Senin pagi, Tara membuka pesan Reza yang masuk semalam. Isinya tidak panjang: ia bersedia menjelaskan soal peringatannya, tetapi ingin bicara langsung. Tara membaca ulang kalimat itu, lalu meletakkan ponsel di samping laptop. Ia tidak merasa harus memenuhi permintaan tersebut hanya karena mereka pernah berteman dekat.
Balasan Reza datang setelah jeda. 'Aku paham. Aku tidak mencari jadwal ibumu. Aku cuma tahu kamu sering ke Fatmawati karena dulu kamu pernah cerita. Soal kontrakan, aku dengar dari Aryo.'
Sebelum Reza membalas, Arka mengirim pemberitahuan melalui sistem kantor: unit audit menjadwalkan pemeriksaan lanjutan pekan itu. Ada permintaan administrasi untuk mencocokkan daftar lampiran dengan indeks digital. Tara membaca ruang lingkupnya dan menyetujuinya lewat sistem. Tugas itu tidak meminta analisis atau kontak dengan siapa pun.
Saat ia masuk ke ruangan Arka untuk membahas kalender, ia menyebut ada pesan dari Reza, tetapi tidak menunjukkan isi percakapan. Arka tidak bertanya untuk melihat ponselnya.
'Kamu mau aku menghubunginya?' tanyanya.
'Tidak. Aku sendiri yang meminta penjelasan. Aku akan meneruskan hanya kalau ada informasi yang perlu dicatat secara resmi.'
Arka mengangguk. Ia tidak mendesak nama atau meminta Tara memakai hubungan lamanya untuk memancing pengakuan. Tara kembali ke mejanya dengan perasaan sedikit lega; keputusan untuk menanggapi tetap berada di tangannya.
Menjelang siang, Reza mengirim jawaban. Ia menulis bahwa beberapa hari sebelum acara keluarga, Aryo menghubunginya seusai rapat pemasaran. Aryo bertanya apakah ia masih mengenal Tara dan apakah Tara masih dekat dengan Arka. Reza mengaku menjawab bahwa mereka pernah kuliah bersama dan ia tidak tahu urusan kantor Arka. Setelah itu, kata Reza, Aryo bertanya apakah Tara tinggal di Kemang.
Tara menanyakan bagaimana Reza tahu nama kawasan itu. Reza menjawab ia sempat mendengar kawasan itu disebut ketika pengangkutan barang diurus kantor, tetapi tidak mengetahui alamatnya. Ia mengatakan Aryo lalu menyebut bahwa kontrakan Tara berada di kawasan tersebut. Reza tidak menyertakan tangkapan layar atau catatan waktu. Ia menyebut percakapan terjadi lisan di kantor, tanpa saksi yang ia ingat.
Hari itu Tara tidak menerima tangkapan layar. Ia mencatat hanya bahwa Reza mengklaim ada pesan dan akan mengirimkannya. Di buku pribadinya, ia memisahkan hal yang ia lihat sendiri dari penuturan orang lain. Tidak ada dasar untuk menyebut pemantauan sebagai fakta.
Sore harinya, Arka mengirim dokumen tugas administrasi melalui sistem, lengkap dengan tenggat dua hari dan folder yang boleh dibuka. Tara memeriksa daftar lampiran tanpa mengunduh berkas. Ia menemukan satu kolom status kosong dan bertanya kepada auditor lewat kanal resmi apakah kolom itu berarti dokumen belum masuk atau belum diperiksa. Jawaban menyebut statusnya belum diperiksa. Tara mencatat jawaban tersebut persis.
Sebelum pulang, Reza mengirim pesan singkat: ia akan mengirim bukti percakapan besok, setelah memastikan ia masih memiliki salinan asli. Tara membalas bahwa ia tidak perlu buru-buru dan tidak boleh mengirim materi milik perusahaan yang ia tidak berwenang membagikan. Bila pesan itu berkaitan dengan tugasnya, ia bisa meminta jalur resmi.
Tara menutup percakapan. Ia tidak tahu apakah cerita Reza akan mengubah apa pun. Untuk sekarang, ia hanya punya pengakuan bahwa Aryo bertanya tentang dirinya, dan itu pun belum teruji. Ia menyimpan tanggal percakapan dan kembali pada daftar audit yang memang menjadi pekerjaannya.
Selasa pagi, Reza mengirim dua tangkapan layar. Tara tidak membukanya ketika masih berjalan dari lift. Ia duduk di mejanya, memastikan tak ada orang lain yang dapat melihat layar, lalu membaca pesan dengan hati-hati. Di salah satu gambar, nomor yang disimpan sebagai Aryo menanyakan apakah Reza masih sering bertemu Tara. Balasan Reza berbunyi bahwa mereka sudah jarang bertemu. Pesan berikutnya bertanya apakah Tara masih bekerja dekat Arka.
Ia meminta Reza menyimpan percakapan asli. Ia tidak memintanya mengirim ponsel atau memberikan kata sandi. 'Aku tidak akan menyebarkan gambar ini. Kalau kantor perlu menilai, mereka harus meminta melalui jalur yang benar,' tulisnya.
Reza membalas bahwa ia memang tidak ingin membuat masalah. Ia berkata ia hanya ingin Tara tahu bahwa ia pernah diminta memperhatikan apakah Tara masih dekat dengan Arka. Kata 'memperhatikan' membuat Tara teringat peringatan Reza agar menjauhi Arka. Namun ia berhati-hati: tidak ada bukti pesan itu berkaitan dengan peringatan tersebut, dan tak ada bukti Reza benar-benar mengikuti mereka.
Reza hanya membalas, 'Aku mengerti.' Ia tidak meminta pertemuan atau mengulang pengakuan perasaannya. Tara menaruh ponsel dan kembali ke pekerjaan. Percakapan itu membuatnya kecewa, tetapi rasa kecewa tidak mengharuskannya menerima kedekatan yang tak ia inginkan.
Menjelang siang, unit audit menambahkan satu lampiran dalam folder resmi: indeks pencarian arsip digital. Dokumen itu merangkum lokasi penyimpanan yang sudah diperiksa dan menyatakan pencarian arsip fisik masih menunggu persetujuan bagian terkait. Tidak ada salinan rekening, catatan pencairan, atau lembar persetujuan baru. Tara mencatat nama file, tanggal unggah, dan versi sesuai tugasnya.
Pada kolom catatan, ia melihat frasa 'dokumen pembayaran tidak tersedia'. Ia bertanya kepada auditor apakah yang dimaksud tidak tersedia di seluruh perusahaan atau hanya belum ada dalam folder yang diperiksa. Auditor menjawab bahwa frasa itu merujuk pada folder digital proyek. Tara meminta koreksi agar batas pencarian tercantum. Mereka menyetujui: 'dokumen pembayaran belum ditemukan pada folder digital proyek yang telah diperiksa; penelusuran lanjutan belum selesai.'
Arka datang setelah rapat direksi. Ia menanyakan apakah ada hal yang perlu ia putuskan. Tara berkata belum; unit audit hanya meminta koreksi redaksi dan persetujuan pencarian fisik masih diproses. Arka menarik kursi, tetapi tidak duduk sebelum Tara mengangguk bahwa pembicaraan kerja bisa dilakukan.
'Reza mengirim pesan yang ia klaim dari Aryo,' kata Tara. 'Aku belum tahu apakah nomor itu benar milik Aryo. Isinya hanya pertanyaan apakah aku masih dekat denganmu dan permintaan agar Reza memberi kabar jika ada perubahan.'
Wajah Arka mengeras. 'Itu cukup untuk membuktikan dia mengawasi kamu.'
'Tidak,' kata Tara. 'Itu cukup untuk mencatat bahwa Reza menunjukkan gambar pesan dengan isi seperti itu. Kita belum memeriksa pesan aslinya atau pemilik nomor. Dan tidak ada di sana yang membuktikan apa pun tentang proyek atau kematian ayahmu.'
Arka menunduk sesaat. Ia berkata ia marah karena namanya kembali menjadi pusat pembicaraan yang melibatkan Tara. Tara menjawab bahwa ia juga tidak senang, tetapi kemarahan tidak boleh mengubah keterangan menjadi bukti. Arka mengakui ia terburu-buru menyimpulkan.
Ia bertanya apakah Tara ingin bantuan untuk menyampaikan batasnya kepada Reza. Tara berkata tidak; ia sudah menyampaikannya sendiri. Arka menerima dan tidak meminta salinan gambar. Ia juga tidak meminta Tara mencari informasi tambahan.
Sore itu, Tara mengirimkan catatan administratif kepada auditor melalui sistem, tanpa lampiran pribadi. Ia hanya menyebut bahwa ada keterangan pihak luar tentang kemungkinan komunikasi Aryo dengan Reza, tetapi belum ada dasar untuk menghubungkannya ke audit. Auditor membalas agar informasi tersebut tidak dimasukkan dalam pemeriksaan proyek kecuali ada relevansi yang dapat diverifikasi.