Sepuluh tahun bukan waktu yang pendek, tetapi pagi itu terasa seperti satu tarikan napas panjang yang akhirnya boleh dilepaskan.
Albert dan Akira berdiri di depan gedung pusat bantuan yang kini sudah menjadi sekolah besar. Dulu bangunan itu hanya dua lantai dengan cat mengelupas di sisi belakang, pagar besi yang berderit setiap kali didorong, dan halaman yang lebih banyak ditumbuhi rumput liar daripada rumput hidup. Sekarang ada tiga blok kelas, lapangan kecil berlantai karet merah, dan pohon-pohon ketapang yang ditanam pada tahun pertama sudah cukup rimbun untuk meneduhkan barisan sepeda anak-anak.
Udara pagi masih menyimpan sisa embun. Dari dalam kelas terdengar suara anak-anak mengeja bersama, tidak rapi, saling mendahului, sesekali pecah menjadi tawa yang langsung ditertibkan seorang guru.
“Kamu ingat tempat ini dulu seperti apa?” tanya Akira.
“Ingat,” jawab Albert. “Atapnya bocor di tiga titik. Saya pikir kita harus membongkarnya.”
“Dan aku bilang jangan.”
“Kamu bilang bangunan ini sudah menampung terlalu banyak orang untuk dirobohkan begitu saja.” Albert menoleh, sudut matanya berkerut. “Saya masih tidak mengerti bagaimana kamu bisa berdebat dengan arsitek dan menang.”
Akira tertawa kecil. “Aku tidak menang. Aku cuma tidak berhenti bicara.”
Mereka melangkah masuk lewat gerbang samping. Seorang penjaga sekolah mengangguk hormat, lalu kembali menyapu daun ketapang yang gugur semalam. Bau kapur, bau kayu meja yang baru diamplas, dan bau nasi bungkus dari kantin bercampur jadi satu.
Di aula terbuka, program anak-anak sudah dimulai. Arkan berdiri di tengah lingkaran, membagikan kartu bergambar, sementara Damar berjongkok di ujung lain sambil membetulkan simpul tali yang akan dipakai untuk permainan.
“Yang pegang kartu hewan berdiri di sebelah kanan,” kata Arkan. “Yang pegang kartu huruf di kiri. Jangan ada yang menukar diam-diam, ya. Saya lihat, lho.”
Seorang anak perempuan bergigi ompong langsung mengangkat tangan. “Kak Arkan, aku dapat dua.”
“Berarti kamu harus berdiri di tengah.”
Anak itu tertawa senang, seolah berdiri di tengah adalah hadiah.
Damar mendekat sambil menyeka keringat di pelipis. “Anak-anak ini lebih cepat daripada yang kemarin.”
“Karena kamu yang kemarin kebanyakan menjelaskan aturan,” balas Arkan.
“Saya guru olahraga, bukan guru pidato.”
“Kemarin Om pidato dua puluh menit.”
Damar mengacak rambut Arkan, dan anak itu mengelak sambil tertawa, lalu kembali ke lingkarannya.
Akira berhenti di tepi aula. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat Albert sudah berpindah ke barisan anak-anak yang lebih kecil. Laki-laki itu jongkok agar tingginya sejajar dengan mereka, mendengarkan seorang anak laki-laki menceritakan sesuatu dengan sangat serius, lalu mengangguk seperti sedang menerima laporan keuangan paling penting sepanjang tahun.
“Jadi bukumu hilang di angkot?” tanya Albert.
“Iya, Om. Tapi bukan aku yang menghilangkan. Adikku.”
“Baik. Berarti kita perlu dua buku. Satu untuk kamu, satu untuk adikmu, supaya tidak ada yang saling menyalahkan lagi.”
Anak itu terdiam, seperti sedang memeriksa apakah jawabannya benar-benar diterima. Lalu wajahnya melebar oleh senyum.
Akira menonton semua itu tanpa bersuara. Ada sesuatu di dadanya yang terasa hangat dan sedikit sesak sekaligus. Ia teringat laki-laki yang dulu tidak pernah menunduk untuk siapa pun, yang menganggap kelembutan sebagai celah yang bisa dipakai orang lain untuk melukainya.
Albert mengeluarkan buku catatan kecil dari saku dan menuliskan nama anak itu. Kebiasaan lama dari ruang rapat, dipakai untuk hal yang sama sekali berbeda. Dulu buku itu penuh nama orang yang harus ia jatuhkan; sekarang penuh nama anak-anak yang bukunya hilang di angkot.
Albert berdiri dan berjalan menghampirinya. “Kenapa senyum-senyum?”
“Kamu menjadi ayah yang baik,” katanya.
“Karena kamu mengajarkan saya.”
“Aku tidak mengajarkan apa pun.”
“Kamu mengajarkan dengan cara tidak menyerah,” kata Albert. “Itu pelajaran paling sulit yang pernah saya terima.”
Akira tidak menjawab. Ia hanya menggenggam tangan suaminya, dan mereka berdiri di sana beberapa saat lagi, mendengarkan anak-anak mengeja nama-nama hewan dengan suara terlalu keras.
Menjelang siang mereka kembali ke rumah. Taman di belakang rumah sudah kehilangan bentuk rapinya sejak Arkan kecil; ada bekas gawang, ada petak tanah yang selalu becek karena dijadikan tempat menyiram tanaman, dan ada meja kayu panjang yang catnya memudar oleh hujan bertahun-tahun.
Di atas meja itu, kotak musik lama masih tersimpan. Kayunya sudah menggelap, engselnya berbunyi setiap kali dibuka, dan salah satu sudutnya penyok karena pernah jatuh.
Albert membuka tutupnya.
Lagu lama itu terdengar, pelan, sedikit sumbang di nada ketiga, persis seperti bertahun-tahun lalu. Akira memejamkan mata sebentar, lalu menyandarkan kepala di bahu suaminya.
“Nadanya makin fals,” gumamnya.
“Saya tahu. Tukang servis bilang bisa diganti seluruh mekanismenya.”
“Jangan.”
“Saya juga bilang jangan.”
Angin siang menggerakkan daun-daun di atas mereka. Dari dalam rumah terdengar suara pintu kulkas dibuka, lalu ditutup lagi terlalu keras. Akira tahu itu Arkan, mencari es batu seperti biasa, dan tahu pula bahwa sebentar lagi akan ada gelas yang tertinggal di wastafel tanpa dicuci.
Ia tidak bangkit untuk menegur. Hari ini tidak. Hari ini ia ingin duduk saja, mendengarkan kotak musik tua yang keras kepala itu menyelesaikan baitnya sendiri.
“Akira,” kata Albert setelah lama diam. “Apakah kamu bahagia?”
Akira tidak langsung menjawab. Ia mengangkat kepala, menatap wajah laki-laki itu; garis-garis halus di sudut matanya, uban tipis di pelipis, dan tatapan yang dulu selalu ia takuti.
“Aku bahagia karena kita memilih untuk tetap bersama setiap hari,” katanya. “Bukan karena satu janji sepuluh tahun lalu. Tapi karena setiap pagi kita memilih lagi.”
Albert menunduk dan mencium keningnya, lama, seperti orang yang sedang menyimpan sesuatu supaya tidak hilang.
Tidak ada lagi ancaman yang datang lewat telepon tengah malam. Tidak ada lagi rekening rahasia yang harus dijaga dari mata orang lain. Tidak ada lagi nama yang harus ditakuti setiap kali disebut di ruang rapat.
Masa lalu tetap ada. Ia tersimpan di museum keluarga, di surat yang ditulis seorang perempuan untuk anak yang belum lahir, di foto-foto yang akhirnya berani mereka pajang. Masa lalu tetap menjadi bagian dari mereka, tetapi ia tidak lagi memegang kendali atas masa depan.
“Mama! Papa!”
Suara Arkan datang dari ujung taman. Anak itu berdiri di dekat pohon jambu, melambai dengan kedua tangan, sementara di dekat kakinya ada selang air yang sudah menyemprot ke arah yang salah.
“Sini, cepat! Aku butuh dua orang lagi!”
“Untuk apa?” teriak Akira.
“Nanti juga tahu!”
Albert menutup kotak musik. Lagu itu berhenti di tengah bait, dan entah kenapa, tidak ada dari mereka yang merasa perlu menyelesaikannya.
Mereka berjalan menghampiri putra mereka sambil berpegangan tangan, menyusuri rumput yang basah di beberapa bagian, melewati bekas gawang yang tak pernah dirobohkan.
Kisah mereka tidak sempurna. Ada tahun-tahun yang tidak akan pernah bisa mereka perbaiki, ada luka yang bekasnya tetap terasa saat cuaca berubah.
Tetapi justru itulah yang membuatnya nyata.