Malam itu hujan turun sebentar lalu berhenti, dan meninggalkan udara yang bersih.
Albert dan Akira duduk di balkon kamar, di dua kursi rotan yang bantalnya sudah mulai tipis. Di meja kecil di antara mereka ada dua cangkir teh, satu sudah dingin, satu masih mengepul.
Dari sana, kota terlihat seperti hamparan lampu yang tidak beraturan. Ada garis panjang berwarna kuning di kejauhan, jalan utama yang tidak pernah benar-benar sepi. Ada gedung-gedung yang jendelanya masih menyala, orang-orang yang masih bekerja pada jam ketika seharusnya sudah pulang.
Albert dulu salah satu dari mereka.
“Dingin?” tanyanya, melihat Akira menarik kedua kakinya ke atas kursi.
“Sedikit.”
Ia berdiri, masuk ke kamar, dan kembali dengan selimut tipis yang biasa tersampir di ujung ranjang. Diselimutkannya ke bahu istrinya, lalu duduk lagi.
“Kamu tidak masuk?” tanya Akira.
“Nanti. Di dalam terlalu terang.”
Mereka diam cukup lama. Dari bawah terdengar suara televisi dari ruang keluarga, samar, bercampur dengan suara Arkan yang sesekali tertawa sendiri.
“Dia sudah besar,” kata Akira tiba-tiba.
“Terlalu besar.”
“Kemarin dia bilang mau kos kalau kuliah nanti.”
“Saya dengar.” Albert menyesap tehnya. “Saya sudah siapkan jawaban penolakan yang rapi, lengkap dengan alasan keamanan.”
“Dan tidak jadi kamu pakai.”
“Tidak jadi,” akunya. “Karena saya ingat umur berapa saya waktu pergi dari rumah, dan tidak ada yang menahan saya waktu itu.”
Akira menoleh, tapi tidak mengatakan apa-apa. Kadang mendengarkan saja sudah cukup.
Ia memutar cangkirnya pelan di atas meja, membuat lingkaran basah di permukaan kayu.
“Albert.”
“Hm.”
“Apakah cinta kita masih bisa disebut dark love?”
Albert menoleh. Pertanyaan itu datang tanpa aba-aba, dengan nada setengah bercanda, tetapi ia tahu betul istrinya tidak pernah bertanya sepenuhnya bercanda.
“Kenapa tiba-tiba tanya itu?”
“Tadi sore ada wartawan menulis begitu. Di artikel tentang yayasan.” Akira mengangkat bahu. “Dia menyebut kita pasangan yang lahir dari dark love. Aku baca sambil makan, dan aku tidak tahu harus tersinggung atau tertawa.”
“Lalu kamu pilih yang mana?”
“Aku belum memilih. Makanya aku tanya kamu.”
Albert menyandarkan punggung. Ia memandang lampu-lampu kota itu cukup lama, seperti sedang mencari jawaban di antara titik-titik kecil yang berkelip.
Ia teringat laki-laki berusia dua puluhan yang duduk di kantor gelap, menyusun daftar nama dengan tangan yang sangat tenang. Ia teringat hari pertama Akira melangkah masuk ke ruangannya, dengan map di dada dan tatapan yang berusaha tidak takut. Ia teringat semua hal yang ia lakukan setelah itu, hal-hal yang tidak akan pernah bisa ia jelaskan dengan kalimat yang membuat dirinya terdengar pantas dimaafkan.
Dan ia teringat betapa lamanya perempuan di sebelahnya ini bertahan, jauh melewati batas yang seharusnya.
Albert tersenyum, kecil, agak miring.
“Dulu gelap karena dendam,” katanya. “Sekarang gelapnya hanya langit malam.”
Akira menoleh cepat. Lalu ia tertawa, tawa yang lepas, sampai bahunya berguncang dan selimut di pundaknya melorot.
“Kalimat itu dari mana?”
“Muncul begitu saja.”
“Bohong. Kamu pasti sudah menyiapkannya.”
“Saya tidak pernah menyiapkan apa pun untuk kamu,” kata Albert. “Kamu selalu bertanya di waktu yang tidak saya duga.”
Akira masih tertawa sambil menggeleng, lalu ia menggeser kursinya lebih dekat dan menyandarkan kepala di bahu suaminya. Selimut itu sekarang menutupi keduanya, tidak cukup lebar, tetapi tidak ada yang protes.
Bau tanah basah naik dari taman di bawah. Suara jangkrik terdengar dari arah pagar.
“Kalau dipikir-pikir,” gumam Akira, “kita ini pernah melewati hal-hal yang kalau diceritakan ke orang lain, mereka pasti menyuruh aku pergi.”
“Mereka benar.”
“Aku tahu mereka benar.” Akira memejamkan mata. “Tapi aku tidak pergi.”
Albert tidak menjawab. Tangannya bergerak pelan, mengusap punggung tangan istrinya, dan berhenti di sana.
“Kamu pernah menyesal?” tanyanya akhirnya, nyaris tidak terdengar.
“Sering.”
“Jujur sekali.”
“Kamu tanya, aku jawab.” Akira membuka matanya, menatap lampu-lampu kota yang sama. “Aku menyesal karena banyak tahun terbuang. Tapi tidak pernah menyesal karena tinggal. Itu dua hal berbeda, dan butuh waktu lama sampai aku bisa memisahkannya.”
Mereka memang telah melewati banyak hal.
Kebohongan yang bertumpuk sampai tidak lagi ada yang bisa membedakan mana yang asli. Ancaman yang datang dari luar dan dari dalam rumah sendiri. Kehilangan yang tidak bisa diganti dengan apa pun, tidak dengan uang, tidak dengan waktu, tidak dengan permintaan maaf. Dan kesalahpahaman yang berkali-kali hampir menghancurkan mereka justru di saat semuanya hampir membaik.
Tidak satu pun dari itu hilang. Semuanya masih ada, tersimpan di suatu tempat, kadang muncul lagi tanpa diundang di tengah percakapan biasa.
Yang berubah hanyalah satu hal: mereka memilih untuk terus bersama. Bukan sekali, bukan pada satu malam yang dramatis, melainkan berulang-ulang, pada pagi-pagi yang biasa saja, pada hari-hari ketika salah satu dari mereka sedang tidak menyenangkan.
“Pa! Ma!”
Suara Arkan naik dari lantai bawah, menembus lantai kayu.
“Ini filmnya sudah mulai! Katanya mau nonton bareng!”
Akira mengangkat kepala. “Kita memang janji, ya?”
“Kamu yang janji,” kata Albert.
“Kamu ikut mengangguk tadi.”
“Mengangguk bukan janji.”
“Di pengadilan mungkin bukan. Di rumah ini iya.”
Albert tertawa pelan, satu-satunya bentuk tawa yang ia punya, dan bangkit lebih dulu. Ia mengulurkan tangan, dan Akira menerimanya sambil menarik selimut dari pundaknya.
“Pa! Ma! Nanti ketinggalan!”
“Anak itu sudah tujuh belas tahun dan masih berteriak dari bawah tangga,” gumam Albert.
“Kamu yang mengajarinya begitu.”
“Saya tidak pernah berteriak di rumah ini.”
“Justru itu,” kata Akira sambil melipat selimut asal-asalan. “Dia tahu sekarang boleh.”
Lalu ia berbalik ke arah pintu dan berteriak, “Iya, sebentar!”
Mereka masuk ke dalam. Albert menutup pintu balkon, sempat berhenti sedetik untuk memandang lampu-lampu kota itu sekali lagi, lalu menguncinya dari dalam.
Balkon itu ditinggalkan dalam keadaan tenang. Dua cangkir teh yang belum sempat dibereskan, dua kursi rotan yang bantalnya masih cekung bekas diduduki, dan langit yang gelapnya sudah tidak berarti apa-apa lagi.
Dari bawah terdengar suara mereka bertiga; Arkan mengeluh karena tempat duduknya direbut, Akira menawarkan minum, Albert bertanya kenapa filmnya harus yang ini lagi.
Suara-suara biasa, dari rumah yang biasa, pada malam yang biasa.
Kisah itu berakhir bukan karena semua masalah mereka hilang. Masih ada perusahaan yang harus dijalankan, masih ada yayasan yang tiap tahun kekurangan dana, masih ada malam-malam ketika Albert terbangun karena mimpi yang sama dan Akira harus meyakinkannya bahwa semuanya sudah lewat.
Kisah itu berakhir karena mereka akhirnya belajar menghadapi masalah tanpa saling meninggalkan.
TAMAT.