Surat itu sampai tiga hari setelah mereka pulang dari pantai, ketika koper-koper masih berdiri di ruang tengah dan pasir masih ditemukan di sudut-sudut lantai.
Livia yang mengantarnya sendiri, pagi-pagi, dengan sarung tangan katun dan amplop plastik bening di tangannya.
"Ini ditemukan waktu kami memindahkan arsip sekolah lama," katanya. "Terselip di dalam map absensi tahun itu. Tidak ada yang membukanya. Namanya ada di depan."
Albert menerima surat terakhir dari ibunya di meja makan, dengan tangan yang tiba-tiba terasa milik orang lain.
Amplopnya sudah menguning. Di bagian depan tertulis satu baris dengan tinta yang sudah memudar jadi cokelat: Untuk anakku, kalau nanti kamu sudah bisa membaca.
"Tanggalnya kapan?" tanya Akira pelan.
Livia menyebutkan tanggalnya.
Albert menghitung di kepalanya, dan begitu hitungannya selesai, ia harus meletakkan amplop itu sebentar.
Surat itu ditulis sebelum kematiannya, tiga minggu sebelumnya, ketika Albert masih bayi dan belum bisa duduk sendiri. Ditujukan kepada anak yang belum lahir sebagai orang dewasa, oleh perempuan yang tahu ia mungkin tidak akan sempat menunggu anak itu tumbuh.
"Kenapa disimpan di map absensi?" tanya Akira.
"Kami menduga dia menitipkannya ke sekolah," jawab Livia. "Rumahnya waktu itu tidak aman. Semua surat yang masuk ke rumah dibaca orang lain dulu sebelum sampai."
"Jadi dia sengaja."
"Sengaja. Cuma dia tidak sempat memberi tahu siapa yang harus mengambilnya."
"Kamu mau sendiri?" tanya Akira.
"Tidak." Albert menggeleng cepat. "Jangan pergi."
Kertasnya dua lembar. Tulisannya rapi di awal, makin miring di akhir, seperti ditulis dalam satu duduk yang panjang.
Ia membacanya pelan-pelan.
Akira menggeser kursinya ke sebelah Albert supaya bisa ikut membaca, tetapi ia tidak menyentuh kertasnya sama sekali.
Ada bagian tentang hal-hal kecil: bahwa ibunya suka menyanyikan satu lagu yang ia karang sendiri karena tidak hafal lagu anak-anak mana pun. Bahwa Albert kecil selalu menangis kalau lampu dimatikan. Bahwa ayahnya, yang waktu itu masih hidup, punya kebiasaan membawa pulang koran dua hari sekali dan tidak pernah membacanya.
Lalu bagian yang membuat Albert berhenti.
"Jika kamu membaca ini, mungkin dunia sudah membuatmu marah. Jangan biarkan orang lain menentukan siapa dirimu."
Ia membaca kalimat itu, lalu membacanya lagi, lalu meletakkan kertasnya di meja dan menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Albert menangis saat membacanya.
Bukan tangis yang rapi. Bahunya berguncang, napasnya tersendat, dan suara yang keluar adalah suara yang belum pernah didengar Akira selama bertahun-tahun mereka bersama, bahkan pada malam-malam terburuk dulu.
Livia berdiri pelan dan keluar tanpa berpamitan, menutup pintu dengan sangat hati-hati.
Akira tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya menarik kursinya lebih dekat, melingkarkan lengannya di punggung suaminya, dan menunggu.
Di luar terdengar suara Arkan yang pulang sekolah, berteriak memanggil dari gerbang, lalu suara Sofia yang menahannya di dapur dengan tawaran es teh. Perempuan itu selalu tahu kapan harus menahan cucunya tanpa perlu diberi tahu.
Butuh waktu lama sampai Albert bisa bicara lagi.
"Dia sudah tahu," katanya serak. "Tiga minggu sebelum dia meninggal, dia sudah tahu dunia akan membuat saya marah. Dan dia menulis surat supaya saya tidak jadi orang yang seperti itu."
"Dia benar," kata Akira.
"Dia benar, dan suratnya tersimpan di map absensi selama tiga puluh sembilan tahun." Albert tertawa satu kali, pendek dan pahit. "Kalau surat ini sampai waktu saya umur dua puluh, saya tidak akan pernah menyentuh kamu. Kamu tidak akan pernah kehilangan apa-apa."
"Kamu tidak bisa tahu itu."
"Saya tahu. Itu yang paling menyiksa."
Akira memeluknya, kali ini dengan kedua tangan, dan membiarkan kepala laki-laki itu bersandar di bahunya.
"Kamu boleh menangis," katanya. "Kamu tidak harus selalu kuat."
"Anak saya bisa masuk."
"Biar masuk. Dia harus tahu ayahnya manusia."
Albert menyadari sesuatu ketika ia membaca surat itu untuk kedua kalinya malam harinya, sendirian, di ruang kerja dengan lampu meja yang dinyalakan setengah.
Di lembar kedua, ibunya menulis tentang rumah yang ia harapkan. Tentang meja makan yang penuh, tentang orang-orang yang boleh berbeda pendapat tanpa takut, tentang anak-anak yang tidak perlu menghafal daftar orang yang harus dibenci.
Perempuan itu tidak sedang menulis untuk seorang anak laki-laki saja. Ia menulis untuk sebuah keluarga yang bahkan belum ada bentuknya, yang mungkin tidak akan pernah ada, dan tetap ia tuliskan.
Ia menyadari ibunya menulis surat itu bukan hanya untuknya, tetapi juga untuk keluarga yang belum ia miliki.
Albert membaca surat tersebut kepada Arkan keesokan sorenya.
Mereka duduk di beranda belakang, tempat yang sama ketika Albert dulu meminta Akira menikah untuk kedua kalinya. Anak itu duduk bersila, tangannya memegang lutut, dan sejak kalimat pertama ia tidak bergerak.
"Ini dari Nenek yang mana?"
"Nenek yang fotonya sedikit."
"Yang sudah meninggal waktu Papa kecil?"
"Iya."
"Kenapa dia nulis surat, tidak ngomong saja?"
"Karena dia tidak sempat menunggu Papa besar."
"Dia tahu tidak sempat?"
Albert diam sebentar. "Papa rasa dia tahu."
Arkan mengangguk pelan, seperti sedang menyimpan jawaban itu di tempat yang akan ia buka lagi bertahun-tahun kemudian.
Albert membacanya pelan, berhenti di setiap paragraf, menjelaskan kata-kata yang terlalu dewasa dengan kata-kata yang lebih sederhana.
Anak itu belum memahami seluruh isinya. Ia tidak tahu apa artinya dunia membuat seseorang marah. Ia tidak tahu kenapa ayahnya berhenti dua kali di tengah kalimat.
Tetapi ia mendengarkan dengan serius, dengan cara anak-anak mendengarkan ketika mereka tahu sesuatu yang penting sedang terjadi meskipun tidak mengerti apa.
Ketika selesai, Arkan mengambil surat itu dan memandanginya lama.
"Tulisannya mirip tulisan Papa."
Albert menatap kertas itu. Huruf-huruf yang miring ke kanan, huruf a yang bagian atasnya tidak pernah tertutup rapat.
"Iya," katanya, suaranya nyaris tidak terdengar. "Mirip."
Malam itu Akira menemukan suaminya berdiri di depan kamar Arkan yang sudah tidur, tidak masuk, hanya berdiri.
"Kenapa tidak masuk?"
"Saya cuma memastikan."
"Memastikan apa?"
"Bahwa dia tidak perlu menunggu surat."
Mereka menyimpan surat itu di museum keluarga bersama dokumen lain, di lemari kaca paling ujung, di ruangan yang dulunya kamar terkunci di balik perpustakaan.
Keterangan di bawahnya ditulis pendek saja, atas permintaan Albert sendiri.
Surat dari seorang ibu kepada anaknya. Tidak pernah sampai selama tiga puluh sembilan tahun.