Ide itu datang dari pelajaran di sekolah, tetapi Arkan mengerjakannya jauh melampaui yang diminta gurunya.
Tugasnya sederhana: menulis surat untuk diri sendiri di masa depan, disegel, dan dibuka lagi sepuluh tahun kemudian saat reuni angkatan. Kebanyakan temannya menulis setengah halaman berisi harapan punya mobil, punya pacar, atau tidak lagi takut pada dosen.
Arkan mengurung diri di kamarnya selama dua malam.
Akira sempat mengintip dari celah pintu pada malam kedua. Anak itu duduk di meja belajar, lampu kuning menyala, kertas-kertas gagal berserakan di lantai seperti bunga yang gugur. Ia menulis tangan, bukan mengetik. Setiap beberapa menit ia berhenti, membaca ulang, lalu meremas kertasnya dan mulai dari awal.
“Butuh teh?” tanya Akira dari pintu.
“Nanti saja, Ma.”
“Sudah jam dua belas.”
“Aku tahu. Tinggal satu bagian.”
Akira menutup pintu pelan-pelan dan tidak bertanya lagi.
Pagi harinya, di meja makan, Arkan meletakkan amplop cokelat di antara piring-piring sarapan.
“Sebelum disegel,” katanya, “aku mau kalian baca dulu.”
Albert meletakkan cangkirnya. “Itu surat untuk kamu sendiri.”
“Iya. Tapi kalau kalian yang baca, aku jadi tidak bisa berbohong.”
Albert dan Akira saling pandang. Lalu mereka membuka amplop itu dan membacanya bersama-sama, kepala berdekatan, kertas dipegang dari dua sisi.
Tulisan tangan Arkan miring ke kanan, mirip tulisan Akira, dengan huruf-huruf akhir yang dipendekkan seperti orang terburu-buru.
Isinya bukan daftar harapan.
Anak itu menulis tentang dirinya sendiri yang akan berumur dua puluh enam tahun. Ia menulis bahwa pada usia itu, kemungkinan besar ia sudah punya nama yang dikenal orang, uang yang tidak ia hasilkan sendiri, dan pintu-pintu yang terbuka hanya karena marganya. Ia menulis bahwa semua itu berbahaya.
Lalu ada satu bagian yang membuat Akira menahan napas.
“Aku berjanji tidak akan menggunakan kekuasaan untuk menyakiti orang lain. Kalau suatu hari aku merasa berhak menyakiti seseorang karena aku pernah disakiti, atau karena keluargaku pernah disakiti, tolong ingat kalimat ini: ayahku pernah begitu, dan ia butuh bertahun-tahun untuk berhenti. Aku tidak mau membuang tahun-tahunku untuk hal yang sama.”
Di bawahnya, ada satu baris lagi, ditulis lebih kecil, seperti bisikan.
“Kalau aku sudah telanjur melakukannya, jangan tunggu sampai orangnya mati untuk minta maaf.”
Albert membaca baris itu dua kali, lalu untuk ketiga kalinya, dengan pelan sekali, seperti orang yang sedang memastikan apakah kalimat tersebut memang ditujukan untuknya atau tidak. Tangannya yang memegang ujung kertas turun perlahan ke atas meja.
Ruang makan hening. Dari dapur terdengar suara air mendidih, lalu bunyi kompor dimatikan oleh asisten rumah tangga yang mengerti kapan harus tidak bersuara.
“Kamu belajar lebih cepat daripada kami,” kata Albert akhirnya.
Arkan tertawa, agak canggung karena pujian itu datang terlalu langsung. “Karena kalian sudah menceritakan semua kesalahan.”
“Kami menceritakannya supaya kamu tidak mengulanginya,” kata Akira. “Bukan supaya kamu menulis surat sebagus ini.”
“Nah, berarti berhasil.” Arkan mengambil kembali suratnya, melipatnya rapi mengikuti bekas lipatan yang sudah ada, lalu memasukkannya ke amplop.
“Kamu tidak takut membacanya lagi sepuluh tahun lagi?” tanya Akira.
“Takut,” jawab Arkan jujur. “Makanya aku tulis sekarang, waktu aku masih belum punya alasan untuk melanggarnya.”
Ia menekan amplop itu dengan telapak tangan, lalu menambahkan, “Aku juga tulis bagian tentang Oma.”
“Bagian mana?”
“Kalimatnya yang di museum. Yang bilang kita tidak boleh membiarkan orang lain menentukan siapa kita.” Anak itu menjilat tepi amplop dan menekannya. “Aku pakai itu sebagai penutup.”
Akira menunduk, berpura-pura merapikan taplak meja. Albert tidak berpura-pura apa pun; ia hanya duduk diam agak lama, dan tidak ada yang menegurnya.
Dua minggu kemudian, keluarga berkumpul di museum untuk merayakan ulang tahun yayasan.
Bangunan itu tidak besar. Dulu bekas kantor lama yang sempat mangkrak, lalu diubah menjadi ruang pamer permanen dengan lantai kayu dan dinding putih. Sore itu kursi-kursi lipat ditata di ruang tengah, ada meja panjang berisi kue dan teh, dan anak-anak dari pusat bantuan datang dengan seragam terbaik mereka.
Langit mendung tapi tidak jadi hujan, dan udara di dalam ruangan terasa sejuk tanpa perlu pendingin dinyalakan penuh.
Sofia datang lebih awal, membantu menata bunga. Sera sibuk mengatur letak papan nama. Damar dan Livia bergantian mengangkat kursi yang kurang. Arkan berdiri di dekat pintu, menyambut tamu, mengulurkan tangan satu per satu seperti sudah biasa melakukannya seumur hidup.
Yang membuat pameran tahun itu berbeda adalah dindingnya.
Foto-foto korban dan penyintas dipajang berjajar, dicetak besar, hitam putih, dengan bingkai kayu sederhana. Setiap foto disertai satu paragraf pendek yang ditulis sendiri oleh orangnya, atau oleh keluarganya kalau orangnya sudah tidak ada.
Semuanya dipajang dengan izin. Tim yayasan membutuhkan waktu hampir satu tahun penuh untuk mengumpulkan persetujuan itu, datang satu per satu ke rumah mereka, menjelaskan, dan menerima penolakan tanpa membujuk. Ada belasan foto yang akhirnya tidak jadi dipasang karena keluarganya keberatan, dan ruang kosong di dinding itu sengaja dibiarkan kosong.
“Kenapa tidak ditutup saja pakai foto lain?” tanya seorang wartawan muda kepada Akira.
“Karena mereka berhak untuk tidak dipajang,” jawab Akira. “Kami sudah cukup lama hidup di dunia yang memakai wajah orang tanpa bertanya.”
Di ujung ruangan, ada satu panel yang paling sering dibaca pengunjung. Judulnya hanya dua kata: pilihan dan akibat.
Di panel itu tidak ada satu pun foto pelaku.
Tidak ada wajah, tidak ada nama besar, tidak ada kronologi yang bisa dibaca seperti berita kriminal. Yang ada hanya rangkaian kalimat pendek tentang bagaimana sebuah keputusan kecil berubah menjadi keputusan yang lebih besar, dan bagaimana setiap keputusan itu punya harga yang dibayar orang lain.
Albert berdiri di depan panel itu cukup lama sore itu. Ia sendiri yang dulu bersikeras agar wajahnya tidak dipasang di sana.
“Bukan karena saya malu,” katanya waktu rapat, bertahun-tahun lalu. “Karena orang datang ke museum untuk mencari wajah yang bisa dibenci, lalu pulang merasa sudah selesai. Saya tidak mau mereka pulang merasa selesai.”
Beberapa pengunjung berhenti di sebelahnya, tidak tahu bahwa laki-laki bertubuh tegap yang sedang membaca itu adalah bagian dari cerita yang tidak ditulis di dinding.
Arkan menghampiri ayahnya, berdiri di sebelahnya, membaca panel yang sama.
“Papa masih setuju dengan keputusan itu?”
Albert mengangguk pelan. “Lebih setuju daripada dulu.”
Di luar, anak-anak mulai menyanyi dengan suara terlalu keras dan tempo yang kacau, dan tidak seorang pun berusaha membetulkannya.