Tara belum menutup tasnya ketika teringat layar di basement. Ia telah meminta agar daftar hitam tidak diperlakukan sebagai bukti. Namun ada sesuatu yang tak berasal dari daftar atau komentar forum: ia sendiri melihat gambar bergerak dari ruang ganti karyawan. Arka berdiri di sampingnya ketika gambar itu menyala. Memadamkan monitor tidak menjawab dari mana gambar datang, siapa yang dapat melihatnya, dan apakah rekamannya masih tersimpan.
Ia kembali ke pintu ruang kerja Arka. Lelaki itu sedang menelepon dan mengangkat satu telunjuk, memintanya menunggu. Tara menunggu di luar sampai panggilan selesai. Ketika dipersilakan masuk, ia tidak membawa pembicaraan kembali kepada Aryo.
'Kamera ruang ganti itu masih menyala?'
Arka mengalihkan pandangan ke pintu. 'Aku mematikan layarnya waktu itu.'
'Saya bertanya tentang kameranya, Pak.'
Ia tidak langsung menjawab. Tara mengenali cara diam itu: Arka sedang memilih seberapa banyak yang akan dikatakan, seolah informasi merupakan barang yang hanya boleh dikeluarkan ketika bermanfaat baginya. Tara menahan dorongan untuk meminta maaf karena mengganggu.
'Aku akan meminta keamanan memeriksanya,' jawab Arka.
'Orang yang memasang dan mengoperasikan tidak cukup memeriksa dirinya sendiri. Karyawan yang berganti pakaian di sana perlu dilindungi. Saya juga perlu tahu apa yang terjadi setelah saya melihatnya.'
Arka berdiri. Untuk sesaat Tara mengira pembicaraan akan berubah menjadi perintah agar ia kembali bekerja. Lelaki itu berjalan ke lemari, mengambil satu map, kemudian meletakkannya lagi tanpa dibuka.
'Jangan menyebarkan cerita sebelum aku tahu seluruhnya.'
'Saya tidak akan menyebarkan gambar siapa pun. Saya tidak punya gambarnya. Tetapi saya berhak melaporkan apa yang saya lihat, termasuk kepada orang yang dapat membantu saya.'
Rahang Arka mengeras. 'Kamu ingin melapor kepada siapa?'
'Saya akan mencari nasihat lebih dahulu. Saya tidak meminta izin Bapak.'
Tara keluar sebelum percakapan berubah menjadi tawar-menawar. Di mejanya, ia menuliskan tanggal kunjungan ke basement, letak monitor, bagian ruangan yang terlihat, dan apa yang dilakukan Arka. Ia tidak menulis bahwa seluruh karyawan telah direkam bertahun-tahun. Ia tidak tahu lamanya. Ia juga tidak menambahkan dugaan bahwa kamera lain ada di tempat yang belum dilihatnya.
Sebelum meninggalkan kantor, ia menelepon Sofi, teman kuliahnya yang selama ini lebih sering mendengar cerita tentang Surti daripada keluarga Wijaya. Ia tidak menyebut nama orang yang tampak di layar. Ia hanya bertanya apakah Sofi masih mengenal Damar, alumnus yang kini bekerja sebagai advokat.
Sofi memberikan nomor kantor, lalu bertanya apakah Tara perlu ditemani. Tara mengatakan ia ingin berbicara sendiri dahulu. Sofi tidak meminta foto atau mendesaknya menceritakan semua hal. Ia hanya meminta Tara mengabari setelah mendapat jawaban.
Kantor Damar tidak jauh dari rumah sakit. Tara membuat janji setelah jam kerja, kemudian mengunjungi Surti lebih dahulu. Ibunya sedang terlelap. Ia menitipkan pakaian bersih kepada petugas dan duduk beberapa menit tanpa membangunkannya. Kebutuhan uang terasa lebih nyata ketika ia melihat tas obat dan sandal ibunya di bawah ranjang. Meski begitu, membiarkan kamera tersebut tetap menjadi rahasia tidak akan membuat bantuan Arka lebih bersih.
Damar mendengarkan tanpa menyela. Setelah Tara selesai, ia bertanya apakah Tara memiliki rekaman atau telah membuka penyimpanannya. Tara menjawab tidak. Damar meminta ia mempertahankan catatan pengalamannya dan tidak kembali ke basement untuk mencari gambar. Orang yang terekam tidak semestinya kembali kehilangan privasi hanya agar laporannya terlihat lebih lengkap.
'Saya takut dipecat,' kata Tara akhirnya. 'Rumah Ibu juga dibayar dia.'
'Kita catat ketergantungan itu juga. Aku tidak dapat menjanjikan tidak akan ada tekanan. Kamu ingin mengajukan pengaduan sekarang, atau membaca bentuk pengaduannya lebih dahulu?'
Tara memilih membaca. Damar menyusun keterangan berdasarkan apa yang diucapkannya, lalu membiarkannya memperbaiki satu kalimat yang terlalu luas. Pengaduan tersebut meminta penghentian pengawasan ruang ganti, pengamanan bahan oleh pemeriksa yang tidak berada di bawah kendali Arka, dan pemberitahuan kepada staf melalui saluran yang menjaga identitas korban.
Ia menandatanganinya setelah membaca sampai bagian terakhir. Damar akan mendampinginya mengirimkan pengaduan melalui saluran perusahaan dan jalur di luar perusahaan yang sesuai. Tara tidak diminta menuduh semua orang di daftar hitam. Ia melaporkan satu tindakan yang benar-benar disaksikannya.
Keesokan paginya, Arka sudah mengetahui ada pengaduan. Ia memanggil Tara, tetapi perempuan itu meminta pembicaraan dilakukan dengan pendamping. Mereka bertemu menjelang siang bersama Damar dan seorang pemeriksa privasi bernama Laras, yang ditunjuk oleh anggota komite pengawasan di luar keluarga Wijaya. Ratna telah diberi pemberitahuan sebagai komisaris, tetapi tidak diberi hak menyaring keterangan Tara.
Laras mengajukan pertanyaan langsung kepada Arka. Ia meminta daftar perangkat, pengelola penyimpanan, serta orang yang memiliki akses. Arka mula-mula mengatakan sistem itu dipakai untuk mengenali pengkhianatan di perusahaan.
'Ruang ganti bukan tempat untuk menguji kesetiaan pegawai,' jawab Laras.
Tidak ada seorang pun yang tertawa atau mengalihkan pembicaraan. Arka akhirnya mengakui bahwa ia mengetahui gambar dari ruangan tersebut dapat dilihat melalui sistem yang dikuasainya. Pengakuan itu dicatat. Ia tidak lagi dapat mengatakan kepada Tara bahwa yang dilihatnya hanya layar yang sudah dimatikan.
Pada sore hari, petugas yang didampingi pemeriksa memutus aliran gambar dari ruang ganti dan menutup akses pengguna biasa ke penyimpanannya. Perangkat serta catatan akses diamankan untuk pemeriksaan. Pencopotan dilakukan setelah kondisi awal didokumentasikan, sehingga menghentikan pengawasan tidak sekaligus menghilangkan bahan yang perlu dinilai. Tara tidak ikut membuka rekaman.
Pemberitahuan kepada pegawai disiapkan tanpa menampilkan gambar atau nama mereka di ruang rapat. Laras menjelaskan bahwa pemeriksaan mengenai lamanya penyimpanan dan penggunaan rekaman masih berjalan. Tidak ada klaim bahwa seluruh akibat sudah selesai hanya karena kamera berhenti mengirim gambar.
Arka menghampiri Tara setelah pertemuan. 'Kamu tidak percaya aku bisa menyelesaikannya sendiri.'
'Bapak bagian dari masalahnya,' jawab Tara. 'Saya ingin hal ini diselesaikan, bukan hanya disembunyikan dengan lebih baik.'
Arka menatapnya, lalu menunduk. Tara mengambil tasnya dan pergi menemui bagian administrasi mengenai biaya Surti. Ia masih membutuhkan kejelasan tertulis tentang bantuan itu. Keberanian menandatangani pengaduan tidak membuat tagihan hilang, tetapi tagihan juga tidak memberinya alasan untuk berpura-pura tidak pernah melihat sebuah layar.