Tiga hari kemudian, Tara pindah.
Bukan karena dia mau. Tapi karena Arka tidak memberi pilihan. Sebuah mobil box datang Jumat pagi, dua orang pria langsung mengangkut semua barang mereka yang jumlahnya hanya tiga kardus kecil dan satu kasur tipis ke dalam mobil.
Ibu Tara hanya bisa terdiam di kursi roda yang juga disediakan Arka. Matanya mengembara ke rumah kontrakan yang sudah ditempati selama dua belas tahun. Dinding jamur. Atap bocor. Lantai tanah yang jika hujan berubah menjadi lumpur.
"Bu, kita pindah ke tempat yang lebih baik," kata Tara sambil menggenggam tangan ibunya.
Surti tidak menjawab. Dia hanya menunduk. Tara tidak tahu apakah ibunya menangis atau tidak.
---
Kontrakan baru berada di kawasan Kemang.
Bukan rumah besar. Tapi jauh lebih layak dari sebelumnya. Dua kamar tidur, satu ruang tamu, dapur kecil, dan kamar mandi dengan air panas. Ada taman kecil di depan dengan tanaman hijau yang terawat.
Tara hampir tidak percaya ini semua untuk mereka.
"Ini semua dari bos kamu?" tanya Surti pelan.
Tara mengangguk. "Iya, Bu."
"Kenapa dia baik banget?"
Tara tidak tahu harus menjawab apa. Karena Tara sendiri juga bertanya hal yang sama.
Dia tidak percaya Arka melakukan ini hanya karena "investasi". Tidak ada CEO yang menginvestasikan kontrakan layak untuk asisten pribadinya.
Tapi dia juga tidak mau berpikir terlalu jauh.
Untuk saat ini, biarkan saja hal baik terjadi.
---
Senin pagi, Tara kembali bekerja.
Begitu memasuki lantai eksekutif, dia langsung disambut oleh pemandangan yang tidak biasa. Sekelompok pria berdiri di depan ruang rapat utama. Mereka semua mengenakan jas hitam. Wajah mereka tegang.
Arka berdiri di tengah, berbicara dengan seseorang yang tidak Tara kenal. Pria itu lebih tua, sekitar lima puluhan, dengan rambut putih di pelipis dan kacamata bundar.
Ketika Arka melihat Tara, dia langsung memotong pembicaraannya.
"Tara, masuk."
Tara mengikuti Arka ke dalam ruang kerjanya. Begitu pintu tertutup, Arka langsung bicara.
"Ada yang berubah. Aryo bergerak lebih cepat dari perkiraanku."
Arka membuka laptopnya. Memutarnya ke arah Tara. Di layar, ada dokumen rahasia perusahaan—laporan keuangan proyek properti di Kalimantan.
"Proyek ini anggarannya 200 miliar. Aryo menggelembungkannya menjadi 350 miliar. Selisih 150 miliar masuk ke kantong pribadinya dan Dewi."
Tara membaca cepat. "Ini buktinya sudah cukup untuk polisi, Pak?"
"Belum. Aryo punya orang dalam di kejaksaan. Bukti seperti ini akan 'hilang' sebelum sampai ke meja penyidik." Arka menutup laptop. "Aku butuh bukti yang lebih kuat. Bukti fisik."
"Seperti apa?"
"Seperti rekaman suara Aryo mengakui perbuatannya. Atau dokumen asli yang ditandatangani. Bukan salinan."
Tara menggenggam tangannya sendiri. "Lalu apa yang bisa saya lakukan?"
Arka mengeluarkan sebuah alat kecil dari lacinya. Bentuknya seperti pulpen, tapi ada lubang kecil di ujungnya.
"Alat perekam. Bawa ini setiap kali kamu bertemu Aryo."
Tara menerima pulpen itu. Berat di tangannya.
"Bapak yakin Aryo tidak akan curiga?"
"Justru aku ingin dia curiga." Arka tersenyum tipis. "Semakin curiga, semakin dia ceroboh."
---
Pukul sebelas, Tara keluar dari ruang Arka.
Di luar, Reza sudah menunggu.
"Kamu pindah kontrakan?" tanyanya langsung.
Tara mengernyit. "Kamu tahu dari mana?"
"HRD." Reza tersenyum. Tapi senyumannya kaku. "Mereka bilang kamu pindah ke Kemang."
"Kantor memang baik padaku," jawab Tara hati-hati.
"Baik?" Reza mendekat. Suaranya pelan, hampir berbisik. "Tara, tidak ada CEO yang sebaik itu tanpa alasan. Arka punya agenda. Kamu hanya belum tahu saja."
Tara menatap Reza. Di wajahnya ada kecemasan. Tapi juga ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak bisa Tara baca.
"Reza, kenapa kamu peduli banget sama aku?"
Reza terdiam. Beberapa detik.
"Karena aku sayang kamu."
Tara terkejut.
"Apa?"
"Aku sayang kamu, Tara. Sejak kuliah dulu." Suara Reza bergetar. "Tapi aku pengecut. Aku tidak pernah berani ngomong. Sekarang kamu masuk ke dunia yang sangat berbahaya, dan aku nggak bisa diem."
Tara mundur selangkah. Dadanya berdebar, tapi bukan karena bahagia.
"Reza, ini bukan saat yang tepat—"
"Kapan tepatnya, Tara?" Reza memotong. "Saat kamu sudah terluka? Atau saat kamu sudah mati?"
Udara di sekitar mereka terasa panas.
"Aku harus kerja," kata Tara akhirnya. Dia berbalik dan berjalan cepat ke mejanya.
Reza tidak mengejar.
Tapi Tara bisa merasakan tatapannya di punggungnya. Panas. Luka. Dan penuh pertanyaan.
---
Pukul empat sore, saat Tara sedang merangkum dokumen, ponselnya berdering.
Aryo.
"Mas Aryo," sapa Tara.
"Tara, ada acara keluarga Sabtu malam di rumah besar. Arka pasti diundang. Kamu ikut ya?"
Tara ragu. "Saya hanya asisten, Mas. Apakah pantas?"
"Kamu keluarga sekarang." Suara Aryo terdengar ramah. Terlalu ramah. "Aku akan jemput."
Telepon ditutup.
Tara menatap pulpen rekaman di sakunya.
Sabtu malam. Rumah besar. Seluruh keluarga Wijaya akan ada di sana.
Itu kesempatan.
Juga perangkap.
---
Tara tidak langsung pulang setelah kerja. Dia mampir ke rumah sakit dulu untuk memastikan ibunya baik-baik saja.
Surti sekarang dirawat di ruang rawat inap biasa—bukan VIP, tapi jauh lebih layak dari sebelumnya. Kamar ber-AC, ranjang yang nyaman, dan jendela yang tidak membuat pasien merasa seperti di dalam penjara.
"Bu, makan sudah?" tanya Tara sambil duduk di tepi ranjang.
"Sudah," jawab Surti. Matanya sayu. "Kamu jangan terlalu capek, Nak."
"Iya, Bu."
Surti menggenggam tangan Tara. Tangannya keriput dan dingin.
"Nak," katanya pelan. "Bos kamu itu... jangan terlalu dekat, ya."
Tara terkejut. "Kenapa, Bu?"
Surti menghela napas. "Ibu lihat matanya. Mata orang yang punya luka besar. Orang seperti itu... dia bisa sangat baik, tapi juga bisa sangat berbahaya."
Tara tidak menjawab. Dia hanya membelai rambut ibunya yang mulai menipis.
Dia sudah tahu Arka berbahaya.
Tapi dia juga tahu tidak ada jalan keluar.
---
Malam itu, Tara duduk di teras kontrakan barunya.
Udara Kemang dingin. Pepohonan di depan rumah bergoyang pelan. Jauh berbeda dengan kontrakan lamanya yang selalu ramai suara tetangga dan bau sampah.
Di tangannya, ponsel menyala.
Pesan dari nomor misterius.
"Sabtu malam, jangan datang ke rumah besar. Itu perangkap untukmu."
Tara membalas. "Perangkap dari siapa?"
Balasan masuk lima menit kemudian.
"Dari semua orang."
Lalu satu pesan lagi.
"Kecuali kamu benar-benar siap kehilangan segalanya."
Tara mematikan ponsel. Menatap langit malam yang gelap.
Sabtu malam.
Dia akan datang.
Bukan karena berani.
Tapi karena dia sudah tidak punya apa-apa lagi untuk hilang.