Firma yang mewawancarai Tara menempati dua lantai ruko, jauh lebih kecil daripada gedung Arahana. Tidak ada lift khusus dan tak seorang pun menanyakan apakah ia mengenal keluarga Wijaya secara pribadi. Pewawancara meletakkan satu contoh data pasar di meja, lalu memintanya menunjukkan bagian yang belum cukup untuk mendukung perkiraan penjualan.
Tara membaca sampai bagian catatan. Salah satu tabel memakai periode berbeda dari penjelasannya. Ia tidak langsung menghapus angkanya. Ia menandai perbedaan dan menjelaskan pertanyaan yang perlu diajukan sebelum data dipakai. Setelah itu, ia diminta menulis ringkasan pendek untuk klien yang tidak memahami tabel.
Tugas tersebut membuatnya mengingat kuliah, ketika pengetahuan ekonomi belum bercampur dengan ketakutan kehilangan biaya pengobatan. Ia tidak sempurna. Ia salah menjumlahkan satu kolom, menemukan kesalahan ketika memeriksa ulang, lalu membetulkannya sebelum menyerahkan hasil. Pewawancara bertanya mengapa ia mencoret jawaban pertama. Tara menjelaskan tanpa menyembunyikan kesalahannya.
Penawaran kerja datang sepekan kemudian. Gajinya lebih kecil daripada yang diterima sebagai asisten Arka. Jam kerja dan tugasnya tertulis, termasuk masa percobaan sebagai peneliti junior. Tara tidak langsung menjawab iya hanya karena ingin meninggalkan gedung lama. Ia membawa rincian itu pulang dan menghitung pengeluarannya bersama Surti.
Sejak masa sewa yang dibayarkan Arka berakhir, Tara menutup perpanjangan singkat dari tabungan gajinya. Kemang terlalu mahal untuk dipertahankan dalam jangka panjang. Bantuan medis tiga bulan yang sudah diberikan tetap dicatat sebagai bantuan, tanpa kewajiban pengembalian. Sesudah masa itu, kebutuhan berikutnya tidak dapat diselesaikan hanya dengan berharap Arka akan membayar lagi.
Tara telah mengurus kembali dokumen jaminan kesehatan ibunya dengan bantuan petugas administrasi. Sebagian biaya perawatan rutin dapat ditanggung setelah statusnya diperjelas. Ia tetap menghitung biaya perjalanan, kebutuhan sehari-hari, dan bagian tagihan yang tidak tercakup. Surti masih memerlukan perawatan dua kali seminggu. Tidak ada pekerjaan baru yang tiba-tiba menyembuhkan ginjalnya.
'Kalau kita pindah lebih dekat Fatmawati, ongkosnya berkurang,' kata Tara.
'Tapi lihat jalannya juga. Ibu tidak mau kamu memilih kamar yang harus dicapai lewat tangga curam hanya karena sewanya lebih murah.'
Mereka mengunjungi tiga tempat. Yang pertama lembap dan terlalu gelap. Yang kedua memiliki halaman, tetapi letaknya jauh dari jalur kendaraan. Tempat ketiga lebih sempit daripada rumah Kemang, dengan satu ruang depan yang dapat dibagi tirai. Pintu kamar mandi cukup mudah dijangkau Surti. Mereka pulang untuk menghitung lagi sebelum membayar uang muka.
Sofi membantu mengangkut barang pada hari pindah. Tidak ada truk yang dikirim Arka. Tara membayar kendaraan angkut dari uang yang telah disiapkan dan membawa kuitansinya sendiri. Surti duduk dekat pintu sambil mengarahkan letak kursi, sementara Sofi mencoba memasang tirai yang ternyata terlalu panjang.
'Kita lipat dulu,' kata Surti. 'Tidak semua harus selesai sore ini.'
Tara tertawa. Kalimat itu lebih menenangkan daripada janji sebuah rumah yang sempurna. Ia menyimpan map pembayaran di rak yang dapat dijangkau ibunya dan menaruh tanaman kecil mereka dekat jendela. Alamat baru hanya dibagikan kepada orang yang mereka pilih, termasuk tempat kerja baru untuk keperluan administrasi.
Pengunduran diri Tara diproses oleh pengurus sementara Arahana. Ia menyelesaikan masa transisi, menyerahkan agenda serta berkas yang menjadi tanggung jawabnya, dan menerima bukti bahwa akses auditnya telah ditutup. Ia tidak membawa salinan daftar hitam atau bahan penyidikan sebagai kenang-kenangan. Pengalaman dapat dituliskan dalam riwayat kerja tanpa memindahkan rahasia perusahaan ke dalam tas.
Reza meminta kesempatan bertemu sebelum hari terakhirnya. Tara bersedia di kantin, pada jam yang ditentukannya. Ia ingin menutup beberapa kalimat yang dibiarkan menggantung sejak ibunya dirawat.
'Aku sudah menerima pembetulan tentang pesan anonim,' kata Reza. 'Kepatuhan juga sudah memeriksa pesan yang kuberikan. Pertanyaan Aryo memang ada. Tapi tidak ada perintah membunuh yang bisa kutunjukkan.'
Tara mengangguk. 'Aku tidak akan menyebutmu bagian dari rencana membunuh Arka. Yang tetap salah, kamu mencari kabarku melalui orang lain dan berbohong soal HRD.'
'Aku tahu. Waktu itu aku ingin kamu mendengarkanku.'
'Aku juga perlu menjawab tentang perasaanmu. Aku tidak membalasnya, Za. Jangan menunggu aku berubah karena merasa pernah dibantu atau ditemani.'
Reza menatap gelasnya cukup lama. Ia mengatakan jawaban itu menyakitkan, tetapi ia mendengarnya. Ia tidak bertanya apakah Tara memilih Arka atau meminta alasan yang dapat dibantah. Tara belum memilih hubungan dengan siapa pun. Ia hanya menjelaskan sesuatu yang berhak diketahui Reza tanpa memberinya harapan palsu.
Mereka berpisah tanpa janji kembali seperti dahulu. Bila proses resmi memerlukan keterangan, masing-masing akan menjawab tentang hal yang diketahui. Untuk urusan pribadi, Tara tetap meminta jarak. Reza tidak menanyakan alamat barunya.
Niken mengirim kabar melalui Damar bahwa ia telah menyampaikan seluruh keterangannya. Aksesnya ke daftar pegawai telah dicabut sambil penyalahgunaan datanya dinilai. Ia tetap didampingi ketika memberi keterangan mengenai Slamet. Keputusan tentang perbuatannya sendiri tidak dijadikan alasan untuk menutup kesaksiannya atau menjanjikan hasil tertentu.
Tara membaca kabar itu sekali. Ia tidak merasa harus menjadi sahabat Niken untuk mengakui bahwa penjelasannya membantu. Ia juga tidak merasa perlu membicarakan perempuan tersebut kepada semua mantan rekan kerja. Mereka sama-sama akan menjawab pada tempat yang tepat.
Sebelum meninggalkan Arahana, Tara memeriksa surat pengalaman kerja yang diberikan kepadanya. Pengurus baru mencantumkan tugas administrasi yang memang dikerjakan, tanpa mengklaim ia membongkar seluruh perkara seorang diri. Tara meminta satu tanggal diperbaiki, menerima salinan yang benar, lalu menyimpannya untuk kebutuhan pekerjaan. Ia ingin riwayatnya dapat dibaca tanpa membawa jabatan siapa pun sebagai jaminan.
Pada hari pertama di firma baru, Tara datang membawa bekal dan buku catatan. Atasannya menunjukkan meja bersama, menjelaskan tugas pekan pertama, lalu bertanya apakah ia membutuhkan penyesuaian waktu untuk urusan keluarga. Tara menyebut dua jadwal yang perlu dibicarakan dan menawarkan cara mengganti waktunya. Mereka mencapai kesepakatan yang dicatat bersama tugasnya.
Sore itu ia pulang sebelum gelap dan menemukan Surti sedang menonton televisi di balik tirai yang kini sudah dipendekkan. Ibunya bertanya bagaimana kantor barunya. Tara mengatakan kursinya kurang nyaman, datanya berantakan, dan ia senang mempunyai pekerjaan yang dapat dibicarakan tanpa berbisik. Surti tertawa, lalu menyuruhnya mengambil dua piring untuk makan malam.