saat takut.
Arka menawarkan agar pengawalnya menunggu di dekat gerbang. Tara menolak jika orang itu mengikuti atau mengawasi dirinya. Ia bersedia ada petugas keamanan di area umum, selama ia tahu siapa orangnya dan tidak diminta bergantung pada mereka. Arka setuju membicarakan posisi keamanan, tetapi tidak menetapkan sebelum Tara melihat tempatnya.
'Satu lagi,' kata Tara. 'Uang rumah sakit dan kontrakan tidak boleh bergantung pada apakah saya datang atau membantu Bapak. Kalau saya berhenti, Ibu saya tetap harus dirawat.'
Arka menunduk pada kertas. Ia berkata biaya yang sudah dibayarkan tidak akan ditagih kembali dan bantuan berikutnya harus jelas jumlah serta tujuannya. Ia tidak akan menjadikan pekerjaan mata-mata sebagai syarat untuk perawatan Surti. Tara meminta itu ditulis terpisah dari tugas kerjanya.
Rapat pagi menunggu Arka. Ia menutup kertas, lalu berkata mereka akan membahas detail lagi setelah Tara menerima informasi acara. Tara mengambil ponselnya. Di luar ruangan, ia menyusun pesan singkat kepada Aryo: ia mengonfirmasi akan hadir Sabtu, meminta alamat lengkap, waktu, siapa saja yang diundang, dan apakah ia perlu membawa sesuatu.
Aryo membalas beberapa menit kemudian. Acara keluarga di rumah besar mulai pukul tujuh malam. Daftar tamu belum lengkap, tetapi ia memastikan orang tua dan kerabat inti hadir. Ia akan mengirim lokasi dan aturan akses pada hari Jumat.
Tara menunjukkan balasan itu kepada Arka. Ia tidak meminta Arka menjawab. Arka membaca, lalu berkata rumah besar memiliki dua pintu masuk, tetapi ia tidak akan memutuskan pintu mana yang digunakan Tara tanpa memeriksa keadaan saat itu.
Tara kembali ke mejanya. Ia masih takut, masih membutuhkan gaji, dan masih tinggal di rumah yang dibiayai Arka. Namun setidaknya ia mulai menamai batas yang tidak boleh ditukar dengan rasa terima kasih.
Arka mengirim pesan menjelang tengah hari agar Tara membawa flashdisk hitam ke ruang rapat kecil. Tara memandangnya lama sebelum memasukkan benda itu ke tas. Daftar empat puluh tujuh halaman tersebut sudah membuat nama-nama keluarga terasa seperti dakwaan, padahal banyak catatannya ditulis dengan kata 'diduga'.
Di ruang rapat, Arka membuka file dari salinan perusahaan. Ia tidak meminta Tara duduk di sebelahnya. Tara memilih kursi dekat pintu dan meletakkan tas di pangkuan.
'Saya mau tahu asal daftar ini,' katanya. 'Siapa yang menyusun? Kapan? Dari dokumen apa?'
Arka menyandarkan siku pada meja. 'Tim internal yang menelusuri kematian ayahku dan perubahan dana perusahaan. Sebagian dari mantan pegawai, sebagian dokumen yang aku kumpulkan sendiri.'
'Nama timnya?'
'Tidak ada satu tim resmi. Aku mengumpulkan informasi dari beberapa sumber.'
Tara menatap layar. 'Berarti ini bukan laporan penyidikan.'
'Bukan.'
'Dan motif yang ditulis bukan bukti bahwa mereka melakukan kejahatan.'
'Aku tahu.' Arka menghela napas. 'Aku tetap menyebut daftar hitam. Itu namaku sendiri.'
Tara membuka halaman pertama. Aryo: motif kekuasaan, dugaan proyek fiktif. Ratna: perbedaan dengan Arka dan hubungan pribadi yang belum terverifikasi. Slamet: kecemburuan warisan dan kecurigaan soal kecelakaan Hendra. Dewi: catatan pencucian uang yang konon dihapus. Reza: direkrut cepat dan diduga memantau Arka. Setiap baris terasa seperti campuran potongan dokumen, omongan, dan penafsiran.
'Mana yang bisa saya cek secara sah?' tanya Tara.
Arka menunjuk berkas proyek properti Kalimantan yang sempat ia buka. Ada laporan anggaran awal dua ratus miliar dan versi pembaruan tiga ratus lima puluh miliar. Tara belum melihat dokumen asli, hanya salinan di laptop Arka.
'Kalau ini benar, selisihnya seratus lima puluh miliar,' katanya. 'Tapi kita belum tahu ke mana dana itu pergi. Dan belum tahu siapa yang mengubah angka.'
'Aryo dan Dewi punya akses.'
'Punya akses tidak sama dengan melakukan.'
Arka terdiam. Ia mengakui Tara benar. Dokumen itu belum cukup untuk menuduh siapa pun. Ia berkata catatan transaksi bank dan persetujuan proyek berada di arsip perusahaan, tetapi ia belum meminta akses resmi karena khawatir kebocoran.
Tara menanyakan siapa yang dapat melihat file di flashdisk. Arka menjawab file itu ada dalam perangkat terenkripsi dan hanya ia serta seorang staf lama yang pernah mengakses. Ia tidak menyebut staf itu dengan nama. Tara meminta log akses yang tersedia, bukan cerita lisan. Arka setuju meminta bagian teknologi menyimpan log sebelum ada perubahan.
Mereka membuat tabel tiga kolom di papan: dokumen yang terlihat, keterangan yang belum diverifikasi, dan dugaan. Tara menuliskan bahwa daftar itu sendiri belum membuktikan pembunuhan Hendra. Arka tidak suka membaca kalimat tersebut di ruangan, tetapi ia tidak menghapusnya.
'Kamu mau aku percaya siapa?' tanyanya.
'Tidak ada yang meminta Bapak percaya. Kita periksa apa yang bisa diperiksa.'
Sore itu Tara meminta akses ke arsip keuangan melalui prosedur perusahaan untuk tugas administrasi, bukan melalui kode rahasia. Arka menyetujui permintaan resmi dan meminta bagian keuangan menyiapkan dokumen yang boleh dilihat asisten proyek. Ia tidak mengirim Tara lagi ke basement berisi kamera.
Sebelum pulang, Tara memeriksa daftar undangan Aryo. Belum ada nama selain keluarga. Ia bertanya kepada Arka apakah acara itu termasuk agenda resmi perusahaan. Arka menjawab itu makan malam keluarga, tidak ada rapat pemegang saham terjadwal. Ia belum tahu apakah proyek Kalimantan akan dibahas.
'Kalau mereka mulai bicara tentang dokumen, saya akan mendengar,' kata Tara. 'Tapi saya tidak akan memancing atau mengarang pertanyaan supaya mereka mengaku.'
'Aku tidak memintamu mengarang.'
'Bapak meminta saya berpura-pura dirayu dan melaporkan semuanya. Itu sama-sama berbahaya kalau saya tidak tahu batasnya.'
Arka menunduk. Ia mengakui permintaannya sebelumnya terlalu luas. Tara tidak setuju menjadi alat untuk membuat Aryo ceroboh. Ia bersedia mencatat hal yang terjadi secara alami dan menyampaikan fakta yang bisa ia pertanggungjawabkan.
Arka berkata ia menerima itu. Tara memasukkan flashdisk ke tas dan meninggalkan ruang rapat. Daftar nama tetap di sana, tetapi untuk pertama kalinya ada garis yang memisahkan kecurigaan dari bukti.