Sabtu sore, Tara mengirim pesan kepada Sofi sebelum memesan kendaraan. Ia memberi tahu bahwa ia akan berangkat, lalu membagikan nomor kendaraan dan perkiraan waktu tiba. Sofi membalas singkat: pesan diterima. Tara juga mengirim pesan kepada Surti bahwa ia berangkat sekarang dan akan mengabari setelah pulang.
Ia membawa ponsel, charger kecil, uang sendiri, kartu kontak petugas keamanan, dan pulpen perekam yang diberikan Arka. Jumat malam ia memutuskan membawanya, tetapi alat itu tetap mati. Ia tidak akan merekam diam-diam; jika percakapan penting muncul, ia akan meminta izin. Bila mereka menolak, ia akan mencatat setelah keluar. Perekam itu bukan alasan untuk memancing pengakuan.
Mobil melewati jalan yang semakin sepi. Rumah besar keluarga Wijaya berada di balik pagar tinggi dengan pepohonan rapat. Dari jalan, bangunannya tampak lebih lebar daripada yang terlihat di peta. Lampu taman sudah menyala, sementara langit masih menyisakan warna biru kelabu.
Sopir menurunkan kaca di pos gerbang. Petugas memeriksa daftar tamu, menemukan nama Tara, lalu bertanya apakah ia datang sendiri. Tara menjawab iya. Petugas meminta ia menunggu sebentar dan menghubungi bagian dalam. Ia tidak membuka gerbang langsung.
Tara mengirim pesan kepada Sofi: sudah tiba di gerbang, menunggu konfirmasi. Lalu ia mengirim pesan kepada petugas keamanan perusahaan yang ditemuinya Jumat. Ia tidak meminta orang itu masuk; hanya memberi kabar bahwa ia sampai.
Beberapa menit kemudian, Aryo muncul dari jalur taman di sisi gerbang. Ia mengenakan kemeja gelap dan celana bahan. Senyumnya lebar, tetapi matanya singgah pada ponsel Tara.
'Kamu datang sendiri?' tanyanya.
'Iya. Seperti yang saya sampaikan.'
'Bagus. Silakan masuk.'
Tara turun dari mobil setelah membayar perjalanan. Ia memastikan sopir pergi dan jalan di belakangnya terbuka. Aryo menunggu sampai ia melewati gerbang, tetapi tidak mengambil tasnya.
Di dekat pintu utama, Arka berdiri seorang diri. Ia tidak menghampiri Tara seolah mereka datang berpasangan. Ia hanya menyapa, 'Selamat sore, Tara.' Tara membalas salam dan memastikan pintu masuk masih terbuka ke arah jalan.
'Kamu bisa pulang kapan saja,' kata Arka, cukup pelan agar tidak menjadi pengumuman. 'Petugas di depan tahu kamu boleh keluar tanpa menunggu aku.'
'Saya tahu. Saya sudah punya kendaraan sendiri.'
Arka mengangguk dan tidak menawarkan mengantar. Aryo mengamati pertukaran singkat itu, tetapi tidak bertanya.
Mereka masuk ke ruang depan yang luas. Ada beberapa pintu menuju ruang lain dan halaman dalam. Tara melihat tanda arah keluar dan tidak memilih kursi di sisi utara. Ia juga tidak menganggap pesan anonim itu pasti benar. Ia memilih tempat di dekat pintu ruang tamu utama, dari mana ia dapat melihat koridor menuju gerbang.
Ratna duduk di sofa dengan gaun warna gelap. Dewi berdiri dekat meja minuman. Slamet baru tiba, menyerahkan jasnya kepada seorang staf rumah. Aryo memperkenalkan Tara sebagai asisten pribadi Arka yang diundang untuk makan malam.
Ratna memandang Tara. 'Kamu datang juga.'
'Terima kasih atas undangannya, Bu.' Tara menjaga suaranya datar.
Dewi tersenyum tipis. 'Kamu memang berani.'
Tara tidak bertanya apa maksudnya. Ia menjawab bahwa ia hanya menerima undangan makan malam. Arka tidak ikut menafsirkan atau menjawab untuknya.
Slamet mengulurkan tangan untuk bersalaman. 'Slamet. Paman Arka.'
'Tara.'
'Saya tahu,' katanya. 'Namamu sudah beberapa kali muncul di percakapan keluarga.'
Tara menatapnya, menunggu. Slamet menambahkan bahwa asisten baru Arka tentu menjadi topik karena bosnya terkenal sulit mempertahankan staf. Ia berkata itu sekadar gurauan. Tara tidak tertawa otomatis.
'Semoga malam ini lebih nyaman daripada hari pertama saya,' jawabnya.
Slamet mengeluarkan tawa pendek. Aryo mempersilakan semua orang duduk. Tara memilih kursi yang masih dekat pintu. Tidak ada yang meminta ia pindah.
Dari luar, terdengar pintu gerbang ditutup, disusul suara mobil lain tiba. Tara tidak tahu siapa yang datang. Ia meletakkan ponsel di saku, tetap dalam jangkauan. Acara baru mulai dan belum ada percakapan tentang perusahaan. Ia belum memiliki alasan untuk mencatat lebih dari nama yang sudah dikenalnya.
Pria yang baru datang bernama Bambang, penasihat hukum keluarga yang sudah lama mengenal Hendra. Tara mengenali rambut memutih dan kacamata bulatnya dari pertemuan sekilas di lantai eksekutif. Ia masuk ke ruang depan tanpa jas, menyapa Ratna dan yang lain, lalu berhenti di dekat Tara.
'Kita pernah bertemu sekilas di kantor,' katanya. 'Selamat datang.'
Tara membalas salam. Bambang tidak bertanya bagaimana ia mengenal Arka atau apakah ia akan menjadi bagian keluarga. Ia hanya menunjukkan tempat duduk yang tersedia dan membiarkan Tara memilih.
Aryo mulai membuka obrolan dengan menanyakan perjalanan. Tara berkata jalanan cukup lancar. Dewi menyela bahwa rumah di Kemang pasti jauh lebih dekat daripada kontrakan lama Tara. Kalimat itu membuat Tara berhenti sejenak. Dewi tahu tempat tinggal barunya.
'Saya pindah beberapa waktu lalu,' jawab Tara. 'Kontrakannya dibayar sampai batas waktu tertentu.'
Dewi mengangkat alis. 'Dibayar siapa?'
Tara tidak menjawab rincian keuangannya. 'Itu urusan pribadi saya dan perusahaan.'
Ratna menyesap minumannya. 'Perusahaan atau Arka? Kadang batasnya memang tipis kalau seseorang tinggal di rumah yang disediakan bosnya.'
Arka bergerak sedikit, tetapi Tara mengangkat telapak tangannya kecil, meminta ruang untuk menjawab sendiri.
'Bantuan sewa tercatat tertulis dan tidak mewajibkan saya datang ke acara ini,' katanya. 'Kalau Ibu ingin tahu soal pekerjaan saya, silakan tanyakan pekerjaan.'
Ratna menatapnya cukup lama, lalu berkata ia hanya ingin tahu siapa yang berada di rumahnya. Tara menjawab ia mengerti, tetapi tidak akan membahas detail Surti atau alamat kontrakan. Bambang mengalihkan percakapan ke makanan yang akan disajikan.
Aryo memperkenalkan beberapa staf rumah yang menyiapkan hidangan. Tara berterima kasih dan tidak mencoba mencari tahu area mana yang tidak boleh dimasuki. Ia bertanya kepada Aryo apakah ia boleh menggunakan kamar kecil. Aryo menunjukkan koridor sebelah kiri. Tara mengingat letaknya dan melihat pintu utama tetap terbuka ke ruang depan.
Dalam perjalanan kembali, ia melihat sebuah pintu di lorong samping yang tertutup. Dari sisi lain terdengar suara pembicaraan pelan. Ia tidak berhenti atau mendekat. Ia kembali ke ruang tamu dan duduk di tempatnya.
Slamet membicarakan keadaan perusahaan secara umum. Ia berkata generasi muda sering terlalu cepat mempercayai laporan yang disusun orang lain. Arka menjawab laporan harus diperiksa, tetapi tidak menyebut proyek tertentu. Tara mendengar tanpa menyela.
'Kamu bagaimana, Tara?' tanya Aryo. 'Kamu percaya pada Arka?'
Pertanyaan itu datang dengan nada ringan, tetapi membuat beberapa wajah beralih ke arahnya. Tara tidak menganggapnya tes yang harus dijawab dengan loyalitas.
'Saya sedang bekerja untuknya,' katanya. 'Kepercayaan dibangun dari apa yang orang lakukan, bukan dari jawaban di ruang tamu.'
Aryo tersenyum seperti terhibur. 'Jawaban aman.'
'Jawaban jujur,' kata Tara.
Arka tidak menambahkan apa pun. Ia menunduk melihat gelasnya, membiarkan jawaban Tara berdiri sendiri.
Dewi bertanya apakah Tara pernah bekerja untuk keluarga kaya. Tara berkata tidak. Dewi bertanya apakah ia tidak takut masuk ke keluarga yang memiliki banyak aturan. Tara menjawab ia datang sebagai tamu, bukan anggota keluarga. Jika aturan acara berubah menjadi sesuatu yang tidak ia setujui, ia akan pulang.
Bambang melihat jam dan mengatakan makan malam akan segera disajikan. Aryo bangkit lebih dahulu dan mengundang semua orang menuju ruang makan. Tara berdiri setelah memastikan jalurnya tidak terhalang.
Ruang makan memiliki meja panjang dengan banyak kursi. Ada kursi di ujung dan di kedua sisi. Aryo mempersilakan Tara memilih tempat. Ia melihat kursi dekat pintu menuju ruang depan dan duduk di sana. Bukan di sisi utara yang disebut pesan anonim, tetapi juga tidak menjauh hanya karena pesan tersebut.
Ratna duduk di seberangnya. Dewi dan Slamet mengambil tempat di dekat Aryo. Arka memilih kursi yang tidak berdampingan langsung dengan Tara. Bambang duduk di ujung meja.
Tara meletakkan tas di samping kursi dan menunggu hidangan datang. Ponselnya tetap dalam jangkauan; ia dapat kembali mengabari Sofi tanpa perlu meninggalkan meja.
Tara memilih sup bening dan sedikit nasi. Ia tidak tahu apakah akan lama di rumah itu, jadi ia tidak mengisi piring terlalu banyak. Di seberang meja, Ratna bertanya apakah ia selalu berhati-hati seperti itu.
'Dalam acara yang belum saya kenal, iya,' jawab Tara.
'Kamu menganggap rumah ini berbahaya?' tanya Dewi.
Tara meletakkan sendoknya. 'Saya menerima pesan yang mengatakan jangan datang. Saya tidak tahu siapa pengirimnya. Jadi saya berhati-hati.'
Dewi menatap Aryo. 'Pesan apa?'
Tara tidak mengeluarkan ponsel untuk menunjukkan. Ia menjawab bahwa pesan itu sudah dilaporkan kepada Arka dan ia tidak tahu sumbernya. Ia tidak menuduh siapa pun di meja.
Slamet menanyakan apakah Tara percaya pesan anonim itu. Tara berkata ia tidak punya cukup informasi untuk percaya atau menolak seluruh isinya. Ia datang karena memilih datang dan sudah memastikan cara pulang.
Ratna bertanya apakah Arka menyuruhnya tetap datang. Tara menjawab tidak. Arka sempat berkata ia sebaiknya tidak datang, tetapi setelah Tara memilih sendiri mereka membahas jalan keluar. Ia tidak mengatakan bahwa Arka menyuruhnya hadir.
Aryo meletakkan gelas. 'Aku mengundangmu. Aku tidak tahu soal pesan itu sebelum kamu menyebutnya.'
'Saya tidak mengatakan Mas Aryo yang mengirim,' kata Tara. 'Saya juga tidak mengatakan bukan.'
Suasana meja menegang. Bambang memotong dengan bertanya apakah hidangan berikutnya sudah siap. Percakapan beralih, tetapi Tara melihat Aryo tidak lagi tersenyum selebar tadi.
Dewi bertanya tentang pekerjaan Tara. Ia menanyakan pendidikan dan mengapa memilih menjadi asisten pribadi setelah lulus ekonomi. Tara menjawab bahwa ia membutuhkan pekerjaan tetap dan tugasnya mencakup pengelolaan jadwal, dokumen, serta koordinasi. Ia tidak menceritakan sakit Surti atau jumlah pengobatan.
'Kamu tidak merasa pekerjaan itu terlalu kecil untuk gelar sarjanamu?' tanya Dewi.
'Tidak. Pekerjaan yang saya lakukan tetap punya tanggung jawab. Saya memilihnya karena saat ini sesuai kebutuhan saya.'
Ratna menyela bahwa seseorang dapat menganggap pekerjaan sebagai pilihan meski sebenarnya terdesak uang. Tara menjawab itu benar, tetapi ia tetap berhak menentukan keputusan berikutnya tanpa dianggap berutang kesetiaan seumur hidup.
Arka hendak bicara, tetapi Tara menatapnya sekilas. Ia tetap diam. Tara menghargai itu lebih dari pembelaan yang akan mengubah percakapan menjadi urusan Arka.
Slamet bertanya apakah Tara bertemu keluarga karena ingin mendekat kepada Arka. Tara menjawab ia menerima undangan Aryo dan ingin tahu mengapa namanya disebut dalam permainan yang belum ia pahami. Ia tidak menyebut dirinya kekasih, calon istri, atau mata-mata.
'Jadi kamu datang untuk menyelidiki kami?' Dewi bertanya.
'Saya datang untuk makan malam. Saya tidak membuka dokumen atau merekam siapa pun. Kalau ada yang ingin mengatakan sesuatu, saya akan mendengarnya.'
Aryo menatap Tara lama. 'Arka mungkin mengajarimu menjawab seperti itu.'
'Saya menjawab untuk diri saya sendiri.'
Bambang meminta semua orang berhenti menekan tamu. Ia berkata undangan keluarga bukan pemeriksaan kerja. Ratna tidak membantah, tetapi mengalihkan pandangan ke piring.
Hidangan utama tiba. Pembicaraan berlangsung lebih tenang selama beberapa menit. Tara menghabiskan makanannya perlahan dan memeriksa waktu. Ia telah berada di rumah itu hampir satu jam. Ia belum merasa harus pergi, tetapi tetap memperhatikan pintu.
Seseorang mengetuk pintu samping ruang makan. Seorang staf menyampaikan sesuatu kepada Aryo. Aryo menjawab singkat, lalu menatap Arka.
'Setelah makan, kita perlu membicarakan beberapa urusan keluarga dan perusahaan,' katanya. 'Semua orang sebaiknya tetap di sini.'
Tara tidak menjawab. Ia memperhatikan kata 'sebaiknya' dan mengingat ia tidak diwajibkan bertahan. Arka melihat ke arahnya, tetapi tidak memberi isyarat agar ia tinggal atau pergi.