Dua tahun setelah mulai berkencan, Tara dan Arka duduk bersama Surti di sebuah rumah yang hendak disewa. Cat dindingnya belum kering seluruhnya. Surti meminta jendela dibuka, kemudian mengamati jalan menuju kamar mandi sebelum memberi pendapat tentang taman.
'Dua kamar ini cukup kalau kalian memang ingin Ibu ikut,' katanya.
'Kami ingin,' jawab Tara. 'Tapi Ibu juga boleh memilih tetap di tempat sekarang kalau merasa lebih nyaman.'
Surti melihat Arka. Lelaki itu mengatakan ia telah membicarakan kebutuhan ruang bersama Tara dan bersedia mendengar keputusan Surti sendiri. Ibunya Tara tidak harus berpura-pura sehat atau mengurangi kebutuhan agar dapat diterima. Mereka akan mengatur perawatan, pekerjaan, serta bantuan rumah tangga dengan perhitungan yang disepakati.
Pilihan rumah itu tidak datang dari satu kunjungan. Mereka telah melihat beberapa tempat, membandingkan jarak ke perawatan Surti dan kantor Tara, serta menolak pilihan Arka yang terlalu jauh. Arka pernah membuat janji dengan pemilik tanpa bertanya dahulu. Tara menolak ikut dan mengatakan ia tidak ingin kembali dihadapkan pada keputusan yang sudah dibuat.
Arka sempat membela diri dengan alasan hanya ingin mempercepat. Mereka pulang dalam keadaan kesal. Keesokan harinya ia mengakui bahwa memberi nama yang baik pada kebiasaan lama tidak membuatnya pantas diteruskan. Ia membatalkan janji tersebut sendiri, lalu menunggu sampai mereka memiliki waktu untuk mencari bersama. Tara tidak diminta menebus pertengkaran dengan mengucapkan terima kasih.
Ada perbedaan lain selama dua tahun itu: tentang waktu, bantuan kepada keluarga, serta seberapa banyak kehidupan pribadi ingin dibagikan. Beberapa percakapan selesai dengan tawa, beberapa memerlukan jeda. Tara dapat mengambil jeda tanpa ditinggali pesan yang menuduhnya tidak setia. Arka juga dapat mengatakan ia sedih tanpa membuat kesedihannya menjadi perintah.
Dua bulan sebelum kunjungan rumah itu, lamaran dibicarakan sesudah keduanya menjelaskan apa yang diinginkan dari pernikahan. Arka tidak membawanya ke depan keluarga untuk memperoleh jawaban yang lebih sulit ditolak. Ia bertanya pada satu malam setelah makan, di rumah Tara, ketika Surti sudah masuk kamar. Tara mengatakan iya setelah meminta waktu beberapa hari untuk memikirkan rencana yang konkret.
Mereka membicarakan pengeluaran, kepemilikan, pekerjaan Tara, dan perawatan Surti sebelum menentukan tanggal. Tara akan tetap bekerja di firma. Arka melanjutkan pekerjaan jasanya serta pengelolaan urusan pribadi melalui batas yang sudah berlaku. Ia tidak kembali ke Arahana sebagai penguasa yang menunggu orang lain lelah mengingat masa lalunya.
Ratna pertama kali datang menemui Surti dalam pertemuan yang disetujui keduanya. Ia tidak membawa amplop atau usulan tentang siapa harus berhenti bekerja. Ia membawa makanan, duduk, lalu meminta maaf kepada Tara atas cara ia pernah merendahkan posisi serta pilihan hidupnya.
'Saya menganggap keluargamu masalah yang dapat diatur dengan uang,' katanya. 'Saya tidak berhak memperlakukanmu begitu.'
Surti mengatakan ia ingin putrinya tetap dapat berbicara sebagai dirinya sendiri setelah menikah. Ratna menjawab ia mendengarnya. Tidak semua luka hubungan mereka selesai di meja itu, tetapi ia tidak lagi menuntut agar restunya menjadi jawaban bagi orang lain.
Pada pagi pernikahan, Tara bangun sebelum alarm. Ia duduk beberapa menit di tepi tempat tidur, mendengarkan Surti memanggil dari kamar sebelah untuk menanyakan letak bros. Sofi datang membawa sarapan dan segera memarahi keduanya karena memikirkan aksesori sebelum makan.
Acara disiapkan sederhana dengan kursi yang memudahkan Surti keluar bila lelah. Perawatan rutinnya tetap berjalan sesuai jadwal; mereka tidak mengubah kebutuhan kesehatannya demi foto keluarga yang lebih lama. Tara membantu ibunya memasang bros, lalu menerima teguran agar berhenti membetulkan semuanya dan menyiapkan dirinya sendiri.
Arka menunggu di ruang yang telah disiapkan bersama Rangga dan beberapa orang dekat. Sebelum keluar, ia memandang foto kecil Hendra yang dibawa Ratna. Ia merindukan ayahnya tanpa merasa harus menghidupkan kembali keluarga yang dahulu dipaksakan terlihat sempurna. Slamet masih menjalani pidananya. Perkara dana telah mempunyai putusan dan pemulihan. Tidak ada alasan untuk membawa nama mereka sebagai ancaman ke hari ini.
Ketika Tara masuk, Arka tidak memanggilnya mendekat dengan gerakan yang dahulu dipakai kepada bawahannya. Ia berdiri dan menunggu sampai Tara tiba di sisinya. Tara melihat tangan lelaki itu sedikit gemetar. Ia menyentuh jarinya sebentar sebelum duduk.
Rangkaian pernikahan berlangsung di hadapan keluarga dan para saksi. Tara menyatakan persetujuannya dengan suara yang jelas. Arka mengucapkan janji, lalu keduanya menyelesaikan bagian yang harus ditandatangani. Setelah petugas menyatakan mereka sah sebagai suami istri, Surti menutup wajah dengan saputangan dan Sofi mulai menangis lebih keras daripada yang direncanakannya.
Tara memeluk ibunya lebih dahulu. Ratna berdiri beberapa langkah di belakang sampai Tara sendiri mendekat. Mereka berpelukan singkat, tanpa pesan agar masa lalu dilupakan. Rangga menepuk bahu Arka, kemudian mengambilkan air karena lelaki itu baru sadar tenggorokannya kering.
Sesudah tamu berkurang, Surti ingin pulang beristirahat. Tara hampir berdiri untuk mengurus semua barang, tetapi Sofi menunjukkan tas yang sudah siap dan kendaraan yang dipesan. Arka bertanya apakah Tara ingin ikut menemani atau masih tinggal beberapa menit. Tara memilih mengantar ibunya bersama, lalu kembali bila tenaga mereka cukup.
Di rumah baru, Surti meminta kursinya diletakkan dekat jendela. Tanaman kecil dari Kemang kini memiliki pot lebih besar, dengan beberapa daun yang pernah dipangkas karena menguning. Tara menaruhnya di tempat yang dipilih ibunya. Arka membawa dua tas ke kamar, lalu kembali menanyakan letak barang dapur sebelum membongkar semuanya menurut kebiasaannya sendiri.
Sebelum beristirahat, Surti memanggil mereka untuk menanyakan apakah jadwal kendaraan perawatan pekan depan sudah disimpan. Tara menunjukkan catatannya, Arka menyebut waktu yang dapat ia bantu, lalu ketiganya menyepakati pembagian. Setelah itu Surti mengusir mereka dari kamar karena ingin tidur. Tara menutup pintu sambil tertawa.
Menjelang malam, mereka duduk di teras setelah Surti tidur. Jalan di depan rumah tenang. Tara menyandarkan punggung dan mengeluh kakinya pegal. Arka menawarkan mengambilkan sandal, kemudian tertawa ketika Tara menunjukkan sandal itu sudah dipakainya sejak tadi.
'Kamu gugup sekali hari ini,' katanya.
'Masih.'
Tara menggenggam tangannya. Ia mengetahui laki-laki yang dipilihnya pernah melakukan hal yang berat dan telah menjalani akibatnya. Ia tidak menyerahkan ingatan atau kebebasannya bersama persetujuan menikah. Di sampingnya, Arka mendengar suara rumah, merasakan tangan Tara, dan membiarkan kebahagiaan hadir tanpa mencari orang yang harus dikendalikan agar ia tidak kehilangan lagi.
TAMAT