Selasa pagi, unit audit mengirim pemberitahuan bahwa sebagian dokumen dasar tersedia di folder terbatas. Tara membaca surat tugas yang membatasi pekerjaannya pada pencatatan nama, tanggal, dan kelengkapan berkas. Ia menerima tugas tersebut melalui sistem, lalu membuka berkas setelah membaca instruksi akses. Ada satu laporan anggaran awal, satu lembar ringkasan perubahan, dan daftar lampiran yang belum diunggah.
Ia tidak mengunduh berkas ke perangkat pribadi. Ia mencatat nama file, versi, tanggal yang tercetak, serta status akses. Laporan pertama mencantumkan anggaran 200 miliar. Lembar kedua menampilkan angka 350 miliar pada kolom 'perkiraan setelah perubahan'. Di halaman yang ia terima tidak ada tanda tangan persetujuan final.
Tara memeriksa tanggal pada kedua lembar. Laporan 200 miliar tertanggal awal tahun proyek. Lembar perubahan mencantumkan tanggal beberapa bulan kemudian, tetapi kolom persetujuan kosong pada salinan yang diberikan. Ia tidak tahu apakah tanda tangan ada di halaman yang belum diterima atau dokumen lain.
Ia membuat tabel sederhana sesuai penugasan. Kolomnya hanya berisi judul berkas, tanggal, versi, angka, dan bagian yang tidak tersedia. Ia tidak menambahkan kolom 'pelaku' atau 'dana hilang'.
Arka datang ke ruang kerjanya setelah rapat. Tara mengatakan ia telah menerima tiga file, tetapi akses baru mencakup ringkasan. Ia menjelaskan apa yang tampak di layar dan menegaskan tidak melihat bukti pembayaran.
'Jadi versi 350 itu belum disetujui?' tanya Arka.
'Saya tidak bisa menyimpulkan. Di salinan ini kolom persetujuan kosong. Saya tidak tahu apakah ada halaman lanjutan atau versi yang ditandatangani.'
Arka mengangguk. Ia tidak meminta Tara memperbesar atau mengirimkan berkas. Ia bertanya apakah unit audit memberikan nomor versi untuk lembar perubahan. Tara menjawab file tidak memiliki nomor versi yang jelas, hanya tanggal di sudut halaman.
Mereka menyusun pertanyaan untuk audit: apakah lembar itu lengkap, apakah ada persetujuan final, dan apakah terdapat versi lain. Arka mengirim pertanyaan melalui sistem, bukan meminta Tara menghubungi pembuat laporan.
Tara melanjutkan pemeriksaan tugasnya. Satu lampiran bernama 'rincian pencairan' ada pada daftar, tetapi belum dapat dibuka. Ia mencatat akses ditolak oleh status sistem, bukan mencoba mencari jalan lain. Ia memberi tahu Arka bahwa lampiran tersebut belum tersedia.
Sore itu Dewi mengirim surel kepada Arka melalui sekretariat, meminta dokumen yang sama diberikan kepada semua pihak yang berkepentingan. Arka meneruskan permintaan itu kepada audit. Tara tidak menerima salinan langsung dan tidak membalas Dewi.
Menjelang akhir hari, tidak ada jawaban tambahan. Tara menyimpan tabel di folder resmi dan mengunci sesi. Angka 200 dan 350 kini tertera pada dua lembar, tetapi dokumen yang menghubungkan keduanya masih belum lengkap.
Rabu pagi, audit mengirim balasan pertama. Unit itu mengonfirmasi bahwa berkas 200 miliar adalah laporan anggaran awal yang diterima perusahaan. Lembar 350 miliar yang dibuka Tara disebut sebagai 'usulan revisi' dalam indeks arsip. Mereka belum menemukan lembar persetujuan final di folder tersebut.
Tara mencatat frasa itu persis, lalu menambahkan sumber: balasan tertulis unit audit, bukan kesimpulan dirinya. Ia tidak mengubah kolom status menjadi 'ditolak' atau 'disetujui'; balasan hanya mengatakan dokumen final belum ditemukan pada folder yang diperiksa.
Arka membaca balasan di sistem. Ia tampak menahan napas, tetapi bertanya hal yang sama dengan Tara: apakah unit audit telah memeriksa semua arsip, atau hanya folder proyek yang diminta. Tara menunjukkan kalimat batas pencarian. Audit baru memeriksa arsip digital utama.
'Kita belum bisa bilang tidak ada persetujuan sama sekali,' kata Tara. 'Baru belum ditemukan di sumber yang sudah diperiksa.'
Arka mengangguk. Ia meminta audit memeriksa indeks arsip fisik dan daftar rapat yang relevan. Ia tidak menyuruh Tara mencari sendiri di lemari keluarga atau ruang yang tidak termasuk aksesnya.
Siang hari, Tara membandingkan tanggal pada lembar awal dan usulan revisi. Ada jeda empat bulan. Kolom penyusun pada dokumen revisi berisi inisial, bukan tanda tangan lengkap. Tara tidak menebak siapa pemilik inisial. Ia menandai bahwa identitas penyusun perlu dikonfirmasi oleh unit audit.
Arka bertanya apakah ia pernah melihat tanda tangan Aryo pada dokumen lain. Tara menjawab tidak dan tidak memiliki dasar untuk membandingkannya. Arka berkata ia akan menahan diri dari menghubungi Aryo hingga audit menjawab, agar pertanyaan tidak dianggap tekanan.
Di ruang makan, Tara bertemu Ratna yang kebetulan datang ke kantor untuk rapat komisaris. Ratna bertanya apakah Tara menemukan sesuatu. Tara menjawab ia tidak dapat membagikan materi audit, tetapi status umum adalah pemeriksaan masih berlangsung. Ratna berkata ia berharap tidak ada yang menganggap keluarga bersalah sebelum dokumen lengkap.
'Saya juga tidak membuat kesimpulan,' jawab Tara.
Ratna bertanya apakah Arka memintanya berpihak. Tara menjawab penugasannya hanya mencatat file resmi dan ia dapat menolak tugas di luar lingkup. Ratna mengangguk, tetapi tidak terlihat lega.
Arka kemudian meminta Tara tidak menyampaikan isi dokumen kepada keluarga, termasuk Ratna, di luar kanal audit. Tara berkata ia tidak melakukannya. Ia juga meminta Arka tidak menggunakan namanya untuk menegaskan bahwa audit mendukung salah satu versi. Arka setuju.
Sore hari unit audit menanyakan apakah Tara dapat membantu mengatur rapat pemeriksaan berkas pada Jumat. Ia bisa menjadwalkan waktu, tetapi tidak diwajibkan hadir dalam diskusi substansi. Tara menyampaikan opsi jam kepada Arka dan meminta agenda tertulis sebelum menerima.
Ia menyimpan balasan audit, memperbarui tabel, dan memastikan nama file tidak berubah. Hasil sementara memberi satu petunjuk: dokumen revisi 350 miliar yang tersedia berstatus usulan. Persetujuan akhir dan pencairan belum terlihat.
Kamis pagi, audit mengirim daftar dokumen tambahan yang mereka cari. Ada tiga item: halaman persetujuan revisi, jadwal pencairan, dan rekonsiliasi biaya proyek. Tidak satu pun tersedia pada folder digital awal.
Tara menyalin daftar itu ke tabel, menandai sumber balasan dan tanggal. Ia tidak mengisi celah dengan keterangan dari makan malam keluarga. Ucapan Aryo bahwa perubahan biaya terkait tanah dan izin tetap berada di catatan pribadi, bukan dalam daftar bukti.
Arka meminta audit mengonfirmasi apakah mereka telah memeriksa arsip fisik. Unit menjawab permintaan tersebut masuk antrean dan perlu persetujuan bagian pengelola arsip. Arka menyetujui prosedur dan tidak meminta Tara menggunakan akses pribadinya untuk mempercepat.
Dalam rapat singkat, Arka bertanya apakah dokumen yang tersedia sudah cukup untuk menahan pembayaran berikutnya. Tara menjawab itu bukan kewenangannya. Audit belum memberi rekomendasi dan dokumen pencairan tidak tersedia. Arka menerima bahwa keputusan pembayaran perlu ditangani oleh bagian yang berwenang.
Ia bertanya apakah Tara dapat menyusun ringkasan kronologi. Tara menyatakan bisa membuat daftar tanggal dokumen yang tersedia, tetapi tidak mencampurnya dengan tanggal dari ingatan keluarga. Arka menyetujui batas itu. Ia meminta semua orang yang menerima ringkasan tahu bahwa daftar tersebut belum lengkap.
Tara menulis kronologi: laporan awal 200 miliar diterima pada tanggal yang tercantum; usulan 350 miliar dibuat empat bulan kemudian; persetujuan final belum ditemukan pada arsip digital yang diperiksa; lampiran pencairan belum tersedia. Ia menambahkan catatan bahwa unit audit sedang mencari sumber lain.
Slamet mengirim pesan kepada sekretariat bahwa ia akan memeriksa arsip yayasan saat sempat. Pesan itu diteruskan kepada Arka, bukan Tara. Arka berkata ia tidak ingin Tara mengejar Slamet. Ia meminta sekretariat menjawab bahwa dokumen perusahaan harus diserahkan lewat jalur arsip resmi.
Tara tidak menghubungi Slamet. Ia mengirimkan draft kronologi kepada audit untuk memastikan ia tidak keliru menyebut status dokumen. Unit meminta satu perubahan: laporan awal disebut 'diterima dalam arsip digital', bukan 'disetujui', sebab bukti persetujuan berada di dokumen lain. Tara membuat perubahan itu.