Jakarta mulai gelap saat mobil hitam berhenti di depan rumah kontrakan Tara.
Bukan mobil biasa. Mercy hitam dengan kaca film gelap pekat. Mesinnya hampir tidak bersuara, seperti binatang buas yang sedang menahan napas sebelum menerkam.
Tara berdiri di depan pintu rumahnya yang reyot. Dia sengaja memakai baju terbaik yang dia punya kemeja putih lengan panjang yang sudah agak kusut di ujung kerah, rok hitam sebatas lutut, sepatu pantofel yang sol depannya mulai tipis. Tidak mewah. Tapi bersih.
Dia tidak ingin terlihat miskin di depan Aryo.
Tapi juga tidak ingin terlihat seperti sedang berusaha terlalu keras.
Pintu mobil terbuka dari dalam. Seorang pria keluar bukan sopir, tapi Aryo sendiri. Dia mengenakan kemeja batik lengan panjang dengan motif parang, celana bahan hitam, dan jam tangan yang berkilat meski hanya terkena lampu jalan yang redup.
Wajahnya tidak secantik Arka. Arka itu dingin tapi rupawan. Aryo lebih kasar. Rahang tebal, alis tebal, bibir tipis yang selalu setengah tersenyum seperti sedang menahan ejekan.
"Tara," sapanya. Suaranya berat, penuh wewenang, seperti orang yang terbiasa dipatuhi. "Akhirnya kita bertemu langsung."
Tara membungkuk sopan. "Selamat malam, Pak Aryo. Terima kasih sudah menjemput."
"Panggil aku Mas Aryo saja. Kita keluarga sekarang." Dia tersenyum. Mata sipitnya menyorot Tara dari ujung rambut hingga ujung sepatu. "Kamu lebih cantik dari foto di file HRD."
Tara merasakan bulu kuduknya berdiri.
Keluarga sekarang?
Dia baru lima hari bekerja. Dan Aryo sudah menganggapnya keluarga.
Itu bukan pujian. Itu peringatan.
---
Mobil melaju ke arah selatan, meninggalkan gang-gang sempit kontrakan Tara yang diterangi lampu tembok kusam. Semakin jauh mereka melaju, semakin megah pemandangan di luar jendela.
Restoran yang mereka tuju bukan restoran biasa.
Bangunan dua lantai bergaya kolonial dengan taman luas di depan. Tidak ada papan nama mencolok. Hanya satu kata terukir di pintu kayu jati: Sagara.
Tara pernah membaca tentang tempat ini. Restoran** yang hanya menerima anggota dan undangan. Satu kali makan bisa menghabiskan gaji tiga bulannya.
"Pernah ke sini?" tanya Aryo sambil turun.
"Belum, Mas. Saya orang biasa."
Aryo tertawa. "Mulai sekarang kamu tidak biasa lagi, Tara."
---
Di dalam, seorang pelayan berpakaian serba hitam langsung mengantar mereka ke ruangan VIP di lantai dua. Ruangan itu tidak besar. Satu meja bundar untuk empat orang. Lantai kayu. Dinding batu bata ekspos dengan lukisan pemandangan laut. Lampu tembaga menggantung rendah, memberi cahaya kuning hangat yang terasa... terlalu intim.
Dan di meja itu, sudah ada satu orang duduk.
Seorang wanita.
Dia berdiri saat Tara dan Aryo masuk. Rambut panjang sebahu, wajah yang jelas pernah cantik di masa muda tapi kini mulai dimakan usia. Kerutan halus di sudut mata. Bibir tebal dengan lipstik merah gelap.
Tara langsung mengenalinya.
Dewi Anggraini.
Tante Arka dari pihak ibu. Nama nomor empat di daftar hitam.
"Tara, ini tante Dewi," kata Aryo. "Tante, ini Tara, asisten pribadi Arka yang baru."
Dewi tersenyum. Tidak ramah. Tidak dingin. Tapi seperti orang yang sedang menilai barang sebelum membeli.
"Duduklah, sayang," kata Dewi. Suaranya lembut, manis, seperti gula yang larut dalam racun.
Tara duduk di kursi di antara mereka.
Dia diapit oleh dua orang yang mungkin ingin melihat Arka mati.
---
Makan malam berlangsung dua jam.
Mereka bicara banyak hal. Tentang cuaca. Tentang macet di Jakarta. Tentang restoran favorit. Dewi bercerita tentang liburannya di Swiss. Aryo bercerita tentang koleksi jam tangannya yang mencapai puluhan.
Tara hanya tersenyum, mengangguk, dan sesekali tertawa kecil di saat yang tepat.
Dia berusaha terlihat santai.
Tapi di bawah meja, jari-jarinya menggenggam erat ujung roknya.
"Kamu tidak banyak bicara," kata Dewi di tengah hidangan penutup—puding caramel dengan taburan emas asli. Emas. Sungguhan.
"Maaf, Tante. Saya belum terbiasa dengan suasana seperti ini."
"Kamu pasti kaget ya?" Dewi menyandarkan tubuhnya ke kursi. Matanya menatap Tara dengan lembut, tapi tidak pernah berkedip. "Dari kontrakan sempit langsung ke tempat seperti ini. Dunia yang sangat berbeda."
Tara merasakan tusukan di dadanya. Bukan karena sakit hati. Tapi karena Dewi tahu. Dewi tahu di mana Tara tinggal. Dewi tahu Tara miskin.
Mereka sudah menyelidikinya.
"Tante," Aryo memotong, "jangan membuat Tara tidak nyaman."
"Aku hanya mengamati," kata Dewi. "Arka punya selera yang menarik. Asisten-asisten sebelumnya laki-laki semua. Sekarang dia memilih perempuan cantik seperti kamu."
Tara tidak menjawab.
"Kamu tidur dengan dia?" tanya Dewi tiba-tiba.
Tara tersentak. "Apa?"
"Aku bertanya—"
"Tante," Aryo memotong lagi. Kali ini suaranya lebih tegas. "Cukup."
Dewi tertawa kecil. "Aku hanya bercanda, sayang. Jangan marah."
Tara menekan bibirnya.
Bercanda.
Itu namanya bercanda.
---
Setelah makan malam, Aryo mengantar Tara ke luar. Udara malam terasa dingin, kontras dengan hangat di dalam restoran.
"Maafkan tante Dewi," kata Aryo. "Dia memang sering bicara tanpa filter."
"Tidak apa-apa, Mas."
Aryo berhenti berjalan. Menghadap Tara. Lampu taman membuat wajahnya terlihat setengah gelap.
"Arka tidak pernah cerita tentang keluarganya, kan?"
Tara menggeleng.
"Keluarga kami rumit, Tara. Arka mungkin sudah bilang itu. Tapi percayalah... lebih rumit dari yang dia ceritakan."
"Kenapa Mas Aryo mau mengundang saya makan malam?"
Aryo tersenyum. Kali ini senyumannya tidak kasar. Hampir... lembut.
"Karena aku ingin mengenalmu. Dan karena aku ingin kau tahu... tidak semua orang di keluarga ini jahat."
"Apakah Mas Aryo jahat?"
Pertanyaan itu keluar tanpa Tara sadari.
Aryo terdiam. Beberapa detik. Lalu dia tertawa. Tapi tawanya tidak nyaman.
"Aku tidak tahu," katanya akhirnya. "Mungkin tidak. Mungkin iya. Tapi satu hal yang aku tahu..." Dia mendekat. Jarak mereka tinggal setengah lengan. "Aku tidak pernah membunuh siapa pun."
Tara menatap matanya.
Aryo membalas tatapan itu.
"Tapi Arka? Kamu yakin dia tidak?"
---
Perjalanan pulang terasa lebih panjang dari sebelumnya.
Mobil melaju pelan. Tara duduk diam di kursi belakang, memandang jalanan Jakarta yang mulai sepi. Aryo di sampingnya tidak bicara. Dia hanya membuka ponsel dan mengetik sesuatu.
Ponsel Tara bergetar.
Dia membukanya.
Pesan dari Aryo. Padahal dia duduk di sampingnya.
"Aku akan menghubungimu lagi. Jangan bilang siapa pun tentang pertemuan kita."
Tara menatap layar. Lalu menatap Aryo.
Aryo tersenyum tanpa menoleh.
---
Jam 22.30, mobil berhenti di depan rumah Tara.
"Terima kasih, Mas Aryo," kata Tara sambil turun.
"Tara." Aryo menahan pintu sebelum tertutup. "Satu pesan terakhir."
Tara menunduk ke dalam mobil.
"Hati-hati dengan Arka. Orang yang tidak percaya siapa pun... biasanya juga tidak pantas dipercaya."
Pintu tertutup. Mobil melaju pergi.
Tara berdiri di depan rumahnya. Sepi. Hanya suara jangkrik dan gonggongan anjing di kejauhan.
Dia baru saja makan malam dengan musuh bosnya.
Mereka memperlakukannya dengan baik. Terlalu baik.
Itu yang paling menakutkan.
---
Pukul 23.00, Tara masuk ke kamarnya. Membuka laptop. Menancapkan flashdisk hitam.
Dia membuka lagi profil Aryo dan Dewi.
Membaca ulang setiap kata.
Diduga memiliki hubungan dengan sindikat n*****a internasional.
Memiliki catatan kriminal pencucian uang.
Aryo dan Dewi bekerja sama untuk menggulingkan Arka.
Tidak segan membunuh siapa pun yang menghalangi.
Tara menutup laptop.
Dia ingat pertanyaan Aryo tadi malam.
Kamu yakin Arka tidak pernah membunuh siapa pun?
Tara tidak yakin.
Tapi dia juga tidak yakin Aryo lebih baik.
Di dunia ini, antara dua orang yang sama-sama berbahaya... Tara hanya bisa memilih siapa yang lebih tidak ingin melihatnya mati.
Untuk saat ini, dia memilih Arka.
Tapi untuk berapa lama?