Dulu rumah itu punya aturan tidak tertulis: jangan masuk kalau tidak dipanggil.
Pagarnya tinggi, halamannya luas tapi selalu kosong, dan setiap tamu yang datang harus melewati dua lapis pemeriksaan sebelum sampai ke pintu depan. Orang-orang yang bekerja di sana bicara dengan suara setengah, dan ada beberapa ruangan yang pintunya terkunci tanpa pernah ada yang menjelaskan kenapa.
Sekarang, setiap Sabtu pagi, pagar itu dibuka sejak pukul delapan.
Anak-anak dari pusat bantuan datang dengan bus kecil, kadang dengan angkot yang disewa, kadang jalan kaki beramai-ramai kalau jaraknya dekat. Mereka melepas sandal di teras, menaruhnya berjajar tidak rapi, lalu berhamburan masuk seperti air yang menemukan jalannya sendiri.
Ruang yang dulu dipakai untuk menyimpan berkas-berkas perusahaan kini menjadi perpustakaan.
Rak-raknya rendah, sengaja dibuat setinggi anak kelas tiga supaya tidak ada yang perlu minta tolong untuk mengambil buku. Ada karpet tebal di tengah, bantal-bantal bulat, dan satu sudut dengan lampu baca yang selalu diperebutkan. Bukunya campur aduk; ada ensiklopedia mahal bersampul keras yang dibeli Albert, ada komik bekas yang dibawa Arkan dari lemarinya sendiri, ada buku cerita bergambar yang halamannya sudah lepas dan ditempel ulang berkali-kali dengan selotip.
Di belakang rumah, tanah kosong yang dulu hanya ditanami rumput hias diubah menjadi taman bermain. Ada ayunan, jaring panjat, dan bak pasir yang setiap sore harus disapu karena pasirnya selalu berceceran sampai ke teras.
“Jangan dilarang,” kata Akira waktu ada yang mengeluh soal pasir. “Yang berceceran itu tandanya dipakai.”
Damar mengelola kegiatan olahraga.
Setiap Sabtu ia datang pukul tujuh, lebih pagi dari siapa pun, membawa peluit yang sebenarnya tidak pernah ia tiup karena anak-anak sudah patuh tanpa itu. Ia membagi mereka berdasarkan tinggi badan, bukan umur, supaya yang bertubuh kecil tidak selalu kalah.
“Om Damar, aku mau di tim yang menang.”
“Tidak ada tim yang menang di sini.”
“Pasti ada yang menang.”
“Ada yang mencetak angka lebih banyak,” kata Damar sambil berjongkok. “Tapi yang menang itu yang minggu depan datang lagi.”
Anak itu berpikir sebentar, lalu mengangguk seolah baru saja diberi rahasia penting.
Livia mengajar seni di ruang sebelah perpustakaan.
Ruangannya paling berantakan di seluruh rumah, dan itu disengaja. Dindingnya dilapisi triplek yang boleh dicoret, meja-mejanya dialasi koran, dan ada satu ember besar berisi kuas yang tidak pernah benar-benar bersih. Livia tidak pernah menyuruh anak-anak menggambar sesuatu yang tertentu.
“Gambar apa saja,” katanya. “Kalau tidak tahu mau gambar apa, gambar yang kamu lihat pertama kali waktu bangun tidur.”
Suatu kali ada anak perempuan yang menggambar langit-langit kamar dengan bercak air. Livia membingkainya dan menggantungnya di dinding, tepat di sebelah gambar-gambar kucing dan pelangi.
“Kenapa yang itu dibingkai, Tante?” protes seorang anak laki-laki. “Kan cuma bercak.”
“Karena dia menggambar yang benar-benar dia lihat,” jawab Livia. “Itu yang paling susah.”
Arkan mengambil bagian yang berbeda.
Ia tidak mengajar, tidak pandai membuat anak kecil duduk diam, dan mengakui hal itu terus terang. Yang ia kerjakan adalah aplikasi.
Idenya sederhana dan lahir dari kejengkelan: terlalu banyak anak yang kehilangan kesempatan bukan karena tidak ada bantuan, melainkan karena tidak tahu bantuan itu ada. Beasiswa yang sepi pendaftar. Kelas gratis yang kursinya kosong. Program pendampingan yang informasinya hanya beredar di grup orang-orang tertentu.
Maka ia membuat aplikasi yang menghubungkan anak-anak dengan layanan pendidikan yang tersedia. Satu halaman awal, tiga pertanyaan, lalu daftar yang bisa mereka datangi minggu itu juga, lengkap dengan alamat dan nama orang yang bisa dihubungi.
Ia mengerjakannya bersama dua temannya di ruang makan, bukan di ruang kerja mewah, dengan meja penuh gelas kopi dan kabel yang saling melilit. Versi pertamanya jelek dan sering macet. Versi ketiganya masih jelek, tetapi sudah dipakai empat ratus anak.
“Kenapa tidak minta tim perusahaan saja yang mengerjakan?” tanya Albert suatu malam.
“Nanti jadinya bagus, Pa.”
“Memangnya kenapa kalau bagus?”
“Bagus menurut orang kantor,” kata Arkan. “Anak-anak itu bukanya di HP lama, sinyalnya kembang kempis. Aku harus bikin yang jalan di situ, bukan yang bagus di layar rapat.”
Albert tidak membantah. Ia hanya menutup pintu ruang makan pelan-pelan supaya tiga anak muda itu tidak terganggu, dan menyuruh dapur mengirim makanan ke sana tanpa diminta.
Akira sering berdiri di ambang pintu dapur pada Sabtu siang, memegang gelas teh yang lupa ia minum, hanya untuk mendengar.
Suara bola memantul di halaman. Suara anak-anak berebut giliran ayunan. Suara Livia menertawakan sesuatu di ruang seni. Suara seseorang membaca keras-keras di perpustakaan karena baru bisa membaca dan ingin semua orang tahu.
Rumah ini dulu penuh rahasia.
Ia ingat betul tahun-tahun ketika ia melangkah di lantai yang sama dengan perasaan seperti tamu yang diawasi. Ia ingat pintu-pintu yang ditutup saat ia lewat, percakapan yang berhenti di tengah kalimat, dan malam-malam ketika ia berbaring di kamar sambil menghitung berapa banyak hal yang tidak ia ketahui tentang laki-laki yang tidur di sebelahnya.
Sekarang tidak ada satu pun ruangan di rumah ini yang terkunci pada hari Sabtu.
Akira menyeka sudut matanya dengan punggung tangan dan pura-pura itu karena uap teh.
Seorang anak lewat sambil berlari, berhenti mendadak, lalu menengadah. “Tante, kamar mandinya yang mana?”
“Yang pintunya biru, sayang. Yang itu boleh dibuka.”
Anak itu langsung kabur lagi. Kalimat terakhir tadi sebenarnya tidak perlu, tetapi Akira senang mengucapkannya.
Sore itu, setelah anak-anak pulang dan pasir sudah disapu untuk kesekian kalinya, Albert berdiri di ruang tengah dengan sebuah palu kecil dan dua bingkai.
Akira menghampiri. “Dipasang di sini?”
“Di sini.”
Bingkai pertama berisi foto lama ibunya. Perempuan muda dengan rambut diikat, berdiri di depan sebuah sekolah, tersenyum ke arah kamera dengan cara orang yang belum tahu apa-apa tentang hidupnya nanti.
Bingkai kedua berisi foto Sofia di usia yang kira-kira sama. Rambut dipotong pendek, memegang buku, berdiri di depan pagar yang sudah tidak ada lagi sekarang.
Dua perempuan yang hidupnya saling menabrak, yang namanya selama bertahun-tahun tidak boleh disebut dalam satu kalimat di rumah ini.
Albert memasang keduanya berdampingan, setinggi mata, di dinding yang paling sering dilewati orang. Bukan di ruang kerja yang jarang dimasuki tamu. Bukan di koridor atas. Di ruang tengah, tempat anak-anak berlarian setiap Sabtu dan tempat siapa pun yang datang pasti melihatnya.
Ia mundur selangkah, memiringkan kepala, lalu membetulkan bingkai sebelah kiri yang miring sedikit.
“Lurus?” tanyanya.
“Lurus,” jawab Akira.
Tidak ada lagi foto yang disembunyikan di rumah itu.