Hari kedua sebagai asisten pribadi CEO ternyata lebih buruk dari hari pertama.
Bukan karena Arka semakin kejam—justru sebaliknya. Dia hampir tidak bicara sepanjang pagi. Hanya memberi perintah dengan anggukan atau lambaian tangan. Tapi justru keheningan itulah yang membuat Tara semakin gelisah.
Orang yang diam itu sulit dibaca. Dan orang yang sulit dibaca, sulit dihindari.
"Ambilkan file laporan keuangan divisi properti. Tahun 2019 sampai 2023."
Tara mengangguk. "Ada di server, Pak?"
"Tidak. Di ruang arsip lantai bawah tanah."
Lantai bawah tanah.
Tara belum tahu gedung Arahana Group memiliki lantai bawah tanah. Dalam struktur organisasi yang diberikan HRD kemarin, tidak ada satu kata pun tentang basement.
Tapi dia tidak bertanya. Urusannya bukan untuk bertanya. Urusannya adalah melakukan.
---
Ruang arsip itu ternyata bukan sekadar ruangan.
Tara harus melewati tiga pintu dengan kartu akses berbeda. Pintu pertama menggunakan ID card standar karyawan. Pintu kedua memerlukan sidik jari—Tara harus menunggu petugas keamanan datang untuk membukakan. Pintu ketiga... tidak menggunakan kartu atau sidik jari.
Pintu ketiga hanya terbuka dengan kode yang diberikan Arka melalui pesan singkat.
"040591"
Tara mengetik angka itu di panel digital. Pintu besi berat itu terbuka dengan suara desis.
Dan di baliknya, bukan hanya rak-rak arsip.
Ada ruangan seukuran lapangan basket. Dindingnya dipenuhi layar monitor yang menampilkan live feed dari berbagai sudut gedung. Kamera rahasia. Tara mengenali beberapa sudut: lorong dekat toilet eksekutif, ruang ganti karyawan lantai 8, bahkan ruang rapat utama tempat dia pertama kali bertemu Arka kemarin.
Dia merasakan bulu kuduknya merinding.
Ini bukan ruang arsip. Ini ruang pengawasan.
"Apa yang kamu lihat?"
Tara terperanjat. Suara Arka terdengar dari balik pundaknya. Dia tidak tahu sejak kapan pria itu berdiri di sana.
"S-saya... ruangan ini, Pak. Ini bukan..."
"Ini bukan tempatmu bertanya," potong Arka dingin. Dia berjalan melewati Tara, mendekati salah satu layar, lalu menekan tombol merah di bawahnya. Layar itu mati. Kemudian yang lain. Satu per satu. Hingga hanya tersisa lampu neon dan bayangan panjang mereka berdua.
"Aku tidak suka orang yang terlalu penasaran," kata Arka tanpa menoleh. "Tapi aku lebih tidak suka orang yang berbohong mengatakan tidak melihat sesuatu padahal mereka melihatnya."
Tara menelan ludah. Dadanya naik turun.
"Aku akan lupakan yang aku lihat, Pak."
Arka tertawa kecil. Tidak bahagia. Lebih seperti ejekan.
"Sayangnya, kamu tidak bisa."
---
Sore harinya, Arka memanggil Tara ke ruang kerjanya.
Bukan untuk memberi pekerjaan. Bukan untuk memarahi. Tapi untuk... bercerita.
"Ayahku membangun perusahaan ini dari nol," kata Arka sambil menatap langit-langit. Di luar jendela, matahari mulai tenggelam, menyemburkan warna jingga ke seluruh ruangan. "Dulu dia hanya pedagang tekstil keliling. Naik angkot dari pasar ke pasar. Sampai suatu hari, dia bertemu seseorang di stasiun kereta."
Tara duduk di kursi di depan meja Arka. Tidak tahu apakah dia diizinkan duduk, tapi Arka tidak menyuruhnya berdiri.
"Orang itu menawarkan sesuatu. Kerja sama. Ayahku tidak punya apa-apa, jadi dia setuju." Arka menghela napas. "Sepuluh tahun kemudian, Arahana Group berdiri. Dan dua puluh tahun setelah itu, ayahku tewas dalam kecelakaan yang tidak pernah terbukti sebagai pembunuhan."
Tara menggenggam lututnya. "Bapak yakin itu pembunuhan?"
"Aku tidak yakin. Aku tahu." Arka menoleh, menatap Tara dengan mata yang tidak lagi dingin. Ada api di sana. Api yang sudah lama menyala tapi dipendam terlalu dalam. "Dan pelakunya ada di keluarga kami sendiri."
Bunyi jam dinding tiba-tiba terasa terlalu keras.
"Kenapa Bapak cerita ini ke saya?" tanya Tara lirih.
"Karena kamu butuh uang. Dan aku butuh seseorang yang bisa aku percaya." Arka berdiri. Berjalan ke jendela, membelakangi Tara. "Tiga asisten sebelumnya keluar bukan karena aku jahat. Tapi karena mereka—"
"Disuap," Tara menyelesaikan kalimatnya.
Arka terdiam.
Lalu dia tersenyum. Senyuman asli untuk pertama kalinya. Pahit. Lelah. Tapi nyata.
"Iya. Disuap."
---
Malam itu, Tara tidak langsung pulang.
Duduk di emperan toko kelontong dekat kantor, menatap lalu lalang mobil dan orang-orang yang tidak peduli satu sama lain. Pikirannya berantakan.
Di satu sisi, dia butuh pekerjaan ini. Ibu butuh biaya cuci darah. Tagihan listrik sudah menumpuk tiga bulan. Kontrakan juga hampir jatuh tempo.
Di sisi lain... dia baru dua hari bekerja dan sudah melihat ruang pengawasan rahasia, mendengar cerita tentang pembunuhan yang tidak pernah terungkap, dan menerima ancaman dari nomor tidak dikenal di tengah malam.
"Ini gila," gumamnya sendiri.
Ponselnya bergetar.
Pesan dari nomor yang sama semalam.
"Kamu masih di sana? Kamu lebih berani dari yang aku kira. Tapi keberanian tidak akan menyelamatkanmu. Keluar sebelum terlambat."
Tarra tidak menghapus pesan itu kali ini. Dia membaca ulang tiga kali. Lalu membalas:
"Siapa kamu?"
Dua menit kemudian, balasan masuk.
"Seseorang yang tidak ingin melihat orang tak bersalah menjadi korban berikutnya."
Tara mengetik cepat:
"Korban dari apa?"
Tiga titik di layar. Menari-nari. Lalu berhenti.
Tidak ada balasan.
---
Jam sebelas malam, Tara sampai di rumah.
Ibunya sudah tidur. Dia menyalakan lampu kamar sekadarnya, lalu duduk di lantai sambil membuka laptop. Bukan untuk bekerja. Tapi untuk mencari.
Dia mengetik di mesin pencari: "Hendra Wijaya meninggal 2018"
Ribuan artikel muncul.
Semua mengatakan hal yang sama: Kecelakaan tunggal. Mobil menabrak pembatas jalan tol dalam kecepatan tinggi. Tidak ada korban lain. Tidak ada tanda-tanda pengereman mendadak.
Tapi Tara membaca lebih teliti. Di salah satu forum diskusi tua, seorang pengguna dengan nama samaran menulis:
"Saya mantan karyawan Arahana Group. Percaya atau tidak, kecelakaan itu bukan kecelakaan. Rem mobil Hendra Wijaya sudah dirusak sebelum dia melaju ke tol. Tapi polisi tutup mata karena ada 'orang dalam' yang melobi."
Tidak ada bukti. Hanya komentar anonim.
Tapi Tara mulai merasakan sesuatu yang tidak bisa dia jelaskan. Seperti ada bayangan yang bernapas di belakang lehernya. Selalu mengikuti. Selalu mengawasi.
Dia mematikan laptop. Memejamkan mata.
Besok adalah hari ketiga.
Dan dia belum memutuskan apakah akan bertahan atau pergi.