Kamis malam, Arka masih berada di kantor ketika Tara menyerahkan agenda esok hari. Di meja lelaki itu tergeletak ponsel kedua yang belum pernah dipakai untuk menjawab panggilan klien. Layar menyala dengan pesan pendek. Tara tidak membaca seluruhnya; ia hanya mendengar Arka menyebut nama Bentong ketika mengangkat telepon.
'Jangan pindah tempat lagi. Aku mau bicara dengannya sendiri.'
Tara berhenti di ambang pintu. Nama itu pernah muncul di gudang, di antara orang-orang bersenjata yang membicarakan pengiriman dan pengkhianatan. Ia menunggu Arka meletakkan ponsel, lalu bertanya apakah ia kembali diminta ikut ke tempat tersebut.
'Tidak,' jawab Arka. 'Kali ini kamu tidak perlu datang.'
'Siapa yang memastikan Bentong boleh pulang?'
Arka menatapnya. 'Kamu tidak tahu apa yang dia lakukan.'
'Memang tidak. Saya juga tidak tahu apa yang Bapak rencanakan. Yang saya lihat waktu itu senjata dan orang yang menunggu perintah Bapak.'
Arka berjalan mendekat. Tara bergeser agar pintu tetap berada di sisinya. Ia menolak masuk lebih jauh ketika Arka menunjuk kursi. Setelah beberapa detik, lelaki itu berhenti dan kembali ke belakang meja.
'Dia menjual informasi kepada orang yang mungkin membunuh ayahku,' katanya.
'Mungkin. Bapak sendiri yang mengatakannya.'
Arka memukul meja dengan telapak tangan. Suaranya membuat Tara terdiam, tetapi tidak membuatnya duduk. Ia teringat Surti yang masih berada di rumah sakit. Ia dapat kehilangan pekerjaan sesudah percakapan ini. Ia juga dapat pulang dan berpura-pura tidak mendengar nama Bentong.
'Keluar,' kata Arka akhirnya.
Tara mengambil map kosongnya. Ia tidak merebut ponsel, tidak mengunduh berkas, dan tidak mencoba mengetahui lokasi Bentong. Di lift ia menelepon Damar. Kali ini yang diceritakannya bukan hanya kamera: ia menjelaskan perjalanan ke perkebunan, pintu gudang, senjata di meja, kata-kata tentang pengkhianat, serta panggilan yang baru didengarnya.
Damar meminta Tara datang ke kantornya sebelum memutuskan langkah berikut. Ia tidak menjanjikan bahwa panggilan itu membuktikan rencana kekerasan. Ia bertanya apakah Tara ingin menyampaikan keterangan tentang pertemuan yang disaksikannya kepada pihak yang dapat memeriksa. Tara menjawab iya, dengan pendampingan. Ia tidak ingin menunggu sampai tahu seseorang benar-benar tidak dapat pulang.
Di ruang kerja Damar, Tara membaca kembali keterangannya. Ia membetulkan satu bagian yang semula menyebut Bentong ditahan. Ia tidak pernah melihat Bentong di gudang. Nama itu dibicarakan, kemudian disebut dalam panggilan. Ketakutannya masuk akal, tetapi ia tidak dapat mengganti ketidakpastian dengan peristiwa yang belum disaksikan.
Keterangan tentang lokasi dan pertemuan bersenjata disampaikan malam itu melalui pendampingnya. Damar membantu Tara menjelaskan ketergantungan pekerjaan serta perawatan Surti. Ia tidak meminta Tara kembali bekerja sebagai pengumpul informasi. Jika ada pertanyaan lanjutan, Tara akan menjawab tentang pengalamannya sendiri.
Arka menelepon ketika Tara baru selesai. Ia bertanya di mana perempuan itu berada. Tara mengatakan ia telah mendapatkan pendampingan dan tidak akan memberitahukan lokasi pribadi hanya karena ditanya atasannya.
'Kamu melaporkan aku?'
'Saya menyampaikan apa yang saya lihat. Saya tidak akan berbohong kalau ditanya tentang gudang.'
Di ujung lain terdengar tarikan napas. Arka mengatakan ia akan bicara kepada Damar. Tara menjawab Damar mendampinginya; ia tidak akan mengatur pembicaraan untuk kepentingan Arka. Lelaki itu perlu mendapatkan penasihatnya sendiri.
Tara menutup panggilan dengan tangan dingin. Damar menawarkan agar ia menunggu sampai kendaraan datang. Ia menerima tawaran tersebut dan memberi kabar kepada Sofi. Malam itu ia tidak pulang ke Kemang. Sofi mempersilakannya menginap, tanpa bertanya kapan ia akan kembali bekerja.
Pagi berikutnya, Arka datang ke kantor bersama seorang advokat bernama Rangga. Tara hanya melihat mereka memasuki ruang rapat dari kejauhan. Bagian administrasi menghubunginya untuk mengonfirmasi bahwa gaji serta surat bantuan Surti tidak dibatalkan. Tara menyimpan pemberitahuan itu, tetapi belum kembali ke ruang kerja Arka.
Menjelang siang, Rangga menyampaikan permintaan pertemuan melalui Damar. Tara bersedia mendengar di ruang rapat bersama pendampingnya. Arka datang tanpa orang keamanan. Ia duduk di seberang meja dan tidak meminta Tara meninggalkan Damar di luar.
'Aku menarik perintah untuk membawa Bentong,' katanya. 'Aku sudah menyampaikan kepada orang-orangku agar tidak mendatangi atau memindahkannya.'
Tara tidak mengatakan terima kasih. Ia bertanya apakah keputusan itu telah disampaikan kepada pihak yang memeriksa keterangannya. Rangga menjawab pernyataan Arka akan diberikan melalui jalur yang sama, bersama bahan yang berada dalam penguasaannya.
Arka meletakkan sebuah amplop berisi daftar nomor dan tempat penyimpanan berkas. Ia tidak memberikannya kepada Tara. Rangga menerimanya untuk diserahkan dalam proses pemeriksaan, dengan tanda terima. Daftar itu mencakup orang yang bekerja baginya dan catatan pengeluaran yang tak pernah dimasukkan ke bahan rapat perusahaan.
'Sebagian senjata di tempat itu disimpan dengan sepengetahuanku,' ujar Arka. 'Aku tidak bisa memakai ketakutan tentang ayahku sebagai alasan untuk menyembunyikannya.'
Rangga mengingatkan bahwa keterangan itu dapat menimbulkan akibat bagi Arka sendiri. Arka mengatakan ia mengerti. Ia tidak meminta agar perannya dihapus sebagai imbalan atas bantuan menemukan Slamet atau siapa pun. Pada tahap itu, bahkan ia belum mempunyai bukti yang cukup untuk menyebut pamannya sebagai pembunuh.
Tara mendengarkan tanpa mendekat. 'Saya tidak bisa memberi Bapak pengampunan atas nama orang yang ada di gudang atau karyawan yang direkam.'
'Aku tidak meminta itu.'
'Bapak boleh mengatakan tidak meminta. Saya akan melihat apa yang terjadi setelah ini.'
Pertemuan berakhir tanpa pelukan atau janji bahwa hubungan mereka telah membaik. Penelusuran gudang dan orang-orang yang disebut Arka menjadi urusan pemeriksa. Tara menjalani pekerjaannya hanya pada tugas yang tertulis. Ia tidak lagi bersedia berangkat ke lokasi pribadi atas perintah lisan.
Jumat sore, Surti diizinkan meninggalkan ruang rawat dan melanjutkan jadwal perawatannya dari rumah. Tara menjemput bersama Sofi. Mereka membawa pakaian, satu pot tanaman kecil, dan map pembayaran yang kini tidak perlu disembunyikan dari ibunya.
Di Kemang, Surti meminta kursinya didekatkan ke jendela. Tara mengikuti keinginannya, lalu duduk di lantai untuk membongkar tas. Mereka belum mempunyai semua jawaban tentang keluarga Wijaya. Untuk sore itu, Tara cukup mendengar ibunya mengomentari cahaya dan meminta tirai ditarik sedikit. Ia dapat melakukan sesuatu yang nyata tanpa menunggu izin Arka.