Tara tidak bisa tidur.
Bukan karena suara jangkrik di luar jendela atau atap bocor yang meneteskan air ke ember plastik. Tapi karena flashdisk hitam itu masih tergenggam di tangannya. Kecil. Dingin. Dan terasa seperti bom waktu.
Jam menunjukkan pukul 02.30. Ibunya sudah lama terlelap di kamar sebelah, sesekali terdengar suara napas berat karena ginjalnya yang terus memburuk.
Tara duduk di lantai kamarnya, membuka laptop bekas pemberian tetangga dua tahun lalu. Layarnya sudah retak di pojok kiri, kipasnya berbunyi seperti pesawat mau lepas landas. Tapi masih menyala.
Dia memasukkan flashdisk.
Satu folder. Satu file. Nama: Daftar_Hitam.pdf
Tara mengklik dua kali.
---
Dokumen itu panjang. Empat puluh tujuh halaman.
Bukan sekadar daftar nama, tapi profil lengkap. Foto. Riwayat pendidikan. Jabatan di perusahaan afiliasi Arahana Group. Hubungan keluarga dengan mendiang Hendra Wijaya. Motif potensial. Bahkan catatan pergerakan keuangan yang mencurigakan.
Tara membaca dari halaman pertama.
1. Aryo Wijaya (Sepupu Arka, 34 tahun)
· Status: Anak dari adik Hendra Wijaya (Slamet Wijaya)
· Jabatan: Direktur Operasional Arahana Group
· Motif: Ingin menjadi CEO. Telah dua kali kalah suara dalam rapat direksi saat pemilihan CEO setelah kematian Hendra.
· Catatan: Diduga memiliki hubungan dengan sindikat n*****a internasional. Pencucian uang melalui proyek properti fiktif.
Tara menghentikan bacaan. Matanya tertuju pada satu kalimat: Diduga memiliki hubungan dengan sindikat n*****a internasional.
Ini bukan lagi konflik keluarga biasa. Ini kejahatan serius.
Dia melanjutkan.
2. Ratna Wijaya (Ibu Arka, 58 tahun)
· Status: Istri almarhum Hendra Wijaya
· Jabatan: Komisaris Utama Arahana Group
· Motif: Tidak suka Arka terlalu independen. Ingin mengontrol penuh perusahaan melalui anaknya.
· Catatan: Menikah dengan Hendra karena perjodohan keluarga. Tidak pernah mencintai Hendra. Beberapa sumber menyebut Ratna memiliki hubungan gelap dengan seorang pria tak dikenal sebelum Hendra meninggal.
Tara merasakan perutnya mual.
Ibu Arka sendiri masuk daftar hitam. Ibu yang kemarin melarangnya terlalu dekat dengan Arka. Ibu yang mengancamnya dengan tatapan dingin.
Bukan karena melindungi anaknya. Tapi karena... apa? Takut Arka memiliki seseorang yang benar-benar peduli padanya?
3. Slamet Wijaya (Paman Arka, 62 tahun)
· Status: Adik kandung Hendra Wijaya
· Jabatan: Pendiri Yayasan Wijaya (non-profit)
· Motif: Iri karena Hendra mewariskan perusahaan ke Arka, bukan ke dia (putra mahkota yang seharusnya menurut tradisi keluarga)
· Catatan: Dicurigai menjadi otak di balik kecelakaan Hendra. Namun tidak cukup bukti.
4. Dewi Anggraini (Tantenya Arka dari pihak ibu, 55 tahun)
· Status: Adik kandung Ratna Wijaya
· Jabatan: Tidak ada (pengangguran kaya)
· Motif: Ingin bagian dari perusahaan. Pernah meminta saham 10% tapi ditolak Hendra.
· Catatan: Memiliki catatan kriminal pencucian uang tahun 2015 (diam-diam dihapus karena pengaruh keluarga).
5. Reza Haryanto (Bukan anggota keluarga, 27 tahun)
· Status: Karyawan divisi pemasaran, teman satu fakultas Tara
· Motif: Diduga disuruh seseorang untuk memantau Arka dari dekat
· Catatan: Rekrutan baru 6 bulan lalu, langsung diterima tanpa pengalaman padahal posisi yang dilamar sangat kompetitif.
Tara berhenti di nama terakhir.
Reza.
Teman satu fakultas yang kini bekerja di divisi pemasaran. Pria yang meneleponnya kemarin malam. Pria yang bilang, "Jangan ikut Arka ke mana pun besok."
Dia teman lamanya. Mereka pernah mengerjakan tugas kelompok bersama di semester akhir. Reza dulu pendiam, baik, tidak banyak bicara. Bahkan pernah meminjamkan uang transportasi saat dompet Tara hilang.
Sekarang namanya ada di daftar hitam Arka Wijaya.
---
Tara mematikan laptop. Melepas flashdisk. Menyimpannya di dalam saku celana.
Jam 03.15.
Dia berbaring di lantai beralas kardus, menatap langit-langit yang retak. Tidak bisa tidur. Tidak bisa menangis. Tidak bisa apa-apa selain bertanya-tanya.
Siapa lagi yang harus tidak dia percayai?
---
Pukul 07.00, Tara sudah sampai di kantor.
Dia tidak sarapan. Tidak minum kopi. Langsung duduk di mejanya dan membuka file jadwal Arka seperti hari biasa. Berpura-pura tidak terjadi apa-apa.
Tapi matanya berkaca-kaca saat dia mengetik.
Pintu lift terbuka pukul 08.15.
Bukan Arka yang keluar. Tapi Reza.
Dia tersenyum ramah, membawa dua cangkir kopi di tangannya. Satu untuk dirinya, satu untuk Tara.
"Pagi," sapanya. "Kamu kelihatan kurang tidur."
Tara menerima kopi itu dengan tangan dingin. "Ada kerjaan. Banyak yang harus diselesaikan."
Reza duduk di kursi kecil di samping meja Tara. Bukan kursi tamu. Tapi kursi yang biasa digunakan untuk istirahat karyawan. Tidak pantas untuk seseorang dari divisi pemasaran berada di lantai eksekutif tanpa izin.
"Kemarin malam," kata Reza pelan, "kamu ikut Arka ke suatu tempat?"
Tara menatapnya. Wajah Reza masih sama seperti dulu. Ramah. Menenangkan. Tapi Tara sudah membaca profilnya tadi malam.
Diduga disuruh seseorang untuk memantau Arka dari dekat.
"Tidak," jawab Tara. "Aku pulang langsung setelah kerja."
Reza mengernyit. "Serius? Aku dengar—"
"Reza." Tara memotong. "Kamu kenapa sih sibuk banget sama aku? Kita dulu teman, tapi tidak sedekat itu."
Reza terdiam. Senyumannya sedikit memudar.
"Aku cuma peduli, Tara. Ini lingkungan baru buat kamu. Orang-orang di sini nggak seperti di kampus."
"Dan kamu?" tanya Tara. "Apakah kamu seperti di kampus?"
Pertanyaan itu menggantung di udara.
Reza tidak menjawab. Dia berdiri, merapikan jasnya, dan tersenyum lagi. Tapi kali ini, senyumannya berbeda.
"Hati-hati, Tara. Orang yang terlalu banyak bertanya biasanya tidak bertahan lama di sini."
Dia pergi.
Tara menatap kopi di tangannya. Masih hangat. Tapi dia tidak mau meminumnya.
---
Pukul 10.00, Arka datang.
Hari ini dia tidak mengenakan jas. Hanya kemeja putih lengan panjang dengan dua kancing atas terbuka. Rambutnya sedikit berantakan, seperti baru bangun tidur atau... tidak tidur sama sekali.
"Masuk ke ruanganku," katanya tanpa basa-basi.
Tara mengikutinya. Begitu pintu tertutup, Arka langsung bertanya.
"Kamu sudah membaca daftarnya?"
Tara mengangguk. "Empat puluh tujuh halaman."
"Ada yang mengejutkan?"
"Semuanya mengejutkan, Pak."
Arka berjalan ke jendela. Membuka gorden. Cahaya matahari pagi menyinari wajahnya yang pucat.
"Keluargaku bukan keluarga normal, Tara. Kami tidak makan malam bersama sambil bercanda. Kami makan malam sambil menghitung siapa yang pantas dibunuh berikutnya."
Tara menggigit bibir. "Bapak serius?"
Arka menoleh. Matanya kosong. Tidak ada emosi.
"Ayahku dibunuh. Ibuku mungkin terlibat. Pamanku haus kekuasaan. Sepupuku pencuci uang n*****a. Dan satu-satunya orang yang mungkin bisa aku percaya..." Dia berhenti. Menatap Tara. "Adalah asisten pribadiku yang baru bekerja empat hari."
Tara tidak tahu harus berkata apa.
"Pak, saya hanya—"
"Siapa yang paling mencurigakan menurutmu?" potong Arka.
Tara ragu. Tapi dia sudah membaca semuanya. Tidak mungkin mundur sekarang.
"Aryo, Pak. Sepupu Bapak. Motifnya paling kuat dan catatannya paling berbahaya."
Arka mengangguk pelan. "Aryo juga yang paling sering mendekati asisten-asistenku sebelumnya."
"Bapak yakin mereka disuah?"
"Disuap." Arka mengoreksi. "Bukan disuah."
"Iya, disuap."
Arka berjalan ke mejanya. Mengambil satu lembar foto dari laci. Menyerahkannya ke Tara.
Foto itu menunjukkan Aryo Wijaya sedang duduk di sebuah kafe dengan seorang wanita. Wanita itu tidak asing bagi Tara.
Wajahnya ada di halaman 12 daftar hitam.
Dewi Anggraini. Tante Arka dari pihak ibu.
"Aryo dan Dewi bekerja sama," kata Arka. "Mereka ingin menggulingkanku. Dan mereka tidak segan-segan membunuh siapa pun yang menghalangi."
Tara memegang foto itu. Tangannya gemetar.
"Lalu apa yang harus saya lakukan, Pak?"
Arka mendekat. Jarak mereka hanya satu lengan.
"Kamu akan berpura-pura dirayu oleh Aryo. Biarkan dia mendekatimu. Katakan kamu butuh uang, kamu tidak percaya padaku, apa pun. Tapi semua informasi yang dia berikan, kamu laporkan ke aku."
Tara menghela napas.
"Jadi saya mata-mata, Pak?"
"Kamu penyelamatku, Tara." Arka menatap matanya. "Atau kamu bisa pergi sekarang, dan aku cari orang lain. Tapi ingat, begitu kamu tahu semua ini, tidak ada jalan mundur."
Tara menatap foto Aryo dan Dewi.
Menatap flashdisk yang masih di sakunya.
Menatap Arka yang berdiri di depannya dengan mata lelah dan hati yang hancur.
"Baik, Pak," katanya akhirnya. "Saya lakukan."
---
Pukul 16.30, Tara baru saja selesai mengirim email saat ponselnya berdering.
Nomor tidak dikenal.
Dia mengangkat.
"Halo?"
"Tara, selamat sore. Aku Aryo Wijaya. Sepupu Arka."
Tara merasakan jantungnya berdetak lebih cepat.
"Iya, Pak. Ada yang bisa saya bantu?"
"Aku dengar kamu asisten baru Arka. Hebat. Bocah itu susah banget cari asisten yang betah." Suara Aryo ramah. Terlalu ramah. "Gimana kalau kita makan malam bareng? Aku ajak kamu kenalan sama keluarga besar Wijaya."
Tara menatap pintu ruang Arka yang tertutup.
Dia ingat perintah Arka pagi ini.
Biarkan dia mendekatimu.
"Dengan senang hati, Pak," jawab Tara. "Kapan dan di mana?"
"Aku jemput jam 7. Kamu kirim alamat rumahmu."
Telepon ditutup.
Tara meletakkan ponsel di meja. Tangannya dingin.
Dia baru lima hari bekerja.
Dan sudah diundang makan malam oleh musuh bosnya.