Rabu sore, Tara menelepon bagian administrasi rumah sakit untuk memastikan jadwal Surti. Ia tidak membahas diagnosis atau meminta perubahan perawatan; ia hanya mencocokkan tanggal tindakan rutin dan tagihan yang harus disiapkan. Surti masih dirawat di ruang biasa. Kondisinya lemah, tetapi tidak ada kabar gawat darurat.
Setelah panggilan, Tara mengumpulkan kuitansi yang dibayar dari amplop Arka. Ia menuliskan tanggal dan jumlah, lalu menyimpan salinan di map. Uang tunai masih tersisa. Ia tidak tahu apakah Arka menganggapnya hadiah, pinjaman, atau biaya yang akan dipotong dari gajinya nanti.
Ia masuk ke ruang kerja Arka membawa catatan itu. 'Saya perlu kejelasan tentang uang Ibu dan kontrakan. Saya tidak mau ada angka yang suatu hari berubah jadi utang tanpa pernah disepakati.'
Arka menatap kertas tersebut. Ia berkata biaya rumah sakit yang sudah ia berikan bukan pinjaman dan tidak akan dipotong dari gaji. Kontrakan dibayar langsung untuk beberapa bulan, dengan jumlah dan periode yang dapat ia tunjukkan. Ia tidak akan meminta Tara membalas melalui tugas pribadi.
'Kalau saya berhenti bekerja?' tanya Tara.
'Kamu tidak mengembalikan biaya medis yang sudah dibayar. Kontrak rumah berjalan sampai masa yang sudah dibayar habis. Setelah itu, kamu yang menentukan tempat tinggal berikutnya.'
Tara meminta rincian tertulis. Arka berkata bagian administrasi dapat membuat bukti pembayaran dan surat yang menyebut tidak ada kewajiban kerja tambahan sebagai syarat. Ia tidak akan menulis janji medis atau menjamin biaya seumur hidup. Tara menginginkan batas yang benar-benar dapat dipenuhi, bukan kata-kata besar.
Mereka meminta administrasi memisahkan biaya medis, sewa, dan gaji. Tara memastikan rekening Surti serta detail pengobatan tidak dibagikan ke keluarga Arka. Arka menyetujui dan membatasi akses dokumen pada orang yang mengurus pembayaran.
Setelah rapat, Tara mengunjungi Surti di rumah sakit. Ibunya sedang duduk dengan selimut menutupi kaki. Tara membawa daftar pembayaran dan menunjukkan bahwa semua biaya tercatat. Ia tidak menceritakan detail daftar hitam atau pesan ancaman, tetapi mengatakan acara keluarga Arka mungkin berisiko.
Surti menatapnya lama. 'Kamu masih bisa bilang tidak, Nak.'
'Aku tahu, Bu. Aku belum memutuskan semuanya. Aku akan datang dengan cara yang bisa membuatku pulang sendiri.'
Surti tidak menyuruhnya bertahan demi uang. Ia berkata tidak ingin biaya pengobatan membuat Tara menerima perlakuan yang membahayakan. Tara menggenggam tangannya dan berjanji akan memisahkan urusan kerja dari urusan perawatan.
Di lorong rumah sakit, Tara menerima telepon dari Reza. Ia tidak menjawab langsung. Reza mengirim pesan bahwa ia mendengar Surti sudah membaik dan bertanya apakah Tara perlu bantuan. Tara membalas bahwa ia tidak memerlukan bantuan uang atau kunjungan mendadak. Ia bertanya dari mana Reza tahu jadwal rumah sakit.
Reza tidak menjawab pertanyaan itu. Ia mengatakan hanya ingin memastikan Tara aman. Tara menulis bahwa jika ia memiliki informasi konkret tentang acara Sabtu, ia bisa mengirimnya tanpa meminta Tara bertemu sendirian. Setelah itu, ia menghentikan percakapan.
Pada sore hari bagian administrasi mengirim draf surat. Tara membaca setiap baris. Surat itu menyebut biaya yang telah dibayar sebagai bantuan tanpa kewajiban pengembalian dan kontrakan telah dibayar sampai tanggal tertentu. Tidak ada kaitan dengan acara Sabtu atau kesetiaan kepada Arka.
Ia meminta satu koreksi agar akses rekening Surti tidak menjadi syarat pembayaran. Bagian administrasi mengubah kalimat itu. Arka menandatangani salinan perusahaan, dan Tara menerima salinannya melalui surat resmi.
Ia menyimpan surat itu bersama kuitansi. Ada banyak risiko yang belum terselesaikan, tetapi setidaknya satu ancaman tidak lagi disamarkan sebagai kebaikan: bantuan untuk Surti bukan harga yang harus Tara bayar dengan kepatuhan.
Kamis siang, Aryo mengirim detail lokasi acara: rumah besar keluarga Wijaya, mulai pukul tujuh malam Sabtu. Ia menulis bahwa Tara bisa masuk dari pintu utama dan tidak perlu membawa apa-apa. Pesannya ramah, hampir seperti undangan biasa.
Tara menyimpan pesan itu dan memeriksa alamat melalui peta. Rumah besar tersebut berada di kawasan yang sama dengan kantor pusat keluarga, tetapi memiliki beberapa akses. Ia bertanya kepada Arka apakah ia pernah menghadiri acara serupa. Arka menjawab pernah, namun ia tidak tahu siapa saja yang akan hadir kali ini.
'Aku bisa meminta keamanan menunggu di luar,' katanya.
'Saya mau lihat tempat dan tahu siapa petugasnya sebelum setuju. Saya tidak mau ada orang mengikuti saya diam-diam.'
Arka mengatur agar seorang petugas keamanan perusahaan bertemu mereka pada Jumat siang di kantor. Ia menjelaskan identitas dan tugas petugas itu: berada di area depan, membantu bila Tara ingin keluar, tidak merekam atau mengawasi percakapannya. Tara bertanya apakah ia bisa menolak bantuan tersebut pada malam acara. Arka menjawab bisa.
Mereka membuka peta rumah besar pada layar. Arka menunjukkan pintu masuk utama dan gerbang samping, tetapi ia tidak tahu pintu mana yang akan dibuka. Tara meminta agar rencana tidak bergantung pada satu akses. Ia akan datang dengan taksi daring yang ia pesan sendiri, berbagi nomor kendaraan dengan Sofi, dan pulang dengan cara yang sama.
Arka bertanya apakah ia ingin ia berada dekat dengannya selama acara. Tara menjawab ia akan menentukan saat itu. Ia tidak mau Arka memutuskan kapan ia harus berdiri atau duduk. Mereka menyepakati bahwa Tara dapat mengirim kata 'pulang' kepada Arka atau Sofi. Namun, bila ia merasa bisa keluar sendiri, ia tidak perlu meminta izin.
Tara mengambil pulpen perekam dari tas. Ia berkata belum memutuskan menggunakannya. Ia bertanya apakah alat itu menyimpan file lokal atau mengunggah otomatis. Arka menjelaskan ia tidak tahu detail perangkat tersebut karena mendapatkannya dari staf keamanan. Tara meminta spesifikasi dan kebijakan akses sebelum acara. Arka menyetujui dan berkata ia tidak akan membawa alat pengganti tanpa sepengetahuan Tara.
'Kalau saya tidak merekam, Bapak tetap akan menerima catatan saya?' tanya Tara.
'Ya. Kamu tidak perlu mengambil risiko tambahan untuk membuatku percaya.'
Jawaban itu membuat Tara menatap Arka sejenak. Ia mengingat perintah awal: berpura-pura dirayu Aryo, laporkan semua. Kini Arka tidak menarik perintah itu secara jelas, tetapi ia mengakui Tara boleh menolak perekam dan tidak perlu membuat orang mengaku. Tara meminta batas itu dimasukkan ke catatan kerja.
Mereka menyusun hal yang akan Tara lakukan jika acara membahas proyek. Ia akan mencatat siapa mengatakan apa, tanggal dan nominal yang disebut, serta apakah ada dokumen yang diperlihatkan. Ia tidak mengambil dokumen tanpa izin, tidak membuka perangkat orang lain, dan tidak mengajukan tuduhan. Jika seseorang meminta ia menandatangani apa pun atau pergi ke ruangan tertutup, ia akan menolak.
Arka bertanya apakah Tara ingin ia membatalkan undangannya. Tara menjawab belum. Ia ingin hadir sebagai orang yang diundang Aryo, bukan sebagai alat untuk menguji kesetiaan siapa pun. Bila keadaan berubah, ia akan pulang.
Sore itu Tara mengirim Sofi detail rencana dan meminta agar ia hanya menjadi kontak check-in. Sofi bersedia. Tara menulis waktu kedatangan dan waktu perkiraan pulang, lalu mengatur pengingat untuk mengirim kabar.
Malamnya, ia memeriksa obat dan kebutuhan Surti bersama ibunya. Tidak ada perubahan perawatan yang perlu diatur. Surti tahu Tara mungkin pergi Sabtu, tetapi tidak tahu rincian konflik keluarga. Ia hanya meminta Tara mengabari jika sudah sampai rumah.
Arka mengirim spesifikasi perekam menjelang pukul sembilan. Alat itu menyimpan audio secara lokal dan memerlukan kabel untuk memindahkan file. Tara membacanya, lalu membalas bahwa ia belum memutuskan membawanya. Arka tidak mendesak.
Tara meletakkan ponsel di meja. Rencana keluar kini nyata: kendaraan sendiri, kontak check-in, pintu yang dikenal, dan hak berhenti. Ia masih tidak tahu siapa mengirim pesan anonim. Namun, untuk pertama kalinya, rasa ingin tahu tidak menjadi satu-satunya alasan ia datang.
Jumat pagi, Tara membuka kembali pesan Aryo dan memastikan alamat rumah besar sesuai dengan yang ia periksa. Tidak ada perubahan waktu. Ia mengirim satu pertanyaan tentang siapa yang mengundang dirinya. Aryo membalas bahwa ia mengundang Tara secara pribadi sebagai asisten baru Arka dan anggota keluarga yang ingin dikenal. Ia menyebut Ratna, Slamet, Dewi, serta beberapa kerabat inti akan hadir.
Tara membaca kalimat itu dua kali. Undangan tersebut tidak mengatakan Arka menjadi tuan rumah. Ia bertanya apakah Reza akan hadir. Aryo menjawab tidak tahu dan menyarankan Tara bertanya langsung kepada Arka. Tara menyimpan jawaban tanpa menganggapnya bukti bahwa Reza terlibat.
Di kantor, Arka menunjukkan draf prosedur keselamatan dari bagian keamanan. Tara memeriksa nama petugas, nomor kontak, dan posisi tunggu di dekat gerbang. Ia meminta agar petugas tidak berdiri tepat di sampingnya atau meminta laporan setelah setiap percakapan. Arka menyampaikan koreksi itu.
Tara bertanya tentang mobil pulang. Arka menawarkan kendaraan perusahaan, tetapi Tara menolak. Ia memilih memesan sendiri dan menggunakan aplikasi yang sama dengan hari-hari biasa. Arka tidak menghalangi. Ia meminta Tara mengirim nomor kendaraan kepada Sofi, bukan kepadanya, agar informasi perjalanan tidak menumpuk di tangannya.
'Kalau ada perubahan yang membuat saya merasa tidak aman, saya pergi,' kata Tara.
'Ya.'
'Bapak tidak meminta saya bertahan sampai ada bukti?'
'Tidak. Keselamatanmu lebih penting daripada percakapan yang mungkin terjadi.'
Tara mengangguk. Ia belum tahu apakah Arka akan tetap berpikir demikian jika kesempatan mendapat informasi hilang. Namun, ia menyimpan kalimat itu sebagai batas yang dapat ia ingat.
Pukul tiga, bagian administrasi menyerahkan surat final tentang biaya rumah sakit dan kontrakan. Tara membaca tanggal serta jumlah sekali lagi. Bantuan medis tidak menjadi pinjaman; sewa dibayar sampai akhir bulan berikutnya. Bila kontrak kerja berhenti, tidak ada kewajiban untuk tetap tinggal di tempat itu atau membantu Arka menyelidiki keluarga.
Ia menandatangani tanda terima, bukan perjanjian tambahan. Satu salinan ia simpan sendiri. Arka berkata ia tidak perlu berterima kasih. Tara menjawab ia tetap berterima kasih atas pembayaran, tetapi rasa terima kasih tidak sama dengan persetujuan untuk segala hal.
Arka menerima kalimat itu tanpa membantah. Ia meminta maaf karena awalnya menyebut bantuan sebagai investasi dan mengaitkan fokus kerja Tara dengan tempat tinggal ibunya. Ia berkata itu membuat bantuan terdengar seperti alat kendali.
Tara belum menjawab bahwa ia memaafkan. Ia berkata ia mendengar permintaan maaf itu. Arka tidak meminta lebih.
Sore hari, Tara mengunjungi Surti. Ia menjelaskan bahwa ia akan pergi ke acara keluarga, memiliki jalan pulang sendiri, dan akan mengirim pesan saat berangkat serta sampai kembali. Surti bertanya apakah ia bisa membatalkan kapan saja. Tara menjawab bisa.
'Kalau kamu merasa harus datang karena biaya rumah sakit, kamu boleh batal,' kata Surti.
'Aku datang karena aku ingin tahu apa yang mereka bicarakan. Tapi kalau situasinya berubah, aku pulang.'
Surti mengusap punggung tangan anaknya. Ia tidak meminta Tara menceritakan nama-nama keluarga. Ia hanya ingin Tara mengingat bahwa hidupnya bukan milik Arka atau keluarga Wijaya.
Dalam perjalanan pulang, Tara menerima pesan dari nomor anonim: 'Jangan duduk di sisi utara.' Tidak ada penjelasan. Pesan itu memberi informasi baru yang bisa diuji, tetapi tidak cukup untuk menentukan siapa pengirimnya. Tara tidak membalas. Ia menyimpan tangkapan layar dan memberi tahu Arka, tanpa menerima instruksi untuk mengubah rencana.
Arka berkata ia tidak tahu apa maksud sisi utara dan tidak akan menebak. Mereka memutuskan Tara tidak akan memilih kursi berdasarkan pesan itu. Jika ada ruang yang hanya memiliki satu jalan keluar atau ia diminta duduk di tempat tertentu, ia dapat menolak.
Malamnya Tara menyiapkan pakaian, ponsel, charger, dan uang perjalanan. Ia akhirnya memutuskan membawa pulpen itu dalam keadaan mati. Ia hanya akan mengaktifkannya bila semua pihak menyetujui; bila tidak, ia membuat catatan sesudah keluar. Ia mengirim pesan kepada Sofi bahwa rencana masih berlaku.
Sabtu belum tiba, dan acara belum dimulai. Tara berbaring setelah mendapat kabar dari ruang rawat bahwa Surti sudah tidur. Ia tidak merasa berani. Ia hanya tahu siapa yang berhak memutuskan apakah ia tinggal atau pergi.