Lampu merah di jalan utama memantul di kaca mobil. Tara masih menuju Kemang ketika ponselnya bergetar. Pesan dari Arka: 'Aku sudah sampai di rumah. Kamu tidak perlu mengirim catatan malam ini. Pastikan kamu pulang dengan aman.'
Ia membaca tanpa membalas dulu. Pesan itu tidak meminta laporan. Ia menoleh ke jendela dan menunggu sampai mobil bergerak lagi.
Sesudah kendaraan tiba di Kemang, Tara membayar perjalanan dan masuk, meletakkan tas di meja, lalu mengeluarkan pulpen perekam. Alat itu tetap mati. Ia menaruhnya di laci, jauh dari catatan yang akan ia buat. Tidak ada berkas suara yang perlu diperiksa.
Ia membuka aplikasi catatan dan menulis yang masih diingatnya: Aryo menyebut 200 miliar sebagai anggaran awal dan 350 miliar sebagai kebutuhan setelah biaya tambahan; Dewi menyebut angka 350 miliar sebagai usulan; Slamet tidak ingat apakah ia pernah menerima laporan; ia mungkin mencari arsip yayasan pada Senin. Tara memberi penanda 'ucapan, belum diverifikasi' pada setiap baris.
Ia menambahkan bahwa Ratna bicara tentang perubahan biaya yang lazim, tetapi tidak menyebut persetujuan tertentu. Arka meminta dokumen melalui jalur resmi, bukan menuduh penerima dana. Tidak ada dokumen diperlihatkan dan tidak ada angka transfer disebut.
Ia membaca ulang daftar itu. Ada bagian yang tidak ia ingat kata demi kata. Ia tidak mencoba mengisi jeda dengan perkiraan. Ia menulis 'tidak ingat persis' di samping satu ucapan Aryo tentang perubahan tahap.
Ponselnya bergetar lagi. Arka menulis, 'Kalau kamu ingin berhenti membahas acara malam ini, tidak apa-apa. Aku menunggu dokumen resmi hari Senin.'
Tara menjawab, 'Aku sudah pulang. Aku akan menyimpan catatanku sendiri dulu. Jangan minta aku melacak mereka atau meminta file di luar jalur resmi.'
Balasan Arka datang singkat: 'Aku mengerti.'
Tara tidak menghapus catatan. Ia menyimpan salinan di perangkat pribadinya dengan kunci layar, tidak mengirimkannya kepada Arka atau keluarga. Ia bukan pemeriksa dan tidak tahu bagaimana catatan itu akan digunakan. Ia masih ingin memastikan dirinya mengingat percakapan dengan benar, bukan menyerahkannya sebagai bukti.
Ia memeriksa pesan Sofi. Temannya bertanya apakah ia ingin menelepon. Tara menjawab besok pagi saja. Ia tidak ingin mengulang seluruh percakapan saat tubuhnya masih tegang.
Pagi belum tiba. Tara meletakkan ponsel di meja, mematikan lampu, dan mencoba tidur. Malam itu berakhir tanpa rekaman, tanpa pengakuan, dan tanpa kesimpulan tentang siapa yang bertanggung jawab atas angka proyek.
Minggu pagi, Tara bangun setelah tidur terputus-putus. Ia membaca kembali catatan malam sebelumnya dan menemukan satu hal yang ia tulis terlalu tegas: 'Slamet melihat laporan.' Padahal yang ia ingat hanya Slamet berkata ia mungkin pernah melihat angka dan berencana memeriksa arsip. Tara mengubah kalimatnya agar sesuai dengan ucapan yang sebenarnya.
Tara bercerita bahwa keluarga Arka memperdebatkan angka proyek, tetapi tidak ada yang menunjukkan dokumen. Ia mengatakan perekam tidak dipakai karena mereka tidak menyetujui. Sofi bertanya apakah ia merasa kecewa kehilangan bukti. Tara menjawab ia tidak pernah memiliki bukti audio, hanya alat yang tidak diaktifkan.
'Aku tidak mau menukar keselamatan atau persetujuan orang lain dengan rekaman,' kata Tara. 'Kalau keterangan mereka penting, harus ada dokumen yang bisa diperiksa.' Sofi setuju. Mereka tidak membahas siapa yang bersalah.
Siang hari Arka mengirim satu pesan, bertanya apakah Tara bersedia berbicara sepuluh menit lewat telepon. Ia menjelaskan bahwa ia tidak akan meminta catatan lengkap dan Tara boleh menolak. Tara setuju setelah memastikan ia tidak sedang menerima tamu atau berada di kantor.
Arka meminta maaf karena pada awalnya menyuruhnya berpura-pura didekati Aryo dan melaporkan semua hal yang ia dengar. Ia berkata permintaan itu membuat Tara menanggung risiko tanpa batas yang jelas. Tara menjawab ia menerima permintaan maaf itu sebagai pengakuan, bukan sebagai pengampunan.
'Aku tidak akan meminta laporan pribadi,' kata Arka. 'Kalau ada tugas kerja yang relevan, kita bicarakan tertulis dan kamu boleh menolak tugas di luar peranmu.'
Tara bertanya apakah ia ingin mendengar catatan yang ia buat. Arka menjawab hanya jika Tara bersedia membagikan bagian yang menurutnya perlu. Tara memilih menyebut ringkasan: Aryo dan Dewi memberi dua versi tentang angka, Slamet tidak yakin soal arsip, dan tak ada dokumen ditunjukkan. Ia tidak membaca seluruh catatan dan tidak mengirimnya.
Arka mendengarkan tanpa memotong. Ia bertanya apakah Tara yakin Dewi mengatakan 200 yang disahkan. Tara menjawab Dewi mengatakan ia memahami 200 sebagai angka yang disetujui, tetapi ia tidak menyebut memiliki dokumen saat itu. Arka berkata ia akan mencatatnya sebagai keterangan Dewi.
Tara menambahkan bahwa ia tidak tahu apakah Aryo berbohong. Arka menjawab ia pun belum tahu. Percakapan berhenti sebelum berubah menjadi analisis keluarga.
Mereka sepakat dokumen proyek harus diminta lewat audit internal pada hari kerja. Tara tidak akan menghubungi Aryo atau Dewi untuk mencari berkas. Arka akan meminta catatan, persetujuan, dan riwayat versi melalui sistem. Tara tak perlu menjadi kurir.
Sebelum menutup telepon, Arka bertanya apakah Tara ingin ia memberi kabar jika ada dokumen masuk. Tara menjawab ya, tetapi hanya lewat satu pembaruan faktual dan tanpa mengirim dokumen yang tidak boleh ia akses. Arka menyetujui.
Tara mengakhiri panggilan sesuai batas sepuluh menit. Ia tidak merasa semua masalah menjadi lebih ringan. Namun ia tidak lagi dituntut mengubah setiap ucapan menjadi laporan rahasia.
Senin pagi, Arka mengirim permintaan lanjutan audit melalui sistem perusahaan, menambahkan pertanyaan yang timbul sesudah makan malam. Tara melihat statusnya berubah dari draf menjadi terkirim, dengan nomor referensi. Ia tidak mengakses isi lampiran, tetapi mengonfirmasi bahwa daftar dokumen yang diminta sesuai daftar pertanyaan yang telah disusunnya dengan Arka.
Arka menyampaikan bahwa ia akan menunggu jawaban unit audit, bukan meminta Tara menghubungi kerabatnya. Tara berkata ia tidak akan menghubungi siapa pun soal proyek. Ia akan menjalankan tugas administrasi biasa.
Mereka bertemu singkat di ruang kerja. Arka menjelaskan bahwa proses audit dapat memakan waktu dan belum tentu semua dokumen tersedia. Tara bertanya apakah ia diminta membantu jika dokumen datang. Arka menjawab hanya jika ada penugasan resmi dengan lingkup tertulis, dan ia boleh menolaknya.
Tara tidak mengatakan bahwa ia percaya sepenuhnya. Ia berkata batas itu perlu terus dijaga. Arka menyetujui tanpa meminta ia berterima kasih.
Pada siang hari, unit audit belum membalas. Tara menandai status 'terkirim, menunggu' pada daftar proyek, bukan 'disetujui' atau 'diperiksa'. Ia mengirim pembaruan kepada Arka sesuai prosedur dan kembali ke pekerjaan jadwal.
Tara juga menyimpan catatan makan malam terpisah dari dokumen perusahaan. Ia menghapus satu kalimat yang terlalu menyimpulkan, lalu menulis ulang: Aryo menyatakan angka 350 adalah kebutuhan setelah perubahan; Dewi memahami angka itu sebagai usulan; dokumen belum dilihat. Catatan itu menggambarkan ingatan Tara, bukan hasil audit.
Sore hari Arka berkata ia ingin berterima kasih karena Tara tidak berpihak pada salah satu versi. Tara menjawab ia tidak sedang membantunya atau keluarganya; ia hanya tidak ingin menyebut sesuatu sebagai fakta sebelum bisa diperiksa.
'Itu cukup,' kata Arka.
Setiba di rumah, ia menyimpan ponsel dan membuat makan malam sederhana. Ia memikirkan betapa mudahnya angka besar terdengar seperti bukti, padahal tanpa tanggal, persetujuan, atau catatan pembayaran, angka hanya menunjukkan bahwa seseorang mengatakan sesuatu.
Kecurigaan belum hilang. Namun kini ada langkah yang dapat diperiksa: permintaan audit tercatat, dokumen yang dicari disebut satu per satu, dan tidak ada kesimpulan dibuat sebelum jawaban datang. Tara tahu ia tidak akan menjadi kurir keluarga atau alat untuk menekan siapa pun.