Pada awal tahun kedua di firma, Tara diminta memperbaiki laporan yang dikerjakannya selama dua pekan. Atasannya mengatakan ringkasannya tepat, tetapi rekomendasi lokasi penjualan terlalu bergantung pada data lama. Tara pulang dengan kepala penuh dan baru menyadari ia membawa rasa kesal sampai ke meja makan ketika Surti bertanya mengapa nasinya tak disentuh.
'Laporanku harus diulang.'
'Semuanya salah?'
'Tidak. Bagian rekomendasinya kurang kuat.'
Surti mengambilkan air. 'Kalau begitu makan dulu. Besok pikirkan bagian yang memang perlu dibetulkan.'
Tara tertawa pendek. Ia telah menghabiskan waktu memisahkan fakta dan dugaan bagi orang lain, lalu mendadak memperlakukan satu revisi seolah seluruh kemampuannya tidak berguna. Ia makan, tidur, dan keesokan harinya meminta penjelasan lebih rinci daripada diam-diam mengerjakan semuanya sendirian.
Pekerjaan itu selesai sesudah kunjungan lapangan bersama rekannya. Rekomendasinya berubah karena mereka menemukan kebiasaan pembeli yang tidak tampak pada tabel awal. Tara melihat bahwa ketelitian dapat dipakai untuk membantu usaha kecil mengambil keputusan, bukan selalu untuk mencari orang yang berkhianat. Ia mulai menyukai bidang kerjanya karena alasan yang tidak berkaitan dengan keluarga Wijaya.
Tahun itu tetap berat. Surti pernah harus kembali dirawat, dan tabungan mereka berkurang. Tara mengatur izin, membagi pekerjaan dengan rekan, dan mengurus kebutuhan ibunya bersama petugas rumah sakit. Ada malam ketika ia menangis di kamar mandi karena takut tidak mampu membayar semua hal yang belum ditanggung.
Sofi datang membawa pakaian bersih dan menemani beberapa jam. Ia tidak menyuruh Tara menelepon Arka atau mengatakan bahwa dulu kehidupan mereka lebih mudah di Kemang. Mereka membandingkan tagihan dengan catatan pembayaran, mencari bagian yang perlu ditanyakan kepada administrasi, lalu menghitung yang masih harus disiapkan. Bantuan yang diterima Tara kali itu tidak mengambil keputusan dari tangannya.
Sesudah Surti kembali ke rumah, mereka mengubah beberapa pengeluaran. Tara menunda pembelian meja baru, Surti memilih memperbaiki kipas yang masih dapat dipakai. Mereka tidak hidup tanpa kekhawatiran, tetapi juga tidak perlu menyebut setiap penghematan sebagai kegagalan. Rumah kecil itu tetap memiliki cahaya yang cukup untuk tanaman dekat jendela.
Tahun berikutnya, Tara mulai memegang satu bagian proyek dengan pengawasan atasan. Ia belum memimpin firma atau menandatangani keputusan besar. Ia belajar membagi tugas, menerima koreksi, dan menghentikan kebiasaannya menjawab semua pesan seketika karena takut dianggap tak berguna. Kenaikan tanggung jawab datang setelah penilaian kerja, bersama kenaikan gaji yang mereka masukkan ke anggaran perawatan serta tabungan.
Pada libur pendek, Tara pergi ke Bogor bersama Sofi selama satu malam. Surti memilih tinggal bersama kerabat yang sudah sepakat menemaninya dan mengingatkan Tara agar tidak menelepon setiap jam. Mereka menyiapkan kebutuhan lebih dahulu, lalu berangkat setelah ibunya mengusir mereka sambil tertawa.
Di penginapan, Tara bangun karena mengira ada pesan kantor. Ponselnya ternyata hanya menampilkan jam. Ia meletakkannya kembali, membuka jendela, dan mendengar suara hujan. Ia berjalan membeli sarapan bersama Sofi tanpa membicarakan audit, keluarga Wijaya, atau pekerjaan. Ketika pulang, ia membawa tanaman kecil yang dipilihnya sendiri untuk Surti dan cerita tentang libur yang akhirnya benar-benar dipakai.
Berita mengenai Arahana sesekali sampai kepadanya melalui pengumuman resmi. Pengurus baru mempertahankan perbaikan arsip serta pengawasan privasi. Dana enam miliar dalam perkara tagihan dipulihkan melalui penelusuran dan penyelesaian aset. Tidak ada pengumuman yang mengubah proyeksi seratus lima puluh miliar menjadi kerugian yang tak pernah dibuktikan.
Tara membaca bagian yang perlu diketahuinya, kemudian menutupnya. Hak pegawai yang terdampak kamera ditangani melalui pendamping mereka. Ia tidak menjadi juru bicara seluruh korban hanya karena ia orang yang pertama mengajukan pengaduan dari ruang eksekutif. Beberapa mantan rekan mengirim kabar, dan ia senang mendengar kehidupan mereka bergerak ke hal lain.
Niken juga memberikan kabar setelah proses keterangannya selesai. Ia bekerja di tempat berbeda dengan tugas yang tidak memberinya akses bebas ke data pribadi pegawai. Ia tidak meminta Tara menjadi penjamin wataknya. Tara membalas singkat, berharap ia menjaga kepercayaan yang baru diberikan kepadanya. Mereka tidak menjadi dekat, tetapi tidak lagi saling mengirim kalimat dari balik nomor tanpa nama.
Ketika Arka menjalani tahun terakhir pidananya, Tara tidak mengunjungi. Ia tidak pernah berjanji akan datang. Sesekali ia bertanya kepada dirinya sendiri apakah ia ingin mengetahui keadaannya, lalu membiarkan pertanyaan itu tinggal tanpa mengubahnya menjadi kewajiban. Perasaannya tidak selalu sederhana. Ada kemarahan, kenangan percakapan yang baik, juga kelegaan karena hidupnya tidak lagi bergantung pada keputusan lelaki itu.
Surti tidak menilainya atas perasaan tersebut. Suatu sore, ketika mereka menjahit kancing baju, ibunya mengatakan Tara boleh mengenang hal baik tanpa membatalkan hal buruk. Ia juga tidak harus menolak seluruh rasa ingin tahu agar tetap dianggap kuat.
'Ibu ingin aku ketemu dia?'
'Ibu ingin kamu memilih dengan tenang. Kalau kamu tidak ingin bertemu, itu juga jawaban.'
Tara menyimpan kalimat itu. Ia tidak menelepon siapa pun malam tersebut. Ia menyelesaikan kancing, memasukkan baju ke lemari, dan menyiapkan bahan presentasi untuk esok. Pada akhirnya, sebagian besar hidupnya memang terdiri atas hari biasa yang dapat dijalani tanpa menunggu tanda dari Arka.
Tiga tahun pidana itu benar-benar lewat. Arka menyelesaikan masa yang harus dijalani dan kembali ke kehidupan di luar dengan kewajiban serta pengaturan yang tetap harus dipatuhinya. Rangga menyampaikan kabar seperlunya kepada Damar dalam penyelesaian administrasi lama. Tidak ada permintaan agar Tara datang menjemput atau menyediakan tempat tinggal.
Beberapa bulan kemudian, Arka meminta izin mengirim satu pesan pribadi melalui perantara yang sama. Damar menanyakan kesediaan Tara, lalu menerima ketika Tara mengatakan belum. Permintaan itu tidak diulang setiap pekan. Tidak ada bunga dikirim ke kantor baru atau kendaraan yang menunggu di depan rumahnya.
Tara memperhatikan ketiadaan tekanan tersebut, tetapi tidak menjadikannya bukti bahwa ia harus berubah pikiran. Ia memiliki pekerjaan, ibu, teman, serta rencana libur yang sederhana. Enam bulan setelah Arka kembali ke luar, ia akhirnya mengatakan kepada Damar bahwa ia bersedia menerima satu pesan. Ia mengambil keputusan itu setelah makan malam yang tenang, tanpa tagihan di meja dan tanpa seseorang berdiri menunggu jawabannya.