Arkan tumbuh menjadi remaja yang cerdas dan tenang.
Tenang dalam arti yang sebenarnya, bukan pendiam. Ia tetap bisa berdebat sampai larut malam soal hal-hal kecil, tetap bisa tertawa terbahak sampai tetangga sebelah menutup jendela. Tetapi ada sesuatu di dalam dirinya yang tidak mudah goyah. Kalau sedang marah, ia diam dulu, lalu bicara setelah tahu apa yang ingin ia katakan.
Akira pernah bertanya dari mana anak itu belajar hal seperti itu. Arkan hanya menjawab, “Dari melihat kalian berdua tidak saling membentak.”
Ia mengetahui sebagian besar sejarah keluarganya. Bukan dari gosip, bukan dari artikel lama yang masih bisa dicari di internet, melainkan dari Albert dan Akira sendiri. Mereka memutuskan hal itu sejak Arkan masih kecil: apa pun yang ia dengar dari luar, versi keluarganya harus sudah lebih dulu ia dengar dari dalam.
Sebagian cerita itu tidak enak didengar. Tentang seorang perempuan yang memilih mengakhiri hidupnya dan meninggalkan luka yang diwariskan bertahun-tahun. Tentang seorang laki-laki muda yang memelihara luka itu sampai menjadi rencana, dan menjalankan rencananya pada orang yang tidak bersalah. Tentang seorang perempuan lain yang dihancurkan lebih dulu, sebelum akhirnya keduanya belajar berdiri berdampingan.
Arkan mendengar semuanya. Tetapi ia tidak pernah merasa terbebani.
“Itu cerita kalian,” katanya suatu kali, saat masih empat belas tahun. “Bukan hukuman untuk aku.”
Albert sempat terdiam lama mendengar kalimat itu.
Menjelang usia enam belas, Arkan punya dua kebiasaan yang bertahan hampir setiap minggu. Yang pertama, duduk di ruang kerja Albert sepulang sekolah, kadang hanya untuk mengerjakan tugas di sofa sambil sesekali bertanya.
“Pa, kenapa perusahaan kita tidak ambil proyek yang di pelabuhan itu?”
Albert menurunkan kacamata bacanya. “Kamu baca laporan saya?”
“Ada di meja. Terbuka.”
“Berarti salah saya.” Albert menutup map itu, tapi tidak menyingkirkannya. “Karena mitranya menggusur dua kampung dan menyebutnya relokasi.”
“Tapi angkanya besar.”
“Angkanya memang besar,” kata Albert. “Dulu saya akan ambil. Waktu itu saya pikir menang berarti tidak boleh berhenti di pertimbangan apa pun.”
Arkan menutup bukunya. “Dan sekarang?”
“Sekarang saya tahu ada kemenangan yang harganya dibayar orang lain, dan orang itu tidak pernah diberi tahu berapa harganya.”
Anak itu mengangguk pelan, seperti sedang menyimpan kalimat tadi di tempat yang akan mudah ia temukan lagi.
“Kalau semua orang berpikir begitu, perusahaan bisa rugi, Pa.”
“Bisa,” aku Albert. “Tahun lalu kita memang rugi di satu lini. Tapi tidak ada satu pun orang yang kehilangan rumahnya karena keputusan saya.” Ia menyandarkan punggung ke kursi. “Kamu boleh tidak setuju. Saya lebih suka kamu bertanya daripada kamu ikut saja.”
“Aku tidak tidak setuju,” kata Arkan. “Aku cuma ingin tahu kapan Papa berubah pikiran.”
Albert menatap putranya lama sekali. “Waktu saya sadar orang yang paling saya sakiti ternyata satu-satunya orang yang mau tinggal.”
Kebiasaan keduanya, ikut Akira setiap akhir pekan ke pusat bantuan. Awalnya hanya mengantar, lalu menunggu, lalu tanpa sadar sudah memegang daftar hadir dan mengatur giliran anak-anak masuk ke ruang baca.
Anak-anak di sana memanggilnya Kak Arkan, dan beberapa dari mereka sudah lebih dulu mengenal namanya daripada nama ayahnya.
Di mobil, dalam perjalanan pulang, mereka biasanya membahas hal-hal yang tidak dibahas orang lain: kenapa ada anak yang selalu datang paling pagi tetapi tidak pernah mau pulang, kenapa ada ibu yang mendaftarkan anaknya dengan nama berbeda dari akta, kenapa bantuan makanan lebih mudah dicari daripada bantuan pendampingan.
“Ma,” kata Arkan sore itu, sambil memandangi jalan yang basah oleh gerimis. “Aku ingin membuat program bantuan untuk anak-anak yang tidak memiliki keluarga.”
Akira menoleh sebentar dari kemudi. “Yang di panti sudah ada programnya.”
“Bukan yang di panti saja.” Arkan menegakkan punggung. “Yang masih punya rumah, tapi rumahnya kosong. Yang orang tuanya ada, tapi tidak pernah ada. Di kelasku ada tiga orang seperti itu, Ma. Mereka tidak masuk kategori mana pun, jadi tidak ada yang mengurus.”
Akira memperlambat laju mobil, lalu menepi di bahu jalan dan mematikan mesin. Gerimis mengetuk kaca depan, pelan dan teratur.
“Kamu sudah memikirkan ini berapa lama?”
“Setahun, mungkin.”
“Kenapa baru bilang sekarang?”
Arkan mengangkat bahu. “Aku takut kalian pikir aku cuma ikut-ikutan.”
Akira tersenyum bangga, dan ada haru yang tertahan di balik senyum itu. Ia memutar tubuh menghadap putranya.
“Arkan, dengarkan Mama baik-baik.” Ia menunggu sampai anak itu benar-benar menatapnya. “Kamu tidak harus mengikuti pekerjaan kami.”
“Aku tahu.”
“Mama serius. Kamu boleh jadi apa saja. Guru, musisi, orang yang buka kedai kopi dan tidak pernah muncul di berita. Yayasan itu bukan warisan yang wajib kamu pikul. Papa dan Mama membangunnya untuk menebus sesuatu; kamu tidak punya apa-apa yang perlu ditebus.”
Arkan diam sebentar, mendengarkan suara gerimis.
“Aku tahu,” katanya lagi, kali ini lebih pelan. “Tapi aku ingin melanjutkan apa yang sudah kalian mulai.”
“Kenapa?”
“Karena aku pernah lihat wajah anak-anak itu waktu ruang bacanya buka lebih lama satu jam.” Arkan menatap ibunya lurus-lurus. “Bukan karena aku merasa berutang, Ma. Karena aku mau.”
Akira tidak bisa bicara untuk beberapa detik. Ia hanya mengulurkan tangan dan merapikan kerah seragam anaknya, alasan yang selalu dipakai ibu-ibu untuk menyembunyikan mata yang memanas.
Malam itu, cerita tersebut sampai juga ke telinga Albert.
Mereka bertiga duduk di meja makan, piring sudah kosong tapi tidak ada yang beranjak. Arkan mengulang gagasannya, kali ini lebih rapi, lengkap dengan hitungan kasar yang ditulis di belakang buku tulis.
Albert mendengarkan tanpa memotong satu kali pun. Setelah selesai, ia bangkit, berjalan memutari meja, dan menepuk bahu putranya.
“Bagus,” katanya singkat. Tangannya tetap di sana beberapa saat lebih lama dari yang diperlukan.
Arkan mendongak. “Cuma itu?”
“Cuma itu. Sisanya kamu kerjakan sendiri, dan kamu datang ke saya kalau macet.”
Anak itu tertawa dan kembali menunduk ke hitungannya.
Albert berjalan ke jendela, memandang taman yang gelap dan lampu-lampu kecil di sepanjang jalan setapaknya. Di usia yang hampir sama dengan Arkan sekarang, ia juga duduk di meja dengan kertas penuh hitungan. Bedanya, yang ia hitung waktu itu bukan berapa anak yang bisa dibantu, melainkan berapa lama waktu yang ia butuhkan untuk menghancurkan sebuah keluarga.
Ia teringat anak laki-laki yang duduk di kamar gelap, membaca berita kematian ibunya berulang-ulang sampai hafal, lalu memutuskan bahwa dunia berutang kepadanya.
Di belakangnya, Arkan sedang berdebat kecil dengan Akira soal nama program yang kedengarannya terlalu formal.
Albert memejamkan mata sebentar, dan bersyukur, dengan rasa syukur yang nyaris menyakitkan, bahwa putranya tumbuh tanpa dendam.