Aryo membuka pembicaraan setelah staf membawa teko teh. 'Proyek properti Kalimantan itu harus dibicarakan sebelum rapat Senin. Ada beberapa orang yang mendengar angka berbeda dan sekarang menganggap dana perusahaan hilang.'
Arka tidak menyentuh gelasnya. 'Angka mana yang kamu maksud?'
'Anggaran awal dua ratus miliar,' kata Aryo. 'Setelah perubahan lahan, jalan masuk, dan izin, total kebutuhan menjadi tiga ratus lima puluh. Itu bukan uang yang lenyap. Itu perubahan biaya.' Ia berbicara tenang, seperti sedang memaparkan laporan di ruang rapat.
Tara tetap di kursi dekat pintu. Ia tidak mengeluarkan pulpen perekam. Alat itu masih mati di tasnya. Ia hanya mendengar dan berusaha mengingat siapa mengucapkan angka serta konteksnya.
Dewi menggeleng. 'Kamu selalu menyebut angka revisi seolah sudah disetujui. Dua ratus itu yang disahkan. Tiga ratus lima puluh cuma usulanmu.' Ia tidak menatap Arka saat berbicara; ia memandang Aryo.
Aryo berkata Dewi tahu biaya tambahan sudah dibahas. Dewi menjawab ia tahu ada pembahasan, tetapi tidak melihat persetujuan final. Kedua versi itu bertentangan. Tara belum tahu dokumen mana yang mendukung salah satunya.
Arka bertanya siapa yang menandatangani perubahan anggaran. Aryo menjawab prosesnya melewati beberapa orang, bukan satu tanda tangan. Dewi menyela bahwa tanpa persetujuan dewan, perubahan tidak dapat disebut final. Slamet mengatakan ia tidak ingat menerima laporan lengkap.
Tara tidak menyimpulkan siapa yang berbohong. Ia bertanya, 'Boleh saya pastikan, Mas Aryo mengatakan total kebutuhan proyek menjadi tiga ratus lima puluh setelah perubahan. Tante Dewi mengatakan angka itu hanya usulan dan yang disahkan tetap dua ratus. Betul?'
Aryo mengangguk. Dewi membenarkan, lalu menambahkan bahwa ia belum melihat pembayaran yang cocok dengan angka tiga ratus lima puluh. Tara bertanya apakah Dewi memiliki laporan yang dimaksud. Dewi berkata dokumen itu ada di kantor, bukan di rumah.
'Saya tidak perlu melihatnya malam ini,' kata Tara. 'Saya hanya ingin membedakan apa yang masing-masing katakan.'
Ratna menatapnya. 'Kenapa kamu yang mencatat?'
'Saya tidak sedang membuat laporan. Saya mendengar karena semua orang berbicara di depan saya.'
Arka berkata Tara tidak diminta menyelidiki proyek. Ia menatap Aryo dan Dewi bergantian, lalu bertanya apakah ada dokumen yang dapat dibagikan lewat jalur resmi sebelum rapat. Aryo menjawab ia akan meminta sekretariat mengirim ringkasan. Dewi mengatakan ringkasan saja tidak cukup; perlu persetujuan awal dan perubahan.
Slamet menyebut perubahan biaya bukan hal aneh dalam proyek tanah. Arka menjawab ia tidak menyebutnya aneh, ia hanya ingin tahu dokumen mana yang menyetujui. Slamet bertanya apakah Arka menuduhnya. Arka menjawab ia bertanya tentang proses, bukan menuduh orang.
Tara melihat Ratna mengatupkan bibir. Ia tidak tahu apakah ketegangan itu berasal dari proyek atau sejarah keluarga. Ia juga tidak tahu apakah pengajuan audit yang dibuat Arka sudah diterima. Ia tidak menyebut angka selisih seratus lima puluh sebagai uang yang dicuri.
Aryo beralih ke Tara. 'Kamu sudah dengar sendiri. Menurutmu siapa yang lebih masuk akal?'
Tara menahan diri sebelum menjawab. 'Saya belum melihat dokumen asli, jadi saya tidak bisa memilih versi. Saya hanya bisa mengatakan ada dua keterangan yang berbeda.'
Arka berkata itu cukup. Ia meminta agar tidak ada yang menuntut Tara memberi penilaian atas keluarganya. Aryo mengatakan ia hanya bertanya. Tara menjawab ia sudah memberi jawaban.
Di luar ruang makan, suara kendaraan terdengar melewati halaman. Tidak ada yang masuk. Aryo berkata rapat Senin akan menyelesaikan kebingungan itu. Dewi membalas bahwa kebingungan tak selesai hanya dengan mengirim satu ringkasan.
Tara meletakkan kedua tangannya di pangkuan. Angka-angka itu kini terdengar jelas, tetapi bukti belum tersedia. Ia menyimpan perbedaan ucapan di ingatan, tanpa mengubahnya menjadi kesimpulan.
Tara bertanya apakah keluarga menginginkan catatan percakapan resmi. Aryo menjawab tidak. Arka juga berkata tidak ada yang perlu direkam malam ini. Tara tetap ingin memastikan sebelum alat di tasnya menjadi sumber salah paham.
Ia mengeluarkan pulpen perekam, meletakkannya di atas meja dalam keadaan mati, dan menjelaskan bahwa alat itu pernah diberikan kepadanya. Ia belum mengaktifkannya. Ia bertanya apakah semua orang setuju jika percakapan berikut tentang proyek direkam untuk menjaga ketepatan ucapan.
Dewi langsung menolak. Ratna berkata ia juga tidak setuju. Aryo berkata pembicaraan itu bukan rapat formal dan tidak perlu direkam. Slamet tidak memberi persetujuan. Tara mengambil kembali alat itu dan memasukkannya ke tas.
'Baik. Tidak ada rekaman,' katanya. 'Saya akan menulis catatan setelah keluar, dan catatan itu bukan transkrip atau bukti resmi.'
Arka menyetujui. Ia tidak mengklaim rekaman diam-diam akan sah atau berguna. Ia meminta agar Tara tidak merasa harus membuktikan apa pun dengan alat itu.
Tara merasa lebih baik setelah batasnya jelas. Ia telah membawa perekam sesuai rencana, tetapi tidak mengaktifkannya ketika orang-orang tidak memberi izin. Keputusan itu mengurangi satu sumber risiko dan tidak mengubah siapa pun menjadi terdakwa.
Pukul sepuluh malam lewat sedikit, pembicaraan mulai kehilangan tenaga. Aryo mengusulkan semua orang mengakhiri diskusi dan menunggu dokumen. Dewi masih ingin tahu siapa yang akan mengirim ringkasan pertama. Arka mengatakan sekretariat perusahaan akan mengirim, asalkan permintaannya disetujui sesuai prosedur.
Slamet menyebut arsip di yayasan mungkin perlu diperiksa. Ia berkata ia akan mencari catatan lama di rumahnya dan mengabari sekretariat. Ia tidak menjanjikan menemukan dokumen tertentu. Arka meminta agar ia tidak membawa atau mengubah arsip sebelum pihak perusahaan membuat salinan resmi. Slamet tidak langsung menjawab.
Ratna meminta Arka berhenti memperlakukan keluarga seolah semua orang berusaha mengambil perusahaan. Arka berkata ia tidak ingin menganggap begitu, tetapi ia tidak bisa menyetujui angka tanpa melihat dokumen. Ratna menjawab Hendra juga pernah mempercayai orang terlalu mudah, lalu menutup mulutnya sendiri sebelum melanjutkan.
Tara melihat perubahan pada wajah Ratna. Ia tidak bertanya tentang kematian Hendra. Itu bukan saatnya, dan ia tidak punya dasar untuk mengaitkan kalimat itu dengan proyek malam ini.
Aryo meminta Tara mengingat bahwa apa yang ia dengar tidak berarti keluarga menganggapnya bagian dari pembicaraan formal. Tara berkata ia memahami dan tidak akan menyebut dirinya saksi ahli atau penyidik. Ia juga tidak akan menjanjikan menjaga rahasia atas semua ucapan mereka.
Dewi mengatakan ia tak keberatan jika Tara menulis catatan untuk dirinya sendiri, selama tidak menyebarkan informasi tanpa konteks. Tara menjawab catatan itu miliknya, dan bila ada hal yang perlu disampaikan kepada Arka, ia akan membedakan ucapan dari dokumen.
Arka berkata tidak ada permintaan baginya untuk melaporkan makan malam. Ia tidak ingin Tara merasa pekerjaannya berisiko jika ia memilih tidak menceritakan hal personal. Tara memandangnya dan berkata ia akan menentukan sendiri apa yang relevan dengan pekerjaannya.
Bambang berdiri dan mengucapkan terima kasih karena semua orang akhirnya menyepakati satu langkah: menunggu dokumen resmi. Tidak ada kesimpulan tentang siapa yang mengambil uang atau siapa yang menyembunyikan persetujuan. Selisih angka tetap belum terjelaskan.
Tara mengecek ponsel. Sofi mengirim tanda tanya. Tara membalas bahwa ia akan pulang sekarang. Ia berdiri dan mengucapkan terima kasih kepada Aryo atas undangan. Aryo menawarkan sopir, tetapi Tara menolak karena sudah memesan kendaraan sendiri.
'Aku akan minta gerbang dibuka,' kata Aryo.
'Terima kasih. Saya bisa jalan sendiri sampai depan.'
Arka tidak ikut memutuskan. Ia hanya bertanya apakah Tara ingin ada orang menemani sampai pos. Tara menjawab petugas keamanan di luar sudah cukup dekat; ia tidak perlu ditemani keluarga.
Ratna mengucapkan selamat malam dengan nada formal. Dewi tidak menambah komentar. Slamet berkata ia akan memeriksa arsip yayasan pada Senin, tetapi tidak menyebut dokumen yang akan dicari. Tara menyimpan itu sebagai janji lisan, bukan bukti bahwa arsip ada.
Tara sampai di gerbang dan mengirim pesan kepada Sofi bahwa ia sudah keluar. Petugas keamanan menunggu di tempat yang disepakati. Kendaraan yang dipesan tiba beberapa menit kemudian. Tara memeriksa pelat dan nama pengemudi sebelum naik.
Di mobil, ia membuka catatan ponsel dan menulis tiga bagian: ucapan Aryo tentang revisi menjadi 350; bantahan Dewi bahwa angka itu hanya usulan; Slamet akan mencari kemungkinan arsip yayasan. Ia menambahkan bahwa tidak ada dokumen diperlihatkan dan angka belum diverifikasi.
Ia tidak menulis bahwa seratus lima puluh miliar telah dicuri. Ia tidak tahu itu. Malam tersebut memberinya perbedaan keterangan, bukan jawaban.
Tara mengirim pesan kepada Arka bahwa ia sudah meninggalkan rumah besar dengan selamat. Ia tidak mengirim catatannya. Arka membalas singkat bahwa ia menerima pesan dan akan menunggu sampai Senin untuk dokumen resmi.
Rumah besar menghilang di balik kaca mobil. Acara telah berakhir baginya, tetapi perkara proyek belum dimulai sebagai pemeriksaan yang sah. Tara pulang membawa pertanyaan yang lebih tajam dan kesimpulan yang tetap terbuka.