Pesan Arka tiba pada sore yang telah disepakati. Ia memperkenalkan nomor yang dipakai dan bertanya apakah Tara bersedia minum kopi di tempat umum. Ia tidak menyebut pekerjaan lama, tidak menanyakan alamat, dan tidak mengatakan ada sesuatu yang hanya dapat dijelaskan bila mereka bertemu.
Tara membalas keesokan paginya. Ia memilih kedai dekat stasiun dan waktu Sabtu sore, setelah memastikan jadwal Surti tidak berbenturan. Ia mengatakan akan datang sendiri serta pulang sendiri. Arka menerima pilihan itu dan hanya bertanya apakah perlu memesan meja. Tara menjawab tidak perlu.
Arka sudah duduk ketika ia tiba. Rambutnya sedikit lebih pendek, wajahnya tampak lebih kurus, tetapi ia tetap mudah dikenali. Tara berhenti beberapa langkah dari meja dan memberi dirinya waktu untuk menilai apa yang dirasakan. Tidak ada orang keamanan di pintu. Tidak ada map hitam di samping cangkir.
'Halo, Tara,' katanya.
'Halo.'
Mereka duduk dengan kecanggungan yang tidak dapat diselesaikan lewat senyum. Tara memesan teh. Arka tidak berkomentar bahwa ia dulu lebih sering menerima kopi. Ia menunggu sampai pelayan pergi, lalu mengatakan ia senang Tara bersedia datang.
'Aku tidak tahu pertemuan ini akan menjadi apa,' jawab Tara.
'Aku juga tidak ingin menentukan sebelum mendengar kamu.'
Tara menanyakan kegiatannya sekarang. Arka membantu menerjemahkan serta menyunting dokumen bisnis pada sebuah usaha jasa, dengan pekerjaan yang diperiksa pemiliknya. Ia masih memiliki urusan kepemilikan yang ditangani secara terbatas melalui pengelola, tetapi tidak kembali menjadi CEO Arahana atau mengendalikan pengurus baru dari luar struktur.
'Kamu bisa hidup tanpa jabatan itu?'
'Aku harus belajar. Ada hari ketika aku masih ingin menelepon orang hanya supaya sesuatu selesai sesuai keinginanku. Sekarang aku tahu keinginan itu tidak cukup menjadi alasan.'
Ia tidak menyebut pekerjaan sederhananya sebagai bukti telah menjadi orang baik. Tara juga tidak mengagumi penurunan jabatan seolah segala akibat dapat diukur dari ukuran ruangan kerja. Yang lebih ingin diketahuinya adalah bagaimana Arka menghadapi orang yang berbeda pendapat ketika tidak ada orang lain sedang memperhatikan.
Arka menceritakan satu tugas yang ditolak klien karena ia terlalu banyak mengubah nada tulisan. Ia sempat kesal dan menjawab terlalu singkat. Pemilik usaha memintanya memperbaiki komunikasi sebelum pekerjaan berikutnya diberikan. Arka melakukannya. Cerita itu kecil, tanpa kepahlawanan, dan Tara lebih mudah memahaminya daripada janji bahwa ia tak akan pernah marah lagi.
Mereka membicarakan Surti tanpa rincian tagihan. Tara mengatakan ibunya masih menjalani perawatan dan kini senang mengurus dua pot tambahan. Arka menanyakan apakah ia boleh menyampaikan salam. Tara menjawab ia akan bertanya kepada ibunya, lalu percakapan beralih ke pekerjaan Tara.
Menjelang cangkir mereka kosong, Tara menyebut hari pertamanya di Arahana. Ia ingat datang sebelum pukul sembilan dan tetap disebut terlambat. Selama itu ia tidak pernah memperoleh penjelasan yang membuat kejadian tersebut masuk akal.
'Aku sengaja membuatmu merasa sudah melakukan kesalahan,' kata Arka setelah diam. 'Supaya kamu berusaha mengejar penilaianku. Itu cara mengendalikan orang.'
Tara merasakan sesuatu mengendur di dadanya, bukan karena tindakan itu menjadi ringan, melainkan karena ia tidak lagi harus mempertanyakan apakah jam yang dilihatnya dahulu salah. Ia mengatakan perlakuan tersebut membuatnya takut bahkan sebelum diberi tugas yang jelas.
'Aku tahu sekarang,' jawab Arka. 'Waktu itu aku memilih tidak memikirkan akibatnya bagimu.'
Tara tidak mengucapkan pengampunan. Ia mengatakan ia mendengar jawabannya. Ketika waktu yang ditentukannya habis, ia berdiri dan membayar minumannya. Arka tidak menahannya untuk menyelesaikan bagian percakapan yang belum ia mulai. Mereka berpisah di depan kedai, kemudian berjalan ke arah berbeda.
Tara pulang dengan perasaan yang bercampur. Ia tidak menelepon Damar untuk meminta penilaian tentang apakah Arka telah cukup berubah. Ia berbicara kepada Sofi sebagai teman, bukan meminta temannya menjadi pengawas. Sofi bertanya apakah ia ingin bertemu lagi. Tara memikirkan pertanyaan itu selama beberapa hari sebelum menjawab untuk dirinya sendiri.
Pertemuan berikutnya terjadi sebulan kemudian. Mereka mengunjungi pameran buku kecil dan berbeda pendapat mengenai sebuah esai. Arka memotong kalimat Tara dua kali. Tara berhenti berbicara dan mengatakan ia tidak ingin menghabiskan sore dengan merebut kembali gilirannya. Arka meminta maaf, kemudian benar-benar mendengarkan kelanjutan yang tadi dipotong.
Pada pertemuan lain, Tara membatalkan karena Surti memerlukan perhatian. Arka menawarkan bantuan, menerima penolakannya, lalu tidak menghubungi rumah sakit melalui orang lain. Tara mengetahui itu bukan karena memeriksa ponselnya, melainkan karena Arka membiarkan ia menentukan kapan akan memberi kabar. Ia tidak kembali menghadapi informasi pribadi yang tiba-tiba diketahui seluruh kantor.
Enam bulan pertemuan yang jarang dan percakapan yang kadang sulit lewat. Tara tetap mempunyai akhir pekan bersama Surti dan teman-temannya. Arka menjalani konseling serta kehidupannya sendiri; ia tidak meminta Tara mendengar semua sesi atau menjadi penjamin bahwa ia tak akan mengulangi kesalahan.
Pada suatu sore, Tara datang lebih awal dan memilih meja di luar. Arka tiba membawa buku yang ingin dikembalikan kepada perpustakaan sesudah pertemuan. Tara bertanya apakah ia sedang terburu-buru. Ia menjawab tidak, lalu duduk sambil menunggu Tara menyelesaikan pikirannya.
'Aku ingin mencoba berkencan denganmu,' kata Tara akhirnya. 'Bukan karena masa hukumanmu sudah selesai atau karena aku berutang jawaban. Aku menyukai percakapan kita sekarang, dan aku ingin tahu apakah hubungan ini bisa tumbuh.'
Arka memandangnya tanpa langsung meraih tangannya. 'Aku juga menginginkannya.'
Tara menyampaikan bahwa ia belum menjanjikan pernikahan dan tidak akan membatasi pekerjaan atau keluarganya agar hubungan terasa mudah. Arka mengatakan ia mengerti. Ia bertanya apakah boleh menggenggam tangannya. Tara mengulurkan tangan lebih dahulu, lalu tersenyum kecil ketika menyadari ia melakukannya tanpa menghitung biaya dari sebuah penolakan.
Arka mengatakan ia ingin mengajak Tara makan pada pekan berikutnya. Tara membuka kalender, menemukan jadwal yang sudah dibuat dengan Sofi, lalu menawarkan hari lain. Mereka memilih waktu yang sesuai keduanya. Tidak ada pembicaraan yang harus dibatalkan agar keputusan berkencan terlihat sungguh-sungguh.
Mereka meninggalkan kedai menjelang petang. Tidak ada pengumuman besar. Tara memilih berjalan sampai stasiun, dan Arka menemaninya setelah ia mengajak. Di depan pintu masuk mereka berpisah. Tara naik kereta dengan buku catatan di tas dan perasaan hangat yang belum harus diberi kepastian lebih jauh daripada keputusan yang telah dibuat sore itu.