Ratna datang ketika Tara sedang menyiapkan serah terima beberapa jadwal Arka kepada sekretariat. Pekerjaan itu belum berarti Tara meninggalkan perusahaan; pembagian tugas diubah agar ia tidak lagi mengurus urusan pribadi keluarga. Ratna berdiri di depan mejanya tanpa membawa map rapat.
'Arka mendengarkanmu,' katanya.
Tara menutup agenda. 'Kalau Ibu ingin menyampaikan sesuatu kepadanya, sekretariat dapat mengatur waktu.'
'Saya tidak meminta dibuatkan jadwal.'
Ratna menunjuk ruang rapat kecil. Tara bersedia masuk dengan pintu terbuka, setelah memberi tahu rekan sekretariat bahwa ia menerima tamu. Ratna melihat gerakan itu dan menyunggingkan senyum yang tidak sampai ke matanya. Ia duduk lebih dahulu.
'Dia sedang menghancurkan dirinya sendiri. Gudang, kamera, segala hal yang diserahkan kepada penyidik. Kamu tahu berapa orang menunggu dia jatuh?'
'Saya tahu ada orang yang perlu mendapat jawaban tentang perbuatannya.'
'Kamu bisa membuatnya tenang. Orang seperti Arka kadang hanya perlu seseorang yang dipercaya.'
Tara memandang perempuan di depannya. Tawaran itu tidak menyebut uang, tetapi ia mengenali pekerjaan yang hendak diletakkan di tangannya: menjadi alasan Arka menahan atau melepaskan amarah, lalu menanggung kesalahan jika lelaki itu gagal.
'Saya bukan pengobatan untuk anak Ibu,' katanya. 'Saya juga tidak akan memintanya menarik keterangan yang sudah diberikan.'
Ratna terdiam. Ia mengatakan perusahaan dapat menyiapkan posisi lebih tetap bagi Tara dan memisahkan biaya Surti dari seluruh kesulitan yang sedang terjadi. Tara menjawab bantuan yang telah dibayar memang sudah dipisahkan secara tertulis. Ia tidak memerlukan janji baru sebagai imbalan untuk memengaruhi keputusan Arka.
'Ibu bisa bicara kepadanya sebagai ibunya,' lanjut Tara. 'Tentang hal yang Ibu sendiri ketahui.'
Wajah Ratna berubah. Untuk pertama kalinya dalam pembicaraan itu ia tampak bukan komisaris yang sedang menilai seorang asisten, melainkan seseorang yang lelah menjaga kalimat agar tak melewati batas tertentu. Ia berdiri tanpa melanjutkan tawaran. Tara tidak mengejarnya.
Malam tersebut, Ratna membuka lemari dokumen di rumah besar. Sebuah amplop panjang terselip di antara surat perkawinan dan berkas rumah. Tepi kertasnya menguning. Ia telah memindahkannya beberapa kali selama tujuh tahun, selalu mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa ia sedang menunggu waktu yang tepat.
Surat itu ditulis Hendra beberapa hari sebelum kecelakaan, ketika ia masih sibuk menyelesaikan pemeriksaan keuangan. Hendra meminta Ratna memeriksa jaminan yang diberikan kepada kegiatan usaha Slamet melalui yayasan. Ia menemukan pembayaran yang tidak sesuai tujuan, berencana menghentikan penggunaan nama perusahaan, dan akan membawa bahan kepada penasihat serta pemeriksa di luar keluarga.
Ratna membaca satu paragraf yang paling dikenalnya. Hendra meminta agar masalah tersebut tidak dibicarakan dahulu kepada Slamet sebelum berkas diamankan. Ratna telah melakukan sebaliknya. Ia menemui adik iparnya, berharap pertemuan keluarga dapat membuat semuanya selesai tanpa nama Wijaya masuk ke perkara yang memalukan.
Ponselnya bergetar. Slamet meminta ia datang untuk membicarakan keterangan Bentong. Pesannya menambahkan, 'Jangan sampai surat lama membuat Arka salah paham.'
Ratna menatap kalimat itu. Slamet mengetahui ia masih menyimpan surat, meskipun selama bertahun-tahun mereka hampir tidak pernah menyebutnya. Ia tidak membalas. Ia menelepon Bambang dan mengatakan ia akan menyerahkan amplop tersebut dengan catatan penerimaan, melalui penasihat yang dapat mendampinginya menjelaskan perannya sendiri.
Pertemuan dengan Arka berlangsung dua hari kemudian. Ratna tidak memanggil Tara. Bambang hadir untuk menjelaskan dokumen yang pernah diterima kantornya dari Hendra, sementara Rangga mendampingi Arka. Ratna memiliki pendamping terpisah. Tidak ada seorang pun diminta menerima versi keluarga sebagai syarat mempertahankan pekerjaan.
Arka membaca surat ayahnya perlahan. Ia mengenali tulisan pada bagian penutup, tetapi pemeriksaan sumber dokumen tetap akan dilakukan. Salinan korespondensi yang tersimpan di kantor Bambang membantu mencocokkan tanggal dan pokok urusannya. Surat itu akan diserahkan bersama penjelasan asal penyimpanan kepada penyidik.
'Ibu memberitahukan rencananya kepada Paman?'
'Ya.'
'Ayah meminta Ibu tidak melakukannya.'
Ratna mengangguk. 'Ibu ingin menahan masalah di dalam keluarga. Ibu pikir ayahmu masih bisa dibujuk.'
Arka meletakkan kertas sebelum tangannya meremas tepinya. 'Setelah dia meninggal?'
'Ibu takut. Lalu semakin lama diam, semakin sulit mengakui bahwa Ibu tahu ada persoalan sebelum kecelakaan. Ibu menyembunyikan surat, bukan karena surat itu tidak penting.'
Ratna tidak mengatakan ia tahu Slamet merencanakan pembunuhan. Ia tidak mengaku menyaksikan sesuatu yang tidak dilihatnya. Ia mengakui memberi tahu rencana Hendra dan menahan dokumen yang semestinya dapat diperiksa lebih awal. Akibat tindakannya akan dinilai berdasarkan fakta, bukan berdasarkan nama sebagai istri korban.
Arka bertanya tentang pria yang disebut dalam catatan keluarganya. Ratna memandang Bambang, kemudian menjelaskan bahwa ia pernah berkonsultasi mengenai perpisahan. Perkawinannya dengan Hendra dimulai dari perjodohan dan tidak berubah menjadi kehidupan yang selalu membahagiakan. Ia belum memutuskan pergi ketika Hendra meninggal.
'Bambang penasihat hukum yang Ibu temui. Tidak ada bukti hubungan gelap yang kamu tulis di daftar itu. Kamu tidak pernah bertanya kepada Ibu.'
Arka menunduk. Catatan yang dikumpulkannya dari potongan cerita telah membuat satu konsultasi tampak sebagai motif membunuh. Ketidakbahagiaan Ratna bukan bukti pembunuhan; begitu pula pengakuan tentang konsultasi tidak menghapus surat yang sengaja ditahan.
'Aku marah karena Ibu menyembunyikannya,' kata Arka. 'Tapi aku juga harus memperbaiki tuduhan yang kubuat sendiri.'
Mereka tidak saling memeluk. Ratna menyerahkan surat kepada pendampingnya untuk diteruskan sesuai rencana dan menandatangani catatan asal dokumen. Bambang menyertakan korespondensi kantornya yang relevan, dengan izin serta tata cara yang sudah dibahas para penasihat. Urusan pribadi Ratna yang tidak berkaitan tidak diedarkan kepada direksi.
Sesudah pertemuan, Ratna mengirim pernyataan kepada komite pengawasan. Ia bersedia menarik diri dari penanganan pemeriksaan yang menyangkut keluarga dan menerima penilaian mengenai kelayakannya tetap menjabat. Ia tidak lagi meminta Tara menjadi orang yang menjaga Arka tetap patuh atau tetap baik.
Arka pulang lebih dahulu. Di mobil ia membuka draf daftar hitam dan menandai tuduhan mengenai hubungan Ratna sebagai informasi yang harus dikoreksi kepada orang yang pernah menerimanya. Ia tidak menghapus versi lama untuk membuat kesalahannya tak pernah ada. Ketika kendaraan berhenti di lampu merah, ia menutup layar dan memikirkan betapa banyak diam yang selama ini ia keliru sebut sebagai perlindungan.