Mobil melaju pelan di jalanan pinggiran Jakarta yang tidak pernah Tara kunjungi sebelumnya.
Bukan jalan raya. Bukan jalan tol. Tapi jalan setapak di antara kebun karet yang sudah tidak terawat. Pepohonan tinggi di kiri kanan menutupi langit, menyisakan sedikit cahaya dari lampu mobil yang tembus di sela-sela dedaunan.
Arka tidak bicara sejak mereka berangkat satu jam lalu.
Dia duduk di kursi belakang, bersebelahan dengan Tara. Sementara sopir—pria botak dengan wajah tanpa ekspresi—hanya fokus pada jalan tanpa sesekali menatap spion.
“Kita hampir sampai,” kata Arka akhirnya.
Tara mengangguk. Tangannya dingin. Keringat dingin membasahi telapak tangannya.
Dia tidak tahu harus merasa apa. Takut? Penasaran? Atau bodoh karena tetap ikut setelah semua peringatan dari Reza dan pesan misterius itu?
Ponselnya bergetar di saku.
Tara tidak berani membukanya di depan Arka. Tapi rasa penasaran mengalahkan segalanya. Diam-diam, dia menyelipkan tangan ke dalam saku dan membaca layar.
Pesan dari nomor misterius.
“Kamu nekat. Tapi hati-hati. Setelah malam ini, tidak ada yang bisa kembali seperti semula.”
Sebelum Tara sempat membalas, mobil berhenti.
Mereka berada di depan gerbang besi hitam setinggi tiga meter. Dua pria berseragam hitam berdiri di samping gerbang, masing-masing memegang senter dan alat komunikasi di telinga.
Sopir menurunkan kaca. Salah satu pria itu mendekat, menyorotkan senter ke dalam mobil. Cahaya menyilaukan menyapu wajah Arka, lalu Tara, lalu kembali ke Arka.
“Tamu Bapak, Pak?” tanya pria itu.
Arka hanya mengangguk.
Pria itu memberi isyarat ke rekannya. Gerbang besi terbuka perlahan, mengeluarkan suara berdecit yang membuat bulu kuduk Tara berdiri.
Mobil masuk ke dalam.
---
Di balik gerbang itu, bukan rumah.
Bukan villa. Bukan kantor.
Tapi gudang.
Gudang besar dengan dinding beton abu-abu, atap seng yang sudah berkarat di beberapa bagian, dan tidak ada jendela. Hanya satu pintu baja di tengah, dengan panel sidik jari di sampingnya.
Arka turun lebih dulu. Tara mengikuti, kakinya terasa berat seperti diikat karung pasir.
“Jangan bicara,” bisik Arka. “Jangan bertanya. Jangan lihat siapa pun terlalu lama. Dan apapun yang terjadi... jangan teriak.”
Tara mengangguk. Dadanya terasa sesak.
Arka mendekati pintu baja itu. Menempelkan ibu jarinya ke panel sidik jari. Lampu hijau menyala. Pintu terbuka dengan desis pelan.
Tara mengikuti Arka masuk.
---
Di dalam, ternyata bukan gudang.
Sebuah ruangan besar dengan lantai marmer hitam mengkilap. Lampu gantung kristal di langit-langit. Meja panjang di tengah dengan dua belas kursi, setengahnya sudah terisi.
Para pria di kursi itu tidak berpakaian seperti biasa. Bukan jas atau kemeja. Tapi beberapa mengenakan kemeja lengan pendek, bahkan ada yang memakai kaos oblong dengan tato di lengan.
Tapi yang paling membuat jantung Tara hampir berhenti bukanlah pakaian mereka.
Tapi senjata.
Pistol terselip di pinggang. Pisau lipat di saku. Satu pria di ujung meja bahkan meletakkan senapan laras pendek di atas meja, tanpa rasa takut, seperti meletakkan pulpen.
Arka duduk di kursi paling ujung. Kursi yang lebih besar dari yang lain. Lebih tinggi. Seperti singgasana.
“Duduk,” perintahnya ke Tara.
Tara duduk di kursi kosong di samping Arka. Bukan kursi untuk tamu penting. Tapi kursi untuk... asisten. Seseorang yang diperbolehkan melihat tapi tidak berbicara.
Seorang pria botak dengan bekas luka di pipi kanan menatap Tara. Matanya menyipit.
“Bawa anak baru, Arka? Kamu yakin?”
“Dia asisten pribadiku,” jawab Arka datar. “Dia akan tahu semuanya cepat atau lambat.”
“Atau mati cepat atau lambat,” gumam pria lain.
Arka menoleh ke arah Tara. Bukan dengan tatapan dingin seperti biasanya. Tapi tatapan yang bertanya. Apakah kamu yakin ingin ada di sini?
Tara menggenggam erat lututnya.
Dia tidak yakin. Tapi dia sudah terlalu jauh untuk mundur.
---
Pertemuan itu berlangsung dua jam.
Tara mendengar banyak hal yang tidak dia pahami sepenuhnya. Kata-kata seperti shipment, dead drop, cleaner, alibi. Bukan bahasa bisnis normal. Tapi bahasa yang lebih cocok untuk film-film kriminal yang tidak pernah Tara tonton.
Arka memimpin pertemuan itu dengan tenang. Tidak berteriak. Tidak mengancam. Hanya bicara dengan nada rendah yang membuat semua orang di ruangan itu diam dan mendengarkan.
Satu hal yang Tara tangkap: Ada seseorang yang bernama Bentong. Bentong adalah pengkhianat. Bentong bekerja sama dengan keluarga Wijaya sendiri untuk menjatuhkan Arka. Dan Bentong akan dihadapi minggu depan.
Tara tidak tahu siapa Bentong. Tapi saat nama itu disebut, Arka mengepalkan tangannya di bawah meja.
Hanya Tara yang melihat.
---
Pertemuan selesai pukul 23.30.
Mobil yang sama membawa mereka kembali ke pusat kota. Arka masih diam. Tapi kali ada yang berbeda.
“Kamu tidak bertanya,” katanya tiba-tiba.
Tara menatapnya. “Bapak bilang jangan bertanya.”
“Dan kamu menurut?”
“Saya asisten Bapak. Mendengarkan perintah adalah pekerjaan saya.”
Arka mendengus. Bukan tertawa. Tapi suara dari hidung yang menunjukkan... keterkejutan.
“Kamu berbeda dari yang lain.”
“Mungkin karena saya tidak punya pilihan, Pak.”
Arka menatapnya. Lama. Tara merasa diperiksa lagi dari ujung rambut hingga ujung jari.
“Setiap orang punya pilihan,” kata Arka. “Kamu memilih untuk tetap di sini. Itu artinya kamu memilih untuk tahu. Dan tahu adalah tanggung jawab.”
Tara tidak menjawab.
Ponselnya bergetar lagi di saku.
Tapi kali ini, dia tidak berani membacanya.
---
Jam 00.30, mobil berhenti di depan rumah kontrakan Tara.
Arka tidak turun. Hanya membuka kaca sedikit.
“Besok kita mulai mencari tahu siapa di antara keluarga Wijaya yang ingin melihatku mati,” katanya. “Dan kamu akan membantuku.”
“Bagaimana cara saya membantu, Pak?”
Arka mengeluarkan sebuah flashdisk hitam dari saku jasnya. Menyerahkannya ke Tara.
“Ini daftar nama semua kerabat dan kolega dekat ayahku. Cari tahu siapa pun yang punya motif membunuhnya. Aku tidak bisa mempercayai siapa pun di dalam perusahaan.”
Tara menerima flashdisk itu. Tangannya gemetar.
“Dan jika saya menolak?”
Arka tersenyum. Senyuman yang tidak hangat.
“Kamu tidak akan menolak. Karena kamu butuh uang. Dan aku akan membayarmu tiga kali lipat jika kamu berhasil.”
Dia menutup kaca. Mobil melaju pergi, meninggalkan Tara di depan pintu rumahnya yang reyot.
Tara menatap flashdisk di tangannya.
Ponselnya bergetar sekali lagi.
“Selamat. Sekarang kamu bagian dari permainan ini. Jangan percaya siapa pun. Termasuk Arka.”
Tara menghapus pesan itu. Mematikan ponsel.
Dan masuk ke rumah tanpa menyalakan lampu.