Tiga orang sudah mengundurkan diri dalam enam bulan terakhir.
Itu kalimat pertama yang Tara baca saat membuka kontrak kerja sebagai asisten pribadi CEO Arahana Group. Bukan bonus, bukan fasilitas, bukan gaji—tapi peringatan terselubung yang diketik rapi di halaman ketiga.
Dia menghela napas. Jari telunjuknya mengikuti setiap baris kalimat, memastikan tidak ada satu kata pun yang terlewat. Di ruang tunggu eksekutif yang sunyi ini, suara detik jam dinding terasa seperti penghakiman.
"Nervous?"
Tara menoleh. Seorang wanita seusianya tersenyum sambil menaruh secangkir kopi di meja kecil di sampingnya.
"Sedikit," jawab Tara jujur. Dia belum genap dua puluh empat tahun. Ijazah sarjana ekonomi masih menguning di dalam map, tapi tagihan rumah sakit ibunya tidak mau menunggu.
"Kamu yang keempat," kata wanita itu pelan. "Semoga kamu bertahan lebih lama dari tiga sebelumnya."
Tara meneguk kopi hitam itu tanpa gula. Pahit. Tapi tidak lebih pahit dari kenyataan bahwa dia tidak punya pilihan lain. Perusahaan lain menolaknya karena pengalaman. Perusahaan ini menerimanya karena... dia tidak tahu. Mungkin karena tidak ada orang lain yang mau.
"Kenapa mereka keluar?" tanya Tara.
Wanita itu hanya mengangkat bahu. "Rahasia perusahaan."
Lalu dia pergi, meninggalkan Tara sendirian dengan detak jam dan tumpukan dokumen yang harus dipelajari sebelum jam menunjukkan pukul sembilan.
---
Tara masuk ke ruang rapat pukul 08.55.
Dia sudah datang lebih awal, berdiri di depan pintu kayu mahoni itu selama lima belas menit, berusaha mengatur pernapasan. Tapi ketika pintu terbuka dan dia melihat pria yang duduk di ujung meja panjang itu... semua persiapan mentalnya runtuh.
Arka Wijaya.
Namanya sudah seperti legenda urban di kalangan pencari kerja Jakarta. CEO termuda Arahana Group. Lulusan Harvard. Putra tunggal dari mendiang Hendra Wijaya, pendiri perusahaan yang tewas dalam kecelakaan mobil tujuh tahun lalu.
Dan sekarang, dia akan menjadi bos Tara.
"Kamu terlambat."
Tidak ada "selamat pagi." Tidak ada senyuman. Tidak ada jabat tangan.
Tara menatap jam dinding. 08.57.
"Aku masih tiga menit lebih awal, Pak," jawabnya pelan. Dia sadar itu mungkin terdengar sombong, tapi dia tidak suka dituduh melakukan sesuatu yang tidak dia lakukan.
Arka mendongak. Matanya hitam pekat, tanpa ekspresi. Selama beberapa detik dia hanya menatap Tara seperti sedang membaca halaman demi halaman kehidupannya tanpa izin.
"Kamu asistenku sekarang," katanya akhirnya. "Ketika aku bilang kamu terlambat, kamu terlambat. Mengerti?"
Tara menggigit bibir bagian dalam. Merasakan rasa besi tipis di lidahnya.
"Mengerti, Pak."
---
Jam pertama sebagai asisten pribadi adalah neraka.
Arka memberinya tumpukan dokumen setinggi lengan untuk dirangkum sebelum pukul dua belas. Tara belum sempat membuka laptop karena belum tahu password WiFi. Belum sempat minum karena gelas kopinya tertinggal di ruang tunggu. Belum sempat ke toilet karena Arka memanggilnya setiap lima belas menit untuk hal-hal sepele: "Ambilkan pulpenku." "Cetak ulang file ini." "Kopi aku terlalu panas."
Pada pukul sebelas, Tara hampir menangis di toilet. Bukan karena lelah—dia sudah terbiasa kerja keras sejak kuliah sambil merawat ibu yang sakit. Tapi karena harga dirinya terinjak-injak oleh seseorang yang sepertinya menikmati penderitaan orang lain.
Dia mencuci muka. Menatap bayangannya di cermin.
Kamu bisa, Tara. Kamu tidak punya tempat lain untuk kembali.
Dia kembali ke ruang kerjanya—meja kecil di luar kantor Arka—dan mulai merangkum dokumen dengan kecepatan yang tidak pernah dia sangka-sangka mampu.
---
Pukul 14.30, Tara mengetuk pintu kantor Arka.
"Hasil rangkumannya, Pak."
Arka mengambil dokumen itu tanpa mengucap terima kasih. Matanya bergerak cepat dari baris pertama hingga terakhir. Tara berdiri di depan mejanya, berusaha tidak bergerak meskipun kakinya sudah pegal karena seharian memakai sepatu hak tinggi baru yang masih menyiksa.
"Kamu lulusan mana?" tanya Arka tiba-tiba.
"Universitas Indonesia, Pak. Ekonomi."
"IPK?"
"3,89."
Arka mengangkat alis. Itu satu-satunya reaksi yang Tara dapatkan.
"Kamu butuh uang?"
Tara terdiam. Itu pertanyaan yang terlalu pribadi. Dan terlalu menyakitkan karena jawabannya adalah ya, aku sangat butuh uang.
"Semua orang butuh uang, Pak," jawabnya hati-hati.
Arka meletakkan dokumen itu. Menatapnya lagi dengan cara yang sama seperti pertama kali mereka bertemu: membaca Tara seperti buku terbuka.
"Ibu kamu sakit," katanya. Bukan pertanyaan. Pernyataan.
Tara merasakan dadanya sesak. "Bagaimana Bapak tahu?"
"HRD melakukan background check. Mereka lapor ke aku." Arka menyandarkan punggungnya di kursi. "Kamu menerima pekerjaan ini karena gajinya dua kali lipat dari rata-rata asisten pribadi. Tapi kamu tidak bertanya kenapa."
"Karena saya butuh pekerjaan, Pak."
"Atau," Arka memotong, "karena kamu tidak punya pilihan."
Tidak ada yang bicara selama beberapa detik. Hanya suara AC dan detak jantung Tara yang terasa terlalu keras.
"Aku akan kasih kamu tahu kenapa tiga asisten sebelumnya keluar," kata Arka akhirnya. Suaranya turun setengah oktaf. "Bukan karena aku jahat. Tapi karena mereka tidak bisa dipercaya."
Dia berdiri. Berjalan ke jendela kaca yang menghadap ke gedung-gedung pencakar langit Jakarta.
"Keluarga aku tidak sederhana, Tara. Perusahaan ini tidak sederhana. Ada banyak orang yang ingin melihat aku jatuh." Dia menoleh. "Dan mereka akan mencoba menggunakan kamu untuk menjatuhkan aku."
Tara menggenggam erat ujung blazernya. Tangannya dingin meskipun ruangan ber-AC sekitar dua puluh derajat.
"Aku tidak akan mengkhianati Bapak," katanya.
Arka tersenyum. Itu senyuman pertama yang Tara lihat darinya, tapi senyuman itu dingin. Ironis.
"Semua asistenku yang dulu juga bilang begitu."
---
Malam harinya, Tara pulang ke rumah kontrakannya di pinggiran Jakarta. Rumah berukuran tiga kali tiga dengan dinding yang sudah mengelupas dan atap yang bocor jika hujan.
Ibunya, Surti, sedang terbaring di kasur tipis di pojok ruangan. Tubuhnya yang dulu gemuk sekarang hanya tinggal tulang yang dibungkus kulit. Ginjalnya rusak. Cuci darah dua kali seminggu. Biaya yang terus mengalir seperti air dan tidak pernah berhenti.
"Hari pertama gimana, Nak?" tanya ibunya lirih.
Tara memaksakan senyum. Duduk di tepi kasur dan menggenggam tangan ibunya yang kurus.
"Baik, Bu. Bosnya baik."
Dia berbohong. Tapi kadang, kebohongan kecil adalah satu-satunya obat untuk luka yang tidak bisa dilihat.
---
Jam dua dini hari, Tara terbangun karena suara notifikasi di ponselnya.
Sebuah pesan dari nomor tidak dikenal.
"Jangan percaya sama Arka Wijaya. Dia lebih berbahaya dari yang kamu kira. Kalau kamu pintar, kamu akan keluar dari Arahana Group sebelum semuanya terlambat."
Tara menatap layar ponselnya. Jari-jarinya dingin.
Dia menghapus pesan itu. Mengganti mode pesawat. Dan tidak bisa tidur lagi sampai subuh menjelang.
Tapi dia tidak tahu, itu baru permulaan.