Tara tiba di kantor lebih awal dari biasanya. Bukan karena semangat, tapi karena dia tidak bisa tidur. Pikiran tentang ruang pengawasan, kematian Hendra Wijaya, dan pesan-pesan misterius itu terus berputar di kepalanya seperti rekaman rusak.
Jam menunjukkan pukul 07.15. Lorong eksekutif masih sepi. Hanya lampu-lampu redup dan bayangannya sendiri yang menemaninya.
Dia duduk di mejanya, membuka laptop, dan mulai memeriksa jadwal Arka untuk hari ini. Rapat dengan direksi jam 10.00. Presentasi proyek baru jam 14.00. Telekonferensi dengan mitra dari Singapura jam 16.30.
Sepi.
Terlalu sepi untuk seorang CEO perusahaan sekelas Arahana Group.
Tara mengernyit. Dia membuka kembali file jadwal yang diberikan HRD kemarin, membandingkannya dengan kalender digital Arka yang bisa diakses asisten pribadi.
Ada perbedaan.
Di kalender digital Arka, ada satu agenda tambahan yang tidak tercantum di file fisik: Pukul 21.00 – Lokasi rahasia.
Tara menatap layar. Jari-jarinya berhenti di atas tetikus.
Lokasi rahasia. Tidak ada keterangan lebih lanjut. Tidak ada nama mitra. Tidak ada durasi. Hanya tiga kata yang terasa seperti peringatan.
Jangan bertanya. Jangan mencari tahu.
Tapi Tara sudah terlalu penasaran.
---
Pukul 09.45, Arka tiba.
Hari ini dia mengenakan setelan jas berwarna abu-abu gelap, dasi hitam, dan kemeja putih yang begitu rapi hingga tidak ada satu kerutan pun. Wajahnya seperti biasa: tanpa ekspresi.
"Ada perubahan jadwal?" tanyanya sambil berjalan melewati meja Tara tanpa menatap.
"Rapat dengan direksi jam 10.00 di ruang rapat utama, Pak. Presentasi proyek baru jam 14.00. Telekonferensi dengan mitra Singapura jam 16.30."
Arka berhenti. Menoleh.
"Dan?"
Tara menelan ludah. Dia tahu apa yang Arka tanyakan. Agenda pukul 21.00.
"Ada agenda tambahan pukul 21.00, Pak. Lokasi... tidak disebutkan."
Arka tidak bicara selama beberapa detik. Matanya menatap Tara seperti sedang menguji apakah dia akan bertanya lebih lanjut atau diam.
"Itu urusan pribadi," katanya akhirnya. "Jangan sentuh."
Lalu dia masuk ke kantornya dan membanting pintu.
Tara terdiam. Ada sesuatu di balik pintu itu yang tidak ingin Arka lihat siapa pun.
---
Pukul 13.00, saat Arka sedang makan siang di ruang kerjanya, seorang wanita mendekati meja Tara.
Wanita itu cantik. Rambut panjang hitam lurus, wajah seperti artis Korea, tubuh jenjang dengan gaun berwarna krem yang jelas mahal. Tapi yang menarik perhatian Tara bukan penampilannya. Tapi matanya.
Mata itu dingin. Tajam. Memandang Tara seperti sedang menilai harga barang di etalase.
"Kamu asisten baru Arka?"
Tara berdiri. "Iya, Bu. Nama saya Tara."
"Tara." Wanita itu mengulang nama Tara dengan bibir tipis yang hampir tidak bergerak. "Nama yang sederhana. Cocok untuk seseorang dengan latar belakang sederhana."
Tara merasakan ada yang tidak beres dengan ucapan itu. Bukan isinya. Tapi nadanya. Seperti pujian yang sebenarnya adalah penghinaan.
"Maaf, Bu, saya belum tahu nama Ibu?"
"Ratna Wijaya." Wanita itu tersenyum. Tapi senyumannya tidak sampai ke mata. "Ibu dari Arka."
Tara langsung membungkuk sedikit. "Maaf, Bu, saya tidak tahu—"
"Tidak masalah." Ratna mengangkat tangan. "Kamu baru. Kamu tidak mungkin tahu semuanya. Tapi ada satu hal yang harus kamu tahu."
Dia mendekat. Satu langkah. Lalu satu langkah lagi. Hingga jarak mereka hanya selebar setengah lengan.
"Arka adalah anakku. Dan aku tidak suka ada orang asing yang terlalu dekat dengannya."
Tara tidak bergerak. Dadanya sesak, tapi dia berusaha tidak menunjukkan ketakutan.
"Saya hanya asisten pribadi, Bu. Saya tidak punya niat—"
"Apa pun niatmu, urus saja pekerjaanmu." Ratna memotong. "Jangan bermimpi jadi menantu keluarga Wijaya. Keluarga kami tidak menerima orang sembarangan."
Dia berbalik, berjalan ke lift, dan pergi tanpa melihat ke belakang.
Tara baru sadar dia menahan napas.
---
Pukul 16.30, telekonferensi dengan mitra Singapura selesai lebih awal. Arka keluar dari ruang kerjanya dengan ekspresi berbeda. Tidak dingin. Tidak marah. Tapi... gelisah.
"Ibu saya datang?" tanyanya.
Tara mengangguk. "Pukul 13.00, Pak. Beliau hanya bicara sebentar lalu pergi."
"Apa yang dia bicarakan?"
Tara ragu. Jika dia bilang jujur, Ratna mungkin akan marah. Jika dia berbohong, Arka pasti tahu.
"Beliau bilang... beliau tidak suka orang asing yang terlalu dekat dengan Bapak."
Arka mengepalkan tangannya. Tara melihat urat-urat di punggung tangannya menonjol.
"Ibu saya selalu seperti itu," katanya pelan. "Menganggap semua orang ingin merebut sesuatu dariku. Padahal... dia sendiri yang paling banyak mengambil."
Tara tidak mengerti maksudnya. Tapi sebelum dia bisa bertanya, Arka sudah berbalik.
"Besok kamu ikut aku ke suatu tempat. Jangan bilang siapa pun."
"Ke mana, Pak?"
"Lokasi rahasia."
---
Malam itu, Tara pulang lebih lambat dari biasanya.
Saat dia berjalan ke stasiun kereta, ponselnya bergetar. Bukan pesan dari nomor misterius. Tapi telepon dari seseorang yang tidak pernah menghubunginya di jam segini.
Reza.
Teman satu fakultas dulu. Sekarang bekerja di divisi pemasaran Arahana Group. Pria yang dikenalnya sejak kuliah.
"Halo?"
"Tara, jangan ikut Arka ke mana pun besok."
Tara berhenti berjalan. "Bagaimana kamu tahu?"
"Semua orang di perusahaan ini tahu kalau Arka punya rapat rahasia besok malam. Dan semua orang juga tahu kalau rahasia itu bisa membunuhmu."
Bunyi klakson mobil di kejauhan. Suara orang-orang yang berlalu lalang. Tapi telinga Tara hanya fokus pada kata terakhir Reza.
Membunuh.
"Kamu bicara apa, Reza?"
"Arka Wijaya tidak hanya CEO, Tara. Dia juga punya urusan dengan dunia yang tidak terlihat. Dunia di mana orang mati karena tahu terlalu banyak."
Tara merasakan dingin menjalar dari ujung jari ke pundaknya.
"Kalau kamu sayang nyawamu, besok malam kamu sakit. Bilang ke Arka kamu tidak bisa ikut."
"Reza—"
Telepon terputus.
Tara menatap layar ponselnya. Panggilan berakhir. 3 menit 24 detik.
Dia tidak tahu harus percaya pada siapa lagi.
---
Jam 22.00, Tara sampai di rumah kontrakannya.
Ibunya sudah tidur. Tara duduk di lantai kamar, bersandar di dinding yang lembap, dan membuka ponselnya.
Pesan dari nomor misterius masuk 10 menit lalu.
"Reza memberitahumu untuk tidak ikut Arka besok?"
Tara terkesiap. Matanya membelalak.
"Bagaimana kamu tahu?"
Balasan datang cepat.
"Karena Reza bekerja untuk seseorang yang ingin Arka mati."
Tara tidak bisa bernapas.
Dia baru tiga hari bekerja. Tiga hari. Dan sudah terjebak di antara ibu CEO yang membencinya, teman lama yang ternyata mungkin musuh, dan bos yang menyimpan rahasia yang bisa membunuh siapa pun yang mendekat.
Satu hal yang Tara tahu pasti:
Besok malam, apapun yang terjadi, dia akan ikut Arka ke lokasi rahasia itu.
Bukan karena berani.
Tapi karena dia ingin tahu.
Siapa sebenarnya Arka Wijaya.