Mereka memperbarui janji pernikahan untuk kedua kalinya di halaman belakang rumah, pada sore yang hampir tidak layak disebut acara.
Yang pertama dulu dilakukan di tahun kelima, ramai-ramai, masih ada tenda dan katering dan daftar tamu yang harus dipikirkan. Yang ini berbeda. Akira sendiri yang mengusulkan, sambil menyetrika seragam Arkan, dengan nada seperti orang menanyakan menu makan malam.
“Kita ulang lagi janjinya, yuk.”
Albert menoleh dari layar laptopnya. “Sekarang?”
“Bukan sekarang. Bulan depan. Di rumah saja.”
“Kenapa?”
Akira mengangkat bahu. “Karena aku ingin mengucapkannya lagi sambil tahu persis apa yang aku janjikan. Dulu aku belum tahu.”
Albert menutup laptopnya, dan itu jawabannya.
Sore itu halaman belakang hanya ditata seadanya. Kursi-kursi kayu dari ruang makan dibawa keluar, ditambah beberapa kursi lipat pinjaman dari yayasan. Lampu-lampu kecil digantung di antara dua pohon oleh Damar, yang sempat hampir jatuh dari tangga dan ditertawakan semua orang selama sepuluh menit. Livia membawa rangkaian bunga yang ia susun sendiri pagi harinya, bukan bunga mahal, hanya melati, kenanga, dan sedikit daun dari taman itu sendiri.
Tidak ada panggung. Tidak ada fotografer profesional. Tidak ada wartawan, karena tidak ada yang diberi tahu.
Akira memakai gaun sederhana berwarna gading, tanpa ekor, tanpa kerudung panjang. Rambutnya digelung dan diberi satu tangkai melati oleh ibunya sendiri.
Sofia berdiri di belakang putrinya, memasang jepit terakhir dengan tangan yang sedikit bergetar. Perempuan itu sudah jauh lebih tua sekarang, jalannya lebih lambat, tetapi matanya masih matanya.
“Ma, tangan Mama dingin.”
“Namanya juga tua,” kata Sofia. “Sudah, jangan lihat Mama. Nanti Mama menangis, dan riasanmu ikut rusak.”
Di luar kamar, Albert berdiri dengan kemeja putih tanpa dasi. Ia sudah mengecek jam tangannya empat kali dalam sepuluh menit, dan Damar yang berdiri di sebelahnya akhirnya berkomentar.
“Kamu ini sudah sepuluh tahun menikah dengan orangnya.”
“Saya tahu.”
“Terus kenapa gugup?”
Albert menarik napas. “Karena dulu saya mengucapkan janji itu sambil menyembunyikan sesuatu.”
Damar tidak menjawab. Ia hanya menepuk punggung sahabatnya sekali, lalu bergeser untuk memberi jalan.
Rumput di halaman baru dipangkas kemarin, jadi baunya masih hijau dan tajam. Dari arah dapur tercium wangi kue lapis yang baru diangkat. Seekor kucing tetangga duduk santai di pagar, menonton semua persiapan itu tanpa merasa perlu pergi.
Acaranya dimulai tanpa aba-aba resmi. Seseorang memutar musik pelan dari pengeras suara kecil, dan Akira berjalan keluar melewati pintu kaca, melintasi rumput, menuju tempat Albert berdiri di bawah rangkaian lampu.
Yang hadir tidak sampai tiga puluh orang.
Sofia dan Sera duduk berdampingan di barisan depan. Dua perempuan yang selama bertahun-tahun tidak pernah bisa berada di ruangan yang sama tanpa satu di antaranya pergi lebih dulu, kini duduk berbagi satu kipas kertas karena sore itu cukup gerah. Sesekali Sera membetulkan selendang Sofia yang melorot, dan Sofia membiarkannya.
Mama Richard duduk tidak jauh dari mereka, di kursi yang sengaja diberi bantalan tambahan. Beliau hadir bukan sebagai tamu, melainkan sebagai bagian dari keluarga, dan itu bukan kalimat sopan; namanya memang tertulis di barisan keluarga pada kertas susunan acara yang dibuat Arkan.
Arkan sendiri berdiri di antara kedua orang tuanya sebagai saksi.
Anak itu memakai kemeja yang lengannya digulung, memegang selembar kertas yang sudah menguning di bagian tepinya. Salinan. Yang asli tetap tersimpan di museum, di balik kaca, dengan suhu ruangan yang dijaga.
“Sebelum janjinya diucapkan,” kata Arkan, suaranya sempat serak di kata pertama, “aku mau membacakan surat Oma.”
Tidak ada yang bersuara. Bahkan anak-anak yang tadi berlarian di sisi taman berhenti sendiri tanpa ditegur.
Arkan membaca pelan. Ia membaca bagian awal surat itu, bagian tentang seorang perempuan yang menulis kepada anak yang belum lahir, tentang dunia yang mungkin sudah membuat anak itu marah, tentang larangan membiarkan orang lain menentukan siapa dirinya.
Lalu ia sampai pada bagian penutup, bagian yang dipilih Akira untuk sore itu.
“Cinta tidak menghapus masa lalu. Cinta membuat kalian berani melihatnya tanpa takut.”
Arkan menurunkan kertasnya.
Albert tidak menangis, tetapi ia tidak sanggup bicara selama beberapa detik. Ia menatap putranya, lalu menatap perempuan di hadapannya, lalu menunduk dan mencium tangan Akira, lama, dengan kedua tangannya sendiri menangkup jemari istrinya.
“Saya tidak punya janji baru,” katanya kemudian. “Yang dulu masih belum selesai saya tepati.”
Akira tersenyum sambil matanya berkaca. “Kalau begitu aku juga tidak punya. Aku cuma mau bilang satu hal.”
“Apa?”
“Terima kasih sudah berhenti.”
Albert mengangkat wajahnya. “Berhenti dari apa?”
“Dari menghukum dirimu sendiri,” kata Akira. “Kamu tahu bagian mana yang paling lama? Bukan waktu kamu berhenti membalas dendam. Tapi waktu kamu berhenti merasa tidak pantas dicintai.”
Kalimat itu tidak akan dimengerti orang yang baru datang. Tetapi semua yang duduk di kursi-kursi kayu sore itu tahu persis artinya, dan beberapa dari mereka langsung menunduk untuk menyeka mata.
Arkan melipat kertasnya dan berdiri sedikit lebih ke samping, memberi ruang bagi kedua orang tuanya. Ia sadar kakinya gemetar sejak tadi dan berharap tidak ada yang melihat.
Setelah itu tidak ada pelaminan, tidak ada sesi foto berjam-jam. Ada nasi kotak, ada teh manis hangat dalam gelas belimbing, ada kue yang dibuat oleh ibu-ibu dari pusat bantuan dan dibawa dengan nampan bersusun.
Damar merebut pengeras suara dan hampir berpidato sebelum Livia menariknya duduk lagi. Anak-anak kembali berlarian. Sofia dan Sera bertukar cerita tentang harga cabai, dan tertawa karena keduanya sama-sama tidak pernah lagi ke pasar sejak sepuluh tahun lalu.
Arkan duduk di anak tangga teras, memegang salinan surat itu di pangkuannya, memandang orang-orang yang berkumpul di halaman rumahnya.
Ia mencoba membayangkan perempuan yang menulis surat itu. Ia tidak pernah bertemu dengannya, tidak pernah mendengar suaranya, hanya tahu wajahnya dari satu foto hitam putih di ruang tengah. Tetapi sore itu, entah bagaimana, rasanya perempuan itu sedang duduk di salah satu kursi kayu yang kosong di barisan belakang.
“Kenapa melamun?” Akira duduk di sebelahnya, menyingkirkan gaunnya supaya tidak terinjak.
“Tidak apa-apa, Ma. Cuma mikir.”
“Mikir apa?”
“Kalau Oma masih ada, kira-kira dia bakal bilang apa hari ini?”
Akira diam sebentar, lalu tersenyum. “Kira-kira dia cuma akan bilang, akhirnya.”
Malam turun pelan-pelan. Lampu-lampu kecil di antara dua pohon menyala lebih terang saat langit menggelap.
Semua orang yang hadir sore itu menyadari hal yang sama, meski tidak ada yang mengucapkannya keras-keras: perjalanan yang begitu panjang, yang menghabiskan begitu banyak tahun dan begitu banyak air mata, pada akhirnya bermuara pada sesuatu yang bentuknya sangat sederhana.
Kedamaian.